Sirah Nabawiyah
Sirah Nabawiyah
Khulafaur Rasyidin
Khulafaur Rasyidin
Daulah Umawiyyah
Daulah Umawiyyah
Daulah Abbasiyah
Daulah Abbasiyah
Daulah Utsmaniyah
Daulah Utsmaniyah
Andalusia
Andalusia
Manzikert – Perang Manzikert
Manzikert – Perang Manzikert
Nasabnya Beliau adalah Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu’ai, Abu Hafs al-’Adawi. Julukan beliau adalah al-Faruq. Ada yang menyebutkan bahwa gelar itu berasal dari Ahli Kitab.1 Adapun ibunya bernama Hantamah binti Hisyam
Pengantar Kisah ini hanya bisa diketahui melalui wahyu, karena ia berbicara tentang pertemuan yang tidak disaksikan oleh manusia. Pertemuan Adam dengan Musa. Pertemuan ini terwujud atas dasar permintaan dari Musa. Kita tidak tahu bagaimana hal ini terwujud, akan tetapi kita yakin bahwa ia terjadi karena berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Malaikat Menaungi Abdullah bin Haram dengan Sayap-sayapnya Jabir berkata, “Ketika ayahku terbunuh dalam perang Uhud, aku membuka wajah ayahku lalu aku menangis. Para sahabat melarangku menangis, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak berkomentar atas tangisanku itu. Bibiku juga menangisi kematian ayahku. Pada saat itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
Abu Ishaq as-Subai’iy berkata, “Masa kuatku untuk mengerjakan shalat telah berlalu -–ungkapan ini dikatakan ketika ia sudah tua, badannya lemah dan tulang-tulangnya keropos–. Kini, aku hanyalah seorang kakek yang sudah renta. Sekarang, di dalam shalat, aku hanya mampu membaca surat al-Baqarah dan Ali Imran!” Sungguh, Abu Ishaq -–semoga Allah merahmatinya—-
Dari Humaid bin Hilal, dari seorang pria, dia mengatakan: “Saya datang kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, kemudian beliau memperlihatkan kepada saya sebuah rumah, seraya berkata, ‘Ada seorang wanita yang dulu tinggal di sini, kemudian ikut berperang bersama kaum muslimin. Dia meninggalkan 12 ekor kambing dan sebuah alat tenun. Sepulangnya
Diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abi Ibad Al-Makki, dia berkata, “Seorang syekh yang dijuluki ‘Abu Abdillah’ mendatangi kami. Dia berkata, ‘Pada waktu sahur, aku pergi ke sumur Zamzam. Di tempat ini aku bertemu dengan seorang syekh yang membiarkan kainnya menutupi wajahnya. Dia datang ke sumur dan minta diambilkan air. Kemudian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat berharga kepada segenap pemuda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Kami pernah bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kelompok pemuda yang tidak mempunyai apa-apa.” Beliau bersabda, “Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu maka menikahlah,
Al Imam Al Bukhari Rahimahullah dalam kitab Al-ljarah (IV/449) berkata, “Kami mendapatkan cerita dari Abul Yaman, dari Syu’aib, dari Az-Zuhri, dari Salim bin Abdullah bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Tiga orang dari umat sebelum kamu berjalan dan mereka
Pengantar Kisah ini menjelaskan bagaimana Allah menjaga Sarah, isteri Ibrahim, ketika seorang thaghut(musuh Allah) hendak menodai kesuciannya dan merampas kehormatannya. Ibrahim berlindung kepada Allah, berdoa, dan shalat kepada-Nya, dan Sarah berdoa memohon perlindungan Allah. Maka Allah menjadikan si fajir(pelaku maksiat) tidak berdaya dan menggagalkan makarnya (berupa siksaan) di lehernya. Allah
INFAK THALHAH DI JALAN ALLAH Dari Qabishah bin Jabir rahimahullah, ia berkata, “Aku pernah menyertai Thalhah. Aku tidak pernah melihat orang yang mudah memberikan harta melimpah tanpa diminta melebihi dirinya.”[25] Dari Musa bin Thalhah, dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu bahwa dia mendapatkan harta dari Hadramaut sebanyak tujuh ratus ribu, maka di
Mari kita renungkan kisah shahih berikut ini, semoga menjadi “ibroh” (pelajaran) bagi kita semua, khususnya bagi para pemimpin kaum muslimin… Suatu hari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu melakukan inspeksi ke salah satu wilayah di daerah Himsh, untuk mengetahui keadaan rakyatnya di sana & Gubernurnya yang bernama Sa’id bin ‘Amir al-Jumahi.
Pengantar Kisah ini memberitakan kepada kita tentang saat-saat terakhir kehidupan bapak kita Adam dan keadaannya pada saat sakaratul maut. Para malaikat memandikannya, memberinya wangi-wangian, mengkafaninya, menggali kuburnya, menshalatkannya, menguburkannya, dan menimbunnya dengan tanah. Mereka melakukan hal itu untuk memberikan pengajaran kepada anak cucu sesudahnya, tentang bagaimana cara menangani orang mati.