Kisah orang-orang di dalam goa
Kisah Orang-Orang Di Dalam Goa

Al Imam Al Bukhari Rahimahullah dalam kitab Al-ljarah (IV/449) berkata, “Kami mendapatkan cerita dari Abul Yaman, dari Syu’aib, dari Az-Zuhri, dari Salim bin Abdullah bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“Tiga orang dari umat sebelum kamu berjalan dan mereka masuk pada sebuah gua. Tiba-tiba menggelincir batu besar yang ada di atas gunung membuat pintu gua tersebut tertutup atas mereka. Sebagian dari mereka berkata ·kepada sebagian yang lain, “Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini, kecuali kalian berdo’a kepada Allah (dengan perantaraan) amal shalih kalian. Lalu orang yang pertama berdo’a, “Ya Allah, Engkau tentu tahu bahwa aku dahulu pernah mempunyai dua orang tua yang sudah cukup renta. Aku biasa mendatangi mereka setiap malam dengan membawa susu kambingku. Pada suatu malam aku terlambat datang, aku datang sewaktu keduanya sudah tidur, sedangkan istri dan keluargaku mengeluh kelaparan. Aku tidak memberi minum kepada mereka sebelum ke­dua orang tua itu. Aku tidak mau membangunkan dan juga meninggalkan mereka. Dengan setia aku menunggui mereka hingga terbit fajar. Ya Allah, jika menurut Engkau apa yang kulakukan itu demi mengharap ridha-Mu, tolong berikan jalan keluar dari kesulitan kami ini’. Lalu, batu besar itu tergeser sedikit, namun mereka belum dapat keluar.

Orang yang kedua berdo’a, “Ya Allah, Engkau tentu mengetahui bahwa dahulu aku pernah mempunyai seorang saudara sepupu perempuan anak pamanku, dan ia adalah orang yang paling kucintai, aku membujuk dan merayunya agar mau kusetubuhi, akan tetapi ia menolak, hingga beberapa tahun berlalu ia datang kepadaku lalu kuberikan kepadanya 120 dinar agar ia mau menyerahkan dirinya kepadaku. Lalu ia menyetujui. Ketika aku hendak menyetubuhinya ia berkata, ‘Tidak halal bagimu untuk mengambil keperawanan kecuali dengan haknya.’ Maka aku merasa keberatan untuk melaku­kannya, kemudian aku meninggalkannya, padahal ia sangat kucintai. Dan kutinggalkan emas kepadanya, Ya Allah, jika yang kulakukan ini demi meng­harapkan ridha-Mu, tolong berikan jalan keluar dari kesulitan kami ini, akhirnya batu itu tergeser, namun mereka masih belum bisa keluar dari gua.

Orang yang ketiga pun berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya saya pernah mempekerjakan beberapa pegawai dan kuberikan mereka semua upahnya, selain satu orang yang belum mendapatkan upah, lalu pergi. Kemudian kukembangkan upahnya hingga pada suatu hari ia datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai hamba Allah, tunaikanlah upahku. Lalu aku menjawab, ‘Semua yang kamu lihat dari onta, sapi, kambing, dan budak adalah upahmu.’ Lalu ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, janganlah engkau mengejekku ‘, lalu aku menjawab, ‘Aku tidak mengejekmu’, kemudian ia mengambil seluruhnya dan ia tidak menyisakan sedikitpun darinya.’

Lalu ia berdo’a, ‘Ya Allah jika yang kulakukan itu demi mengharap ridha-Mu, tolong beri jalan keluar dari kesulitan kami ini,’ lalu batu tersebut bergeser dan membuka pintu gua, kemudian mereka keluar dan berjalan.” [Diriwayatkan Muslim dalam Syarah An-Nawawi (XVIV55)]

Imam Ahmad Rahimahullah (IIl/142) berkata, “Kami mendapatkan cerita dari Yahya bin Hammad, dari Abu Awanah, dari Qatadah, dari Anas, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa SaLlam, ‘Sesungguhnya ada tiga orang pada zaman dahulu pergi untuk mengunjungi keluarga mereka. Ketika turun hujan, mereka masuk ke sebuah gua untuk berteduh. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh melintang sehingga mereka tidak bisa melihat apa-apa. Seorang dari mereka berkata kepada teman-temannya, ‘Sebuah batu besar jatuh dan menghilangkan jejak. Tidak ada yang tahu posisi kalian kecuali Allah saja, maka berdoalah kalian kepada Allah dengan mengingat amal-amal shalih yang pernah kalian lakukan’.

Salah seorang mereka berdoa, ‘Ya Allah, Engkau pasti tahu tentang kedua orang tuaku. Pada suatu hari setelah memerahkan susu di bejana mereka, lalu aku membawanya kepada mereka. Karena mendapatinya sedang tidur, aku hanya berdiri di dekat kepala mereka karena tidak ingin meng­ganggu. Aku tunggu sampai kapan pun mereka bangun. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa apa yang kulakukan itu demi mengharap rahmat-Mu dan takut akan siksa-Mu, tolong berikan jalan keluar dari kesulitan kami ini’.

Sepertiga batu mulai bergeser.

Yang lain berdoa, ‘Ya Allah, Engkau pasti tahu bahwa aku pemah mempekerjakan seorang pekerja atas suatu pekerjaan. Ketika selesai bekerja, lalu ia datang kepadaku untuk meminta upahnya, aku malah marah. Bahkan, aku bentak dia. Lalu, dia meninggalkan upahnya. Akan tetapi, aku simpan upahnya itu dan kukembangkan sehingga menjadi sangat banyak. Pada suatu hari ia datang kembali menemuiku untuk meminta upahnya yang dahulu. Kemudian, kuberikan semuanya, meskipun sebenarnya aku bisa hanya mem­berikan upahnya yang dahulu saja. Ya Allah, jika Engkau tahu apa yang kulakukan itu demi mengharap ridha-Mu dan takut akan siksa-Mu, tolong berikan jalan keluar dari kesulitan kami ini’.

Dua pertiga batu itu bergeser.

Orang yang ketiga pun berdoa, ‘Ya Allah, Engkau pasti tahu dahulu aku pernah tertarik kepada seorang wanita. Ia memasang tarif untuk bisa menyentuhnya. Aku berusaha untuk mendapatkannya. Setelah berhasil dan ia sudah menyerahkan dirinya kepadaku, tiba tiba ia mengingatkanku atas per buatanku yang terkutuk itu. Ya Allah, jika Engkau tahu apa yang kulakukan itu adalah demi mengharap ridha-Mu dan takut akan siksa-Mu, tolong berikan jalan keluar dari kesulitan kami ini’.

Maka, batu tersebut seluruhnya bergeser. Kemudian, mereka keluar dan berjalan sambil saling berangkulan’.”

Abu Ubaid’ bin Abdullah berkata, “Kami mendapatkan cerita dari Abu Bahr, dari Abu Awanah, dari Qatadah, dari Anas, lalu ia menyebutkan riwayat di atas.”

Tokoh-tokoh hadits ini adalah para perawi hadits shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam kitab Ad-Du’a (11/868). Kata­ nya, “Kami mendapatkan riwayat dari Mu’adz bin Al-Mutsanna, dari Musaddad, dari Abu Awanah. Menurut Al-Hafizh lbnu Hajar dalam kitab Al-Fathu (VI/5 10), isnad hadits ini shahih.”

Comments
All comments.
Comments