Fitnah yang mereka munculkan disini adalah berbagai macam pemikiran yang menyimpang yang dikembangkan dan dijadikan sebagai peluang emas oleh musuh-musuh Islam, baik kalangan kaum Sabaiyyah maupun yang lainnya. Dengan itu mereka membesarkan api fitnah dan peperangan di dalam tubuh daulah Islam ini. Kelompok-kelompok yang paling berperan adalah:
1. Syi’ah (Rafidhah)
Arti kata syi’ah yang berasal dari kata syaaya’a adalah mencintai dan menolong. Kelompok ini mengaku bahwa mereka mencintai dan menolong keluarga Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, yang mereka maksudkan adalah `Ali radhiyallahu ‘anhu dan keturunannya yang disebut-sebut di kalangan mereka dengan Imam yang Dua Belas. Oleh karena itu, kelompok yang paling besar dari sekte ini adalah Al Imaamiyyah atau Al Itsnaa’asyariyyah. Namun para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah lebih memilih penamaan mereka dengan Ar Raafidhah. Sebuah nama yang mashur dari mereka ketika mereka bertanya kepada Zaid bin ‘Ali bin Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma tentang Abu Bakar dan `Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhum. Kemudian Zaid bin ‘Ali memuji keduanya dan mendoakan agar senantiasa mendapat rahmat. Lalu sekelompok orang itu meninggalkannya dan mengatakan: rafadhnaaka (a rt i n y a:kami menolakmu). Maka dinamailah mereka dengan nama rafidhah karena menolak kebenaran dalam mengikuti syubuhat (kerancuan-kerancuan) yang batil.
Madzhab Rafidhah, pertama kali kemunculannya adalah dari ‘Abdullah bin Saba’ Al Yahudi (beragama yahudi) yang telah lalu penyebutannya pada kejadian munculnya huru hara yang dinyalakan olehnya dan para pengikutnya.[1] Diantara perkara yang menjadi landasan adanya kesamaan yang jelas antara keyakinan Rafidhah dan Sabaiyyah yang paling pokoknya adalah sebagai berikut: mencela dan mencaci shahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, tuduhan bahwa Al Qur’an kurang jumlahnya dan adanya perubahan, berlebih-lebihan dalam memuji ‘Ali dan putra-putranya sampai mengangkat mereka pada tingkat ketuhanan, sehingga pernyataan mereka adalah syari’at yang punya hak untuk menghalalkan dan mengharamkan. Juga pada mereka ada ilmu yang tidak terdapat pada Al Qur’an dan As Sunnah (hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam). Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan (sesat) yang seperti ini.
Mereka (Rafidhah) juga meyakini seperti keyakinan Sabaiyyah, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa salam memberikan wasiat kekhalifahan untuk ‘Ali setelah beliau meninggal, bahwa ‘Ali mewarisi ilmu kenabian yang hanya ada padanya, dan sebagian imam akan kembali hidup sebelum datangnya hari kiamat, dan keyakinan-keyakinan sesat lainnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menerangkan: “Pencetus sekte Rafidhah tidak lain dan tidak bukan adalah seorang zindiq bernama ‘Abdullah bin Saba’. ” Keyakinan-keyakinan sesat semisal di atas banyak sekali terdapat di dalam buku-buku mereka dan buku-buku pedoman yang mereka pegangi, sebagaimana sering diulang-ulang oleh para ahli hadits kalangan mereka. Bacalah pernyataan Khumaini tentang para imam – kita berlindung kepada Allah dari kejahatan pernyataannya -, dia mengatakan: “Termasuk dari perkara yang diketahui secara dharuri (tanpa dipelajari orang sudah akan mengetahui-pen) dari madzhab kita adalah bahwa para imam kita memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai sekalipun oleh malaikat yang dekat dengan Allah dan tidak pula para nabi yang diutus. “[2]
Si Yahudi bernama Ibnu Saba’ dan antek-anteknya memanfaatkan kalangan orang-orang bodoh lagi dungu yang berperang bernama ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dan membelanya. Berbagai bid’ah dan kesesatan seperti di atas yang buahnya beracun senantiasa muncul di setiap masa dan dihembuskan ke tengah-tengah mereka. Seluruh kelompok ekstrim, gerombolan pemberotak, dan aliran-aliran kebatinan munculnya dari orang Yahudi dan antek-anteknya, seperti Al Ismaa’iliyyah Ad Duruz, An Nushairiyyah, Al Qaramithah, dan selain mereka. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh para ahli sejarah tentang kemunculan madzhab dan sekte-sekte sesat.
Kaum Rafidhah dan yang sejalan dengan mereka telah melakukan upaya penebaran fitnah dan menggoyahkan keamanan dimana tempat mereka berada. Dan di sepanjang masa dimana mereka ada di tengah negara kaum muslimin, sejak masa Khalifah Ar Rasyidah (yang lurus) sampai hari ini mereka senantiasa berusaha untuk memiliki kerajaan dan kekuatan militer sendiri dalam rangka meluapkan kedengkian dan penebaran kebatilan yang ada pada mereka. Untuk selanjutnya memusnahkan agama yang agung ini yang telah berhasil memusnahkan api pujaan Majusi dan telah mendapat sukses besar dalam mengusir sejumlah besar gerombolan Yahudi dari jazirah Arab, sedangkan para pemeluknya berhasil menebarkan cahaya Islam. di seluruh penjuru.
Diantara perkara yang penting untuk disebutkan pada kesempatan ini adalah kita ingin menunjukkan sebuah syubhat (kerancuan) yang sering disebutkan dalam sebagian buku sejarah yang terpengaruh oleh cara berpikirnya orang-orang orientalis, para pendengki, yaitu bahwa sumber madzhab Tasyayyu’ (membela dan loyal kepada Ahlul Bait) telah ada pada sebagian shahabat yang berpendapat bahwa ‘Ali lebih diutamakan dalam memegang kekhalifahan di atas Abu Bakar, ‘Umar, dan “Utsman radhiyallahu ‘anhum. Mereka menyebut sejumlah nama seperti Jabir bin `Abdullah, Abu Dzar, Hudzaifah bin Al Yaman, Hassaan bin Tsabit, dan Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhum.
Syubhat (kerancuan) di atas diruntuhkan dengan adanya ijma’ (kesepakatan) para shahabat Rasulullah bahwa Abu Bakar dan `Umar keduanya lebih. utama dari pada ‘Ali
Sampai ‘Ali sendiri, beliau memarahi orang-orang yang mendahulukan beliau di atas Abu Bakar dan ‘Umar. Al-Imam Ibnu Hajar rahimahullah, membawakan sebuah riwayat: Pernah dikatakan kepada ‘Ali radhiyallahu ‘anhu: “Ada sekelompok orang yang melebihkan engkau di atas Abu Bakar dan ‘Umar.” Kemudian ‘Ali berdiri untuk menyampaikan sebuah khuthbah: “Ketahuilah hendaklah jangan sampai aku mendengar ada seorang pun yang melebihkan aku di atas keduanya (Abu Bakar dan ‘Umar), kecuali aku akan mencambuknya sebagai balasan bagi pendusta.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kisah ini diriwayatkan dari ‘Aliradhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang bagus.” Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Muhammad bin `Ali bin Abi Thalib, beliau berkata: “Aku bertanya kepada bapakku: Siapakah orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Beliau menjawab: ‘Abu Bakar’. Aku bertanya lagi: ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab: ‘Kemudian ‘Umar’. “







sukron