Demikianlah, mereka jatuh meninggal satu persatu di hadapan Al-Husain radhiyallahu ‘anhu hingga beliau tinggal sendirian. Meskipun demikian beliau tidak mau tunduk terhadap lawannya, bahkan yang beliau lakukan adalah menghunus pedangnya dan berperang sebagaimana seorang penunggang kuda yang ahli dan pemberani. Sampai pada akhirnya beliau gugur di hadapan sejumlah tebasan pedang yang berturut-turut menebasnya. Juga di hadapan kekuatan besar yang mengepungnya dari segala arah.
Pasukan Ibnu Ziyad yang meninggal berjumlah 87 orang. Al-Husain radhiyallahu ‘anhu meninggal pada usia 57 tahun Tidak ada dari pengikutnya yang selamat kecuali lima orang, yaitu: anaknya yang bernama ‘Ali Zainul `Abidin. Ketika itu beliau sedang sakit sehingga tidak bisa ikut hadir dalam peperangan. Bibinya yang bernama Zainab binti ‘Ali, adiknya yang bernama ‘Umar, dan dua saudara perempuannya yang bernama Fathimah dan Sukainah.
`Umar bin Sa’d mengirim kepala Al-Husain dan para pengikutnya kepada Ibnu Ziyad. Kemudian kembali ke Kufah dengan membawa anak-anak Al-Husain. Ibnu Ziyad memberikan pemuliaan dan pelayanan yang baik terhadap mereka. Lalu Ibnu Ziyad mengirim mereka ke Syam bersama kepala Al-Husain radhiyallahu ‘anhu. Ketika Yazid melihat mereka, bercucuran air matanya. sambil mengatakan: “Sebenarnya aku telah senang terhadap ketaatan kalian tanpa pembunuhan terhadap Al-Husain. Akan tetapi semoga Allah melaknat Ibnu Sumayyah [maksudnya ‘Ubaidullah bin Ziyad]), demi Allah kalau saja aku yang menghadapinya, maka sungguh aku akan memaafkan mereka. “
Yazid memerintahkan kepada kerabat Al-Husain yang wanita untuk masuk ke rumahnya. Dan anak-anak Al-Husain dimasukkan dalam tanggungannya. Kaum wanita dari kalangan Bani Umayyah berkabung atas jenazah Al-Husain selama tiga hari dan juga ikut merasakan musibah yang menimpa keluarganya. Kemudian Yazid menjamu mereka semua dengan baik dan memberikan harta yang banyak kepada mereka, selanjutnya beliau memulangkan mereka ke Madinah.
Tidak diragukan lagi bahwa peristiwa terbunuhnya Al-Husain bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu di Karbala’ adalah sebuah tragedi yang menggoncang kerajaan Bani Umayyah dan mengancam kekuasaannya. Kalangan yang dengki dan benci terhadap Islam dari kelompok Syi’ah Rafidhah dan yang lainnya menjadikan peristiwa ini sebagai peluang untuk mengobarkan api fitnah dan menanamkan rasa kedengkian di kalangan kelompok mereka sendiri sampai-sampai gugurnya Al-Husain radhiyallahu ‘anhu bagi mereka adalah lebih besar daripada musibah meninggalnya Rasulullah pembunuhan ‘Umar, “Utsman, dan ‘Ali radhiyallahu ’anhuma.
Mereka (sekte Rafidhah) mengadakan peringatan kematian Al-Husain, pada tiap tahun, sehingga mereka melakukan sekian banyak kejelekan dan celaan terhadap para shahabat. Mereka juga mencaci dan mencela Bani Umayyah, disertai dengan membuat sekian kedustaan dan kebohongan yang bisa membuat rambut kepala beruban (sebelum waktunya-pen). Sampai kemudian mereka menjadi sumber fitnah yang terjadi di kalangan Bani Umayyah dan sebab utama lemahnya kerajaan Bani Umayyah di hadapan musuh-musuhnya. Bahkan mereka (Syi’ah Rafidhah) menjadi sumber fitnah (huru hara) dan penyimpangan di sepanjang masa. Sekte ini berhasil menancapkan kuku-kuku makarnya. Mereka merubah sejarah dan sejumlah sunnah (hadits) dan memenuhi keduanya dengan sekian banyak kedustaan dan kepalsuan. Semoga Allah menjaga kaum muslimin dari kejahatan Syi’ah Rafidhah dengan apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan







Kasihan ya anda………..
Pemuja Yazid adalah pemuja dajjal dan musuh Alloh, Rosul, dan ahlul baytnya yang suci! La’natlah pemuja Yazid!
makasih atas beritanya