3. Dakwah Islam, penebaran keamanan, dan penaklukan wilayah
Sistem pemerintahan Islam yang dijalankan oleh ‘Umar adalah dakwah Islam yang paling besar sebagai bentuk realisasi dari hakekat Islam dan keagungannya di hadapan orang-orang kafir yang mereka telah terkesima dengannya dan kagum akan kebesarannya. Kemudian mereka tunduk dengan masuk Islam seperti yang terjadi pada kaum Barbar dan penduduk Khurasan tanpa perang dan pembunuhan.
Diantara pengaruh yang muncul dari sistem pemerintahan Islam adalah tersebarnya keamanan, berhentinya pergolakan dan huru hara. Tidak ada celah sedikit pun bagi para pengacau untuk menjadikannya sebagai alasan. Yang ada adalah khalifah yang shalih dan bertakwa, kas (baitul maal) yang terjaga, dan para gubernur yang adil. Sampai pun Khawarij yang tidak pernah tunduk kepada seorang penguasa (sejak kemunculannya pertama kali-pen), mereka bersikap tenang pada masa pemerintahanya setelah didebat, dibantah, dan ditenangkan. Dengan demikian rakyat muslimin pada masa pemerintahannya hidup dalam naungan ketenangan dan kesentosaan.
Adapun misi penaklukan wilayah, maka beliau untuk beberapa lama menghentikannya sampai beliau berhasil mengadakan perbaikan negeri-negeri yang ada di bawah kekuasaannya dan memantapkan Islam di sana. Beliau memerintahkan kepada pasukan yang dipimpin oleh Maslamah bin ‘Abdul Malik yang sedang mengepung Konstantinopel dengan jumlah pasukan yang besar untuk pulang dan mengirim makanan yang banyak kepada mereka, kuda, dan kendaraan. Beliau melakukannya karena mereka dalam kondisi yang memprihatinkan dikarenakan lamanya pengepungan. Beliau juga memadamkan/ menggagalkan serangan orang-orang Turki terhadap Azerbaijan dan memberikan hukuman bagi para pengacau. Walaupun `Umar telah menghentikan upaya penaklukan wilayah untuk beberapa lama, namun beliau telah membuka hati manusia terhadap agama ini dan mengarahkan mereka untuk memeluknya dengan senang hati karena sistem pemerintahan Islam yang murni yang dengannya tampaklah hakekat keindahan Islam di hadapan umat manusia.
4. Sifat zuhud, ketakwaan, dan perhatiannya terhadap rakyat
`Umar bin ‘Abdul ‘Aziz adalah seorang yang perhatian, cinta, dan sayang terhadap rakyatnya. Beliau memberikan santunan tetap bagi para penuntut ilmu, memperbaiki penjara dan memberikan santunan bagi orang-orang yang dipenjara, juga melarang dari memborgol mereka, tidak memperbolehkan penyiksaan kecuali sebatas hukum had (yang ada ketentuannya dari syari’at) atau pelajaran. Beliau membangun tempat-tempat peristirahatan bagi para musafir secara cuma-cuma, dan menanggung biaya hidup orang-orang jompo dan kalangan yang butuh. Beliau juga berupaya untuk duduk dalam rangka memperhatikan tempat pengaduan kezhaliman yang ada secara langsung.
Diantara perkara yang menakjubkan yang tampak dari beliau adalah ketika penduduk Samarkand mengadu kepadanya bahwa kaum muslimin menaklukan kota mereka dengan cara menipu/khianat. Kemudian beliau mengutus seorang hakim untuk menyelesaikan perkara yang terjadi antara mereka dengan kaum muslimin, lalu sang hakim itu memenangkan perkara itu untuk penduduk Samarkand atas kaum muslimin. Kemudian beliau memerintahkan kaum muslimin untuk meninggalkan kota mereka, namun penduduk Samarkand terkesima dengan keadilan yang amat menakjubkan ini, dan mereka enggan untuk ditinggal oleh kaum muslimin. Beliau menulis perintah kepada para pegawainya agar: “Tidak boleh mengangkat pegawai kecuali ahlul Qur’an. Kalau ahlul Qur’an sudah tidak memiliki kebaikan maka orang selain mereka adalah lebih tidak memiliki kebaikan lagi. ” Beliau cinta bila kaum muslimin menjadi mulia dan terangkat derajatnya, oleh karena itu beliau memerintahkan agar orang kafir tidak mengendarai kendaraan yang gagah dan tidak memakai pakaian para ulama, dan tidak diperkenankan bagi mereka menenteng senjata.
Pada saat-saat tertentu beliau menyendiri untuk instropeksi diri dan mengingat-ingat keadaan kaum muslimin yang miskin dan lemah, juga yang terzhalimi. Kemudian beliau menangis dan takut akan pertanggungjawaban tentang mereka di hadapan Allah. Beliau adalah seorang yang banyak melakukan sholat, puasa, dan menangis, sampai-sampai beliau tersibukkan dari istrinya. Fathimah, istrinya pernah berkata: “Duhai kiranya antara kami dengan khilafah sejauh timur dan barat, sungguh demi Allah kami tidak pernah menyaksikan kegembiraan lagi setelah masuk ke dalamnya. “
5. Wafatnya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz
Beliau meninggal dikarenakan menderita sakit paru-paru pada tahun 101 H pada usia kurang lebih 39 tahun setelah memegang tampuk kekhalifahan selama kurang lebih dua setengah tahun. Semoga Allah merahmati dan mengampuninya dan membalasnya dengan sebaik-baik pembalasan atas jasanya terhadap kaum muslimin.
Foot Note:
[19 Kata “asyaj” bermakna luka-luka di kepala, masing-masing bagian yang terluka memiliki penamaan sendiri dalam bahasa Arab —pent.
Sumber: Disalin dari buku “TARIKH DAULAH UMAWIYYAH”, Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia, Penerjemah: Fathul Mujib, Muroja’ah: Ustadz Abu Muhammad ‘Abdul Muthi, Lc Hafizhahullah, Penerbit Hikmah Ahlus Sunnah, Cet.Kedua, Hal.87-88
Artikel: www.kisahislam.net






