Amirul Mukminin ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz 99H – 101H

3. Tampuk Kekuasaan (Khilafah) dan Berbagai Upaya Yang Beliau lakukan

Sulaiman bin ‘Abdul Malik meminta saran dari menterinya yang terpercaya dan seorang yang shalih yaitu Rajaa’ bin Haiwah dalam hal siapa yang pantas menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Sang menteri yang terpercaya menyarankan untuk menunjuk `Umar bin ‘Abdul Aziz dan mengatakan kepadanya: “Termasuk perkara yang akan menjaga khalifah di kuburnya adalah ia menjadikan khalifah pengantinya dari seorang yang shalih.” Kemudian Sulaiman menulis penggantinya yaitu ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz kemudian Yazid bin ‘Abdul Malik setelah ‘Umar. Pernyataan ini dibubuhi stempel dan meminta Bani Umayyah agar berbaiat terhadap apa yang ada padanya. Lalu mereka pun berbaiat.

Ketika Sulaiman meninggal, Rajaa’ membacakan pernyataan Sulaiman, namun pada awalnya mereka mengingkari dan marah, tapi kemudian menerima dan rela. Ketika `Umar mendengarnya dan telah menjadi kenyataan, beliau mengatakan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. ” Beliau menganggapnya sebagai suatu bencana, dan tidak mampu berdiri di atas kedua kakinya karena takut akan menghadapi per­tanggungjawaban yang berat di hadapan Allah tentang seluruh kaum muslimin.

Lalu beliau mengumpulkan seluruh kaum muslimin dan menyampaikan khutbah kepada mereka serta meminta agar mereka rela untuk beliau turun dari tahta kekhalifahan dan menunjuk orang yang mereka lebih sukai. Namun mereka tidak menerima permintaan itu dan bahkan menetapkannya. Ketika beliau mengetahui bahwa kekhalifahan adalah perkara yang harus beliau hadapi dan tidak ada peluang untuk lepas darinya, maka beliau mulai memegang amanat ini dengan meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga pada masa pemerintahannya yang singkat, sejumlah perbaikan yang besar berhasil beliau canangkan. Upaya-upaya besar yang beliau lakukan adalah sebagai berikut:

1. Menjaga baitul maal (perbendaharaan/ kas) kaum muslimin

Beliau memulai dengan hal ini ketika dihadapkan kepadanya parade/pengiring khalifah yang menakjubkan dan kuda-kuda yang mahal disertai dengan perhiasan dan kemewahan yang ada di atasnya. Beliau memerhatikannya sambil berkata: “Maasyaallah laa haula wa laa quwwata illa billah. Datangkan kepadaku kudaku! (yang biasa aku naiki sebelum menjadi khalifah­.pen)” Lalu beliau memerintahkan untuk dijual semua kendaraan yang berisi harta benda itu, kemudian hasil penjualan dikembalikan ke baitul maal. Kemudian beliau memanggil istrinya, Fathimah binti ‘Abdul Malik dan memberikan pilihan kepadanya antara tetap hidup bersamanya dalam kehidupan yang serba sulit atau menceraikannya kemudian memilih suami yang lebih baik darinya, namun istrinya tetap memilihnya. Setelah itu beliau meminta agar melepas semua perhiasan dan permata yang diambil dari baitul maal tanpa alasan yang sah. Istrinya melepaskan semua perhiasan dan mengembalikan kepada baitul maal.

Sebelumnya beliau telah melepaskan diri dari harta yang ada padanya yang didapatkan bukan dengan cara yang disahkan oleh syari’at, lalu dimasukkan ke baitul maal. Beliau melakukannya sebagai teladan sebelum menyuruh orang lain. Setelah itu beliau menghimbau kepada Bani Umayyah, kemudian mereka mengembalikan semua harta baik yang diambil dari baitul maal atau dari orang lain tanpa alasan yang benar kepada tempatnya yang layak dan diberi nama amwaalul mazhaalim (harta-harta kezha­liman), padahal mereka telah melobi orang­-orang kepercayaan `Umar (untuk membatalkan rencananya), namun beliau tidak mem­pedulikannya.

Ketika rakyat melihat amalan mulia yang demikian, kegembiraan pun tersebar di tengah-tengah mereka. Kabar gembira mereka sampaikan, keamanan mereka dapatkan kembali pada masanya. Setelah itu beliau benar-benar menjaga baitul maal, tidak boleh dikeluarkan harta darinya kecuali pada jalan yang sesuai dengan syari’at dan pada tempat­tempat yang benar. Kebaikan pun merebak, rakyat menjadi kaya, orang yang miskin tidak ada lagi, sampai-sampai pernah terjadi seorang gubernur di Afrika mencari-cari orang yang berhak menerima zakat akan tetapi dia tidak mendapatinya. ‘Umar telah membuat mereka kaya, ini semua atas keutamaan dari Allah.

2. Perbaikan di bidang pemerintahan dan para pejabat

Bidang ini adalah amalan mulia kedua yang beliau garap. Beliau amat memerhatikan para gubernurnya sehingga beliau benar­-benar mengenalinya. sehingga sebagian dari mereka ada yang dicopot, sebagian yang lain diberi peringatan. Beliau mengangkat gubernur-gubernur yang shalih dan tangguh yang kaum muslimin bisa hidup bersamanya dengan penuh keadilan dan kebahagiaan. Orang-orang kafir masuk Islam ketika menyaksikannya dan mencintai agama yang adil lagi agung ini.

Diantara bukti dari hal di atas adalah pengangkatan gubernur Afrika dan wilayah Maghrib, yaitu Isma’il bin ‘Ubaidillah bin Abul Muhajir Al Makhzumi.Beliau adalah seorang yang bagus karirnya dan banyak orang dari kalangan Barbar yang tinggal di wilayahnya masuk Islam. ‘Umar mencopot Al Jarrah bin Abdullah AI-Hakami dari Khurasan karena tidak menghilangkan upeti dari orang kafir yang masuk Islam, dia mengatakan: Kalian masuk Islam karena hanya sekedar lari darinya. ” Oleh karena itu, mereka enggan masuk Islam dan tetap di atas agama mereka. Lalu ‘Umar menulis surat untuknya: “Hilangkan upeti dari mereka yang telah masuk Islam, semoga Allah menjelekkan pandanganmu. Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam itu sebagai pemberi petunjuk (keterangan) dan bukan sebagai pengumpul harta.” Kemudian dia diganti dengan `Abdurrahman bin Nu’aim Asy Syuqairi. Sebagian besar dari penduduk Khurasan dan yang lainnya masuk Islam sebagai hasil dari sistem politik Islam yang penuh dengan kasih sayang. Segala puji bagi Allah.

Comments
All comments.
Comments