Setelah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz meninggal, beliau digantikan oleh Yazid bin ‘Abdul Malik. Masa pemerintahannya berlangsung selama empat tahun, dari tahun 101 H sampai tahun 105 H. Beliau memegang khilafah karena wasiat dari saudaranya yaitu Sulaiman Pada masa beliau memerintah, sejumlah gejolak dalam negeri beliau hadapi, yang paling penting adalah
Ia adalah Yazid bin Abdul Malik bin Marwan bin Al-Hakam, Abu Khalid Al Qurasyi Al-Umawi. Amirul Mukminin. Ibunya bernama Atikah binti Yazid bin Muawiyah. Dibaiat sebagai khalifah setelah Umar bin Abdul Aziz pada bulan Rajab tahun 101 H.[511] Yazid II ini dilahirkan di Damaskus tahun 71 atau 72 H. Sebelum
1. Kelahiran, masa pertumbuhan, dan tarbiyah yang beliau dapat. Beliau adalah seorang tabi’in (murid shahabat -pent) yang mulia, bernama ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abil ‘Ash bin Umayyah. Ibunya adalah Ummu `Ashim Laila binti ‘Ashim bin ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Beliau dijuluki denga Asyaj(19)
Pengalaman pahit yang dirasakan oleh kaum Quraisy dalam perang Badar telah menyisakan luka mendalam nan menyakitkan. Betapa tidak, walaupun jumlah mereka jauh lebih besar dan perlengkapan perang mereka lebih memadai, namun ternyata mereka harus menanggung kerugian materi yang tidak sedikit. Dan yang lebih menyakitkan mereka adalah hilangnya para tokoh mereka.
Setelah Al Walid bin ‘Abdul Malik meninggal, kekuasaan digantikan oleh saudaranya yaitu Sulaiman bin ‘Abdul Malik. Masa beliau memerintah adalah masa pemerintahan yang singkat namun penuh berkah, yaitu hanya berlangsung selama tiga tahun dari tahun 96 H sampai tahun 99 H. Pada masanya juga jihad untuk menaklukan Konstantinopel dan selainnya
Saudaraku sesama muslim… Marilah sejenak kita melakukan kilas balik terhadap berbagai peristiwa di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Kita berharap mudah-mudahan dengan mempelajari dan mengamati peristiwa ini, kita bisa mendapatkan banyak hikmah dan pelajaran berharga bagi kehidupan kita sehari-hari. Dua tahun setelah Nabi kita tercinta Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
Beliau adalah Al-Walid bin ‘Abdul Malik bin Marwan, lahir pada tahun 50 H. Diangkat sebagai khalifah setelah ayahnya meninggal pada tahun 86 H. Kehidupan yang beliau alami adalah kehidupan yang cerah bagaikan warna putih di muka Daulah Umawiyyah. Yang demikian dikarenakan berbagai usaha perbaikan yang besar baik di dalam maupun
Pengantar: Bagaimanakah Abdul Malik Mencapai Kursi Kekhalifahan? Yazid bin Mu’awiyah sebelum meninggal, mewasiatkan khilafah untuk anaknya yang bernama Mu’awiyah bin Yazid. Setelah Yazid meninggal, penduduk Syam membaiatnya dalam rangka memenuhi wasiat ayahnya. Pada waktu itu ‘Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu telah dibaiat sebagai khalifah di negeri Hijaz dan kekuasaannya semakin
IA ADALAH Marwan bin Al-Hakam bin Abul Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf Al-Qurasyi Al-Umawi. Panggilannya adalah Abu Abdul Malik atau Abul Hakam atau Abul Qasim. Menurut banyak sejarawan, ia tergolong sahabat, karena dilahirkan empat bulan setelah kelahiran Abdullah bin Az Zubair. Telah kita ketahui bersama bahwa
Pada tahun 64 H, Yazid bin Muawiyah memilih putrnya, Muawiyah II, untuk menjadi khalifah. Akan tetapi Muawiyah II adalah orang saleh yang tidak cakap dalam kepemimpinan. Ia lambat dalam menjalankan roda kekhilfahan dan ia meninggal dunia tiga bulan setelah menjadi khalifah. Sebagian besar pejabat di Syam kemudian sepakat membaiat Abdullah
Biografi Yazid bin Mu’awiyah: Beliau bernama Yazid bin Mu’awiyah bin Abi Sufyan Shakhr bin Harb bin Umayyah. Pemimpin (amir) kaum mukminin. Kunyahnya adalah Abu Khalid Al-Umawi. Lahir pada tahun 25 H. Dibaiat sebagai khalifah ketika ayahnya masih hidup untuk kemudian memegang urusan pemerintahan sepeninggalnya. Penobatannya sebagai penguasa ditegaskan lagi setelah
Tiga orang dari kelompok khawarij diutus. Mereka adalah ‘Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi yang berasal dari suku Himyar namun ia dianggap penduduk Bani Murad dan merupakan halif Bani Jabalah dari Kandah. Yang kedua adalah Al-Bark bin ‘Abdillah At-Tamimi dan yang ketiga adalah ‘Amru bin Bakir At-Tamimi. Mereka berkumpul di Mekkah, saling