Imam Syamsyuddin Abdurrahman al Maqdisi suatu saat menggali tanah di gunung As Shalihiyah karena suatu hal. Di tengah aktifitas itu, ulama madzhab Hanbali ini menemukan peti penuh dengan dinar. Imam Al Maqdisi sontak mengucap,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…”. Beliau menilai bahwa hal itu merupakan musibah dan membiarkan kotak itu
Suatu hari Al Madani berdiri di shaf di belakang imam dalam satu shalat jama’ah. Di tengah shalat, imam ingat sesuatu kemudian menghentikan shalatnya dan al Madani pun maju mengimami manusia. Al Madani berdiri lama sekali. Ketika makmum telah kelelahan karena saking lamanya mereka berdiri, mereka membaca tasbih, namun al Madani
Abdul Wahid bin Zaid mengatakan,”Saat aku keluar menuju arah Al Harbiyah, ada seorang lelaki hitam yang terjangkit lepra hingga beberapa anggota tubuhnya tidak utuh lagi dan matanya pun buta. Ia duduk sedangkan anak-anak kecil melemparinya hingga wajahnya berdarah. Saat itu aku lihat bibirnya bergerak, hingga aku mendekat agar mengetahui apa
Alangkah indahnya kisah Sirri As-Saqthi (salah seorang ahli ibadah yang zuhud, lihat tarikh baghdadi 9/188 dan Hilyatul Auliya’ 10/117-127), di mana beliau selalu istighfar (memohon ampun) kepada Allah selama tiga puluh tahun lamanya karena ucapannya “Alhamdulillah” saat ada kebakaran di kota baghdad yang melenyapkan rumah-rumah dan toko-toko di sana, namun
Seorang panglima perang, Muhallab bin Abi Shufrah, berjalan dengan sombong di depan seorang ulama tabi’in, Malik bin Dinar (wafat tahun 130 H). Maka Malik bin Dinar bertanya, “Tidakkah engkau mengetahui itu adalah cara berjalan yang dibenci oleh Allah kecuali saat berjalan di antara dua pasukan yang akan bertempur?” Muhallab marah
Dalam kitabnya yang berjudul “At-Tadzkirah”, Imam Qurthubi menceritakan sebuah kisah tentang seorang muadzin yang senang beribadah dan bercahayakan ketaatan kepada Allah. Suatu hari ia menaiki menara seperti biasanya untuk mengumandangkan adzan. Kebetulan di bawah menara tersebut terdapat rumah seorang Nashrani dzimmi. Ia pun melihat ke rumah tersebut, lantas ia melihat
Manshour bin Ammar berkata: “Dulu seorang temanku selalu berbuat maksiat, lalu kemudian ia bertaubat. Aku melihatnya sering melakukan ibadah dan shalat tahajjud. Tiba-tiba aku tidak melihatnya beberapa hari. Ada yang mengatakan kepadaku bahwa ia sedang sakit. Aku pun lantas mendatangi rumahnya. seorang puterinya keluar menemuiku, ia berkata: “Ingin bertemu siapakah
Sahabat… Ada satu kisah yang sangat BERHARGA, diceritakan seorang trainer Kubik Leadership yang bernama Jamil Azzaini di kantor Bea dan Cukai Tipe A Bekasi sekitar akhir tahun 2005. Dalam berceramah agama, beliau menceritakan satu kisah dengan sangat APIK dan membuat air mata pendengar berurai. Berikut ini adalah kisahnya: Pada akhir
Kisah-kisah orang-orang yang mengalami su’ul khatimah banyak didengar dan disaksikan langsung oleh orang-orang shaleh. Hal yang demikian itu menjadikan rasa takut mereka semakin bertambah, juga mereka semakin mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat mereka. Salah satu kejadian adalah yang pernah diceritakan oleh lbnu Rajab dari Abdul Aziz bin Abi Rawwad: “Aku
Adalah Abdullah bin Nu’aim Al Bajali, seorang tabi’in yang biasa berpuasa dan beribadah. Suatu saat beliau mendatangi Al Hajjaj sang penguasa dzalim untuk menasihatinya. Namun Al Hajjaj tidak menerima nasihat itu dan ia malah memutuskan untuk membunuh Abdullah dengan cara dikurung di rumah gelap dan mengunci pintunya selama 15 hari.
Imam Ibnu Hamid al Warraq melakukan perjalanan haji tahun 402 hijriah dan beliau kehabisan perbekalan di tengah perjalanan. Tidak ada makanan dan minuman yang tersisa, hingga beliau tak mampu melakukan perjalanan, dan terjatuh karena kelaparan dan kehausan. Tanpa diduga, seorang laki-laki mendatangi beliau dengan membawa sedikit air, dan beliau saat
Imam Ibnul Mubarok rahimahullah berkata: ”Aku telah meminjam sebuah pena di Syam (kini Syiria & sekitarnya) namun aku lupa untuk mengambalikannya. Setelah aku sampai di Marwa (sebuah kota di Turkmenistan) aku dapati bahwa pena itu masih bersamaku. Maka aku pun kembali ke Syam untuk mengembalikan pena itu.” (Tahdzib At Tahdzib,