Abdullah bin Muslim Al-Ajali menceritakan bahwa di Makkah ada seorang perempuan cantik jelita. Ia sudah bersuami. Suatu hari, perempuan itu melihat parasnya di cermin, lalu berkata pada sang suami, “Menurutmu, ada tidak seseorang yang jika melihat wajah ini tidak terpesona?” Suaminya menjawab, “Ada.” Ia bertanya lagi, “Siapa?” Suaminya menjawab, “Ubaid
Pemuda tampan, gagah berani, usia nya masih kecil, tetapi semangatnya mengapai surga sangat besar, kisah nya memperjuangkan agama Allah, menjadi tamparan bagi setiap para pemuda Islam yang pada hari ini, menyia – nyiakan waktunya. Dia adalah Umair bin Abi Waqqash Radhiyallahu’anhu, saudara kandung dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu’anhu. Ibnu
Ada seorang pria yang sedang berjalan di padang pasir, tiba – tiba dia mendengar suara dari langit yang mengatakan : “Airilah kebun si Fulan.” Kemudian dia lihat ada awan yang berjalan menuju tempat tertentu lalu awan itu menumpahkan airnya (air hujan) disebuah area tanah yang penuh dengan batu hitam. Disana
Diantara Sahabat yang gugur -syahid- diperang Badar adalah Sa’ad bin Khaitsamah Radhiyallahu’anhu. Para Sahabat selalu bersaing didalam hal Jihad fi Sabilillah, untuk menuju Surga. Mereka tidak memandang siapa yang akan menjadi saingan nya, walaupun ayah mereka sendiri. Sa’ad bin Khaitsamah salah satu contoh dari hal tersebut. Pada saat perang Badar,
Suatu saat, Hasan bin Ziyad al-Lu’lu’i rahimahullah pernah ditanya tentang suatu masalah, ternyata beliau salah memberikan fatwa. Beliau ingin meralatnya tetapi tidak mengenal si penanya. Maka beliau menyewa seseorang untuk mengumumkan kepada manusia: “Hasan bin Ziyad pernah ditanya hari ini tentang masalah ini dan dia keliru dalam fatwanya. Barangsiapa yang
Dahulu, ada seorang prajurit raja yang divonis hukuman qishash (mati). Ketika dia sudah diseret ke lapangan guna dihukum mati, sang raja menyelamatkannya dan membayarkan diyat kepada keluarga korban. Sang prajurit akhirnya diberi tugas oleh raja untuk mengurusi kebun miliknya. Suatu saat, mesin pengairan air mati, maka prajurit tersebut turun ke
Dalam biografi Abul Hasan al-Wa’idz yang dikenal dengan “al-Mishri” disebutkan bahwa beliau memiliki majelis ta’lim untuk memberikan nasihat. Hadir dalam majelisnya terse-but kaum prig dan wanita, sehingga dia pun mengenakan cadar untuk menutupi wajahnya karena khawatir wanita terfitnah oleh keelokan wajahnya. (Tarikh Baghdad 12/75-76 oleh al Khathib al-Baghdadi) Namun, perbuatan
Al-Ashma’i pernah bercerita tentang seorang suami yang memiliki empat istri dan dia sosok suami yang bersifat kasar. Suatu saat dia pernah mendapati empat istrinya sedang berkelahi dan ribut, maka dia mengatakan, “Sampai kapan kalian ribut seperti ini? Saya yakin ini adalah karena ulahmu! (Sambil menunjuk seorang istrinya). Pergilah dariku karena
Abu Utsman al Hiri (289H) adalah seorang ulama Naisabur yang shalih. Suatu saat beliau ditanya,”Wahai Abu Utsman amalan apa yang engkau harapkan bisa sebagai bekal menghadap Allah dari apa yang telah engkau lakukan?” Abu Utsman pun berkisah,”Waktu aku tinggal di Ar Rai, para penduduknya mendesakku agar menikah, namun aku menolaknya.
Dr. Muhammad Hasan menceritakan perbincangannya dengan dengan seorang pemuda yang keras (dalam ber-Islam): Dr. Muhammad Hasan bertanya kepada pemuda itu, “Apakah meledakkan Klub malam di suatu negara muslim halal ataukah haram?”. Pemuda itu menjawab, “Tentu saja halal, dan membunuh mereka pun diperbolehkan”. Dr. Muhammad Hasan bertanya kembali, “Kalau kamu membunuh
Abdullah bin Mubarok rahimahullah saat itu bertetangga dengan seorang Yahudi. Dan si tetangga berencana menjual rumahnya, sehingga ada seseorang yang bertanya mengenai harga rumahnya,”Engkau menjual dengan harga berapa?” Si tetangga pun menjawab,”Dua ribu.” Si penanya menyampaikan,”Harga rumahmu ini mestinya seribu.” Si Yahudi menjawab,”Engkau benar, akan tetapi seribu untuk harga rumah
Imam Abu Fath ar Razi tidak mampu membaca Al Fatihah ketika beliau masih berumur 10 tahun, guru beliau sampai mengatakan kepadanya, ”Mintalah kepada ibumu agar mendoakanmu, hingga Allah memberikan rizki Al Qur`an dan ilmu.” Setelah peristiwa itu, Abu Al Fath Ar Razi melakukan perjalanan mencari ilmu ke Baghdad. Sekembalinya ke