Al Hafizh Ibnu Katsir menceritakan perihal biografi Amir Badar bin Hasnawih al-Kurdi Rahimahullah, “Ia terbilang raja yang baik di Dinour dan Hamdan. Ia punya siasat dan teman yang banyak. al Qadir menjulukinya Abu Najm, memberinya gelar Nashirud Daulah. Negerinya sangat aman, dan muamalah (hubungan antar masyarakat) di situ sangat baik. Sampai-sampai, jika ada unta seorang musafir yang tersesat, atau binatang tunggangan berikut bawaannya dibiarkan di tempat terbuka, ia akan kembali padanya tanpa berkurang sedikit pun, kendati selang beberapa waktu.
Ketika para amirnya berbuat kerusakan di bumi, ia jamu mereka dengan baik, tetapi tidak menghidangkan roti. Mereka pun duduk menunggu roti. Lama tidak kunjung dihidangkan, mereka mempertanyakannya.
Ia pun berkata pada mereka, ‘Jika kalian berbuat kerusakan di bumi, dari mana kalian bisa mendapatkan roti?’
Selanjutnya ia berkata, ‘Setelah hari ini, aku tidak ingin mendengar seseorang berbuat kerusakan di bumi, kecuali kutumpahkan darahnya.’
Suatu hari, dalam sebuah perjalanan ia berjumpa dengan seseorang yang membawa seikat kayu bakar sembari menangis.
Ia bertanya, ‘Mengapa engkau menangis?’
Orang itu berkata, ‘Aku punya dua potong roti, tetapi beberapa tentara merampasnya dariku.’
Ia bertanya, ‘Apakah engkau bisa mengenal tentara itu jika berjumpa dengannya?’
Orang itu menjawab, ‘Ya.’
Ia berhenti di sebuah tempat yang sempit menunggu orang yang mengambil roti itu melintas.
Orang itu berkata, ‘Ini dia.’
Ia diminta turun dari kudanya dan disuruh membawa ikatan kayu orang itu sampai ke kota. Ia bermaksud membayar fidyah dengan sejumlah uang yang terbilang banyak, tetapi ditolak. Dengan begitu, seluruh tentara bisa berlaku sopan.”
(Al Bidayah wa An-Nihayah jilid 11, hal.377)
Sumber: “Kisah Orang-Orang Shaleh Dalam Mendidik Anak”, Syaikh Ibrahim Mahmud
Artikel: www.KisahIslam.net
Sumber:






