Al-Aqra’ bin Habis (salah satu amir di negeri Islam) menghadap Amirul Mukminin, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Ternyata dia mendapati Umar radhiyallahu ‘anhu sedang bermain dengan anak-anaknya. Anak-anaknya bergantungan di lengannya dan di atas punggungnya. Lantas al-Aqra bertanya, “Apa-apaan ini, wahai Amirul Mukminin? Apakah memang seperti ini yang Anda lakukan
Dahulu, sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Abbas yang saat ini masih belia pernah mengajak salah seorang pemuda Anshar untuk mencari ilmu. Berguru kepada para shahabat. Namun, pemuda itu menolak. Katanya, selama masih banyak shahabat, kaum muslimin tidak butuh terhadap orang muda. Ibnu Abbas pun meninggalkannya. Beliau tidak surut.
Umar bin Ubaidullah bin Ma’mar melewati seorang laki-laki hitam sedang makan di sebuah kebun. Di depannya terdapat seekor anjing. Jika dia makan satu suapan, dia melemparkan satu suapan pula kepada anjing tersebut. Umar bertanya, “Apakah itu anjingmu?” Dia menjawab, “Bukan.” Umar bertanya, “Mengapa kamu memberinya makan seperti apa yang kamu
Oleh: Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu’anhu. Dia berkata: Pamanku Abu Burdah telah menyembelih hewan kurbannya sebelum sholat (hari raya), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Kambing yang kamu sembelih itu adalah kambing biasa yang bisa dimanfaatkan dagingnya (bukan
“Tidak ada wasiat seseorang di mana dia mewasiatkannya setelah dia wafat yang dilaksanakan selain wasiat Tsabit bin Qais” Tsabit bin Qais al-Anshari, seorang pemuka Khazraj yang terpandang, salah seorang pembesar Yatsrib yang diperhitungkan keberadaannya oleh siapa saja. Di samping itu dia berhati cerdik, responsif, lihai dalam bertutur kata dan bersuara
Syadad bin al-Had mengatakan, seorang laki-laki Badui datang kepada Nabi shalallahi ‘alayhi wa sallam, lalu ia beriman kepadanya dan mengikutinya, lalu mengatakan, “Aku behijrah bersamamu.” Beliau pun berpesan kepada para shahabat mengenainya. Pada perang Khaibar, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam mendapatkan harta rampasan perang, maka beliau membagi-bagikannya dan membagikan kepada
Seorang ayah yang bernama Khaitsamah bin al- Harits dengan anaknya yaitu Sa’ad mengundi siapa di antara mereka berdua yang akan ikut dalam perang Badar kali ini. Kemudian undian keluar dengan nama Sa’ad. Serta merta ayahnya berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, berikanlah giliran kali ini kepadaku.” Sang anak menjawab, “Wahai ayah,
Perang Uhud tiba, ‘Abdulloh bin Jahsy dan kawannya Sa’ad bin Abi Waqqosh dalam perang ini mempunyai cerita yang tidak terlupakan. Biarkan kesempatan ini kita berikan kepada Sa’ad, biar beliau sendiri yang menyampaikan ceritanya dan cerita kawannya. Sa’ad bin Abi Waqqosh berkata, “Di perang Uhud, aku bertemu dengan ‘Abdulloh bin Jahsy,
Jarir bin Abdillah adalah salah seorang Sahabat Nabi yang mulya. Suatu hari ia perintahkan kepada maulanya untuk membeli kuda seharga 300 dirham. Maka, maulanya tersebut kemudian mendapatkan penjual dan kudanya yang cocok dengan harga itu, didatangkan kepada Jarir. Sang penjual sudah setuju kudanya dijual dengan harga 300 dirham. Ketika ditunjukkan
“Said bin Amir, seorang laki-laki yang membeli akhirat dengan dunia dan mementingkan Allah dan Rasul-Nya diatas selain keduanya.” (Ahli Sejarah) Anak muda ini, Said bin Amir, adalah satu dari ribuan orang yang keluar ke daerah Tan’im di luar Makkah atas undangan para pemuka Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukum mati atas
Hudzaifah Al-Udwa berkata, “Pada hari meletusnya perang Yarmuk, aku berangkat mencari putra pamanku sembari membawa air. Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Jika haus, kuberi ia minum.’ Aku pun menjumpainya. Kukatakan padanya, ‘Apakah engkau mau minum?’ Ia menganggukkan kepala mengiyakan. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berseru, ‘Ah … ah…” Putra pamanku memberiku
Dari Muhammad bin Sa’d bin Abu Al- Waqqash dari ayahnya, ia mengatakan: Umar bin Al-Khaththab meminta izin masuk kerumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan di sekeliling beliau ada sejumlah wanita Quraisy yang berbicara banyak kepada beliau dengan meninggikan suara mereka melebihi suara beliau. Ketika Umar bin Al-Khaththab meminta