Dahulu, sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Abbas yang saat ini masih belia pernah mengajak salah seorang pemuda Anshar untuk mencari ilmu. Berguru kepada para shahabat. Namun, pemuda itu menolak. Katanya, selama masih banyak shahabat, kaum muslimin tidak butuh terhadap orang muda. Ibnu Abbas pun meninggalkannya. Beliau tidak surut. Beliau tetap menimba ilmu kepada para shahabat.
Pernah beliau mendatangi seorang shahabat yang mendengar sebuah hadits langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesampai di rumahnya, ternyata shahabat tersebut sedang qailulah (istirahat Siang). Ibnu Abbas menanti di depan rumahnya. Angin menerbangkan debu ke wajah beliau. Sampai akhirnya shahabat itu keluar. Tatkala melihat Ibnu Abbas, shahabat itupun kaget dan bertanya, “Anak paman Rasulullah?! Apa yang membuat engkau datang? Tidakkah engkau utus seseorang kepada saya, agar saya bisa mendatangimu.” Dengan rendah hati beliau menjawab, “Tidak, saya yang lebih berhak untuk mendatangimu. Telah sampai kepada saya satu hadits darimu, bahwasanya engkau mendengarnya dari Rasulullah . Maka saya ingin mendengarnya langsung darimu.”
Setelah beberapa waktu, pemuda Anshar itu melihat orang-orang berkumpul di sekeliling Ibnu Abbas. Mereka menimba ilmu dari beliau, bertanya tentang permasalahan agama kepada beliau. Dia pun berkata, “Sejak dulu, pemuda ini lebih cerdas dari pada saya.”
Sumber: Majalah Qudwah, Edisi 02, 2012, Hal.70-71






