Al-Hafizh Shalih Jazarah berkata, “Aku mendengar Hisyam bin Ammar berkata, ‘Aku menemui Malik bin Anas. Kepadanya kukatakan, ‘Berilah aku hadits.’ Malik berkata, ‘Bacalah!’ Aku bilang, ‘Tidak! Berilah aku hadits.’ Ia berkata, ‘Bacalah!’ Karena berulang kali aku memintanya bicara, ia berkata, ‘Wahai pemuda, kemarilah. Bawa orang ini dan pukullah ia sebanyak
Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata, “Aku hafal Al-Qur’an ketika usiaku tujuh tahun, dan hafal Al-Muwaththa’ di usia sepuluh tahun. Ketika khatam Al-Qur’an aku masuk ke dalam masjid. Di situ aku duduk bersama para ulama, ikut menyimak perbincangan dan tanya-jawab sehingga aku menghafalnya. Ibuku tak punya uang untuk membeli kertas. Maka, jika menemukan
Oleh : Ustadz Kharisman Berikut ini adalah sepenggal kisah-kisah menakjubkan tentang kesungguhan para Ulama dalam menuntut ilmu. Semoga bisa menjadi pelajaran dan teladan bagi kita untuk bersemangat menjalankan aktifitas ilmiyyah : menempuh perjalanan menghadiri majelis ilmu, mencatat, murojaah (mengingat kembali pelajaran yang sudah didapat), membaca buku-buku para Ulama’, merangkum, meringkas,
Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqat (VI/ 106) berkata, “Al-Fadhal bin Dakin meriwayatkan kepada kami dari Israil bin Yunus, la berkata, ‘Begitu menerima gaji, Abu Maisarah langsung mendermakannya. Lalu, ketika ia pulang ke rumah dan keluarganya menghitung sisa gajinya, ternyata jumlahnya masih utuh. la berkata kepada keponakan-keponakannya, ‘Kenapa kalian tidak melakukan
Al-Lalikai dalam kitab al-Karamat (IX/248) berkata, “Kami mendapatkan riwayat dari Abdul Wahab bin Ali, dari Umar bin Ahmad, dari Muhammad bin Abdullah as-Susi, dari Muhammad bin Yazid al-Adami, dari Ibnul Fudain, dari Ayahnya, ia bercerita: ‘Sesungguhnya Karaz menjenguk Ibnu Syabramah yang sedang menderita penyakit karena selalu berdengung. Namun, Ketika Karaz
Biasanya saat ini bila ada orang yang bangun pagi-pagi keluar rumah maka akan pergi ke pasar atau berangkat kerja. Tapi tidak seperti itu dengan Imam Ahmad. Beliau seorang ulama ahli hadits terkemuka di zamannya, ternyata mempunyai kebiasaan yang barangkali jarang dilakukan oleh manusia pada umumnya, apalagi pelajar pada zaman sekarang.
Datang riwayat yang mengatakan bahwa Abu Ja’far Al-Manshur memanggil Thawus -seorang ulama di zamannya- dan bersamanya ada Malik bin Anas -semoga Allah merahmati keduanya-. Setelah keduanya di hadapan Al-Manshur, Al-Manshur menundukkan wajahnya sesaat, kemudian menoleh ke arah Thawus dan berkata kepadanya, “Wahai Thawus kabarkanlah kepadaku sesuatu dari bapakmu (Ibnu Kaisan
Hisyam bin Abdul Malik datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah masuk Makkah dia berkata, “Datangkan kehadapanku seorang shahabat Nabi.” Dikatakan kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, mereka telah tiada.” Dia berkata, “(Jika demikian), seorang dari tabi’in.” Maka dihadirkanlah Thawus AI-Yamani seorang ulama yang mulia -semoga Allah merahmatinya-. Tatkala dia menemui
Imam adz-Dzahabi rohimahulloh menceritakan bahwasanya pernah ada suatu perjalanan yang mengumpulkan empat orang ulama yang sama-sama bernama Muhammad: Muhammad bin Jarir ath-Thobari, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Muhammad bin Nashr al-Marwazi, Muhammad bin Harun ar-Ruyani rahimahumulloh jami’an. Bekal perjalanan mereka sama-sama habis sehingga mereka sama-sama lapar. Lalu mereka berkumpul di
Al-Hajjaj bin Yusuf adalah seorang fasik dari suku Tsaqif, gubernur dari Raja Abdul Malik menyukai hal yang syubhat-syubhat dan mencari orang-orang yang menentang hukum pemimpin dan rajanya di seluruh wilayah Islam. Diapun menimpakan bencana kepada para penentang pemerintah tanpa belas kasihan dan tanpa rasa takut terhadap Allah Yang Maha Kuasa
Simaklah kisah ajaib dan mengagumkan yang terjadi disekitar kita berikut!. Dalam kitab “Tartibul Madarik” Imam al Qadhi ‘Iyadh mengisahkan cerita dari Ibnu Wahb al-Qurasyi al-Mishry sahabat Imam malik..Ketika ahli-ahli hadits memintanya mendiskripsikan kepada mereka sifat-sifat jannah dan naar. Ia menjawab: ‘Aku tidak tahu, apakah aku mampu melakukannya atau tidak?’ Kemudian
Diriwayatkan dari maula Abu Raihanah, dia berkata, “Abu Raihanah pulang dari suatu peperangan. Setibanya di rumah, beliau menemui istrinya dan makan malam. Setelah itu, beliau minta diambilkan air wudhu kemudian berwudhu. Lalu dia pergi shalat ke masjid dan membaca al-Quran. Selesai dari membaca surat, beliau meneruskan membaca surat berikutnya, begitulah