Kisah Thawus, Malik bin Anas & Khalifah al Manshur

Datang riwayat yang mengatakan bahwa Abu Ja’far Al-Manshur memanggil Thawus -seorang ulama di zamannya- dan bersamanya ada Malik bin Anas -semoga Allah merahmati keduanya-. Setelah keduanya di hadapan Al-Manshur, Al-Manshur menundukkan wajahnya sesaat, kemudian menoleh ke arah Thawus dan berkata kepadanya, “Wahai Thawus kabarkanlah kepada­ku sesuatu dari bapakmu (Ibnu Kaisan seorang tabi’in) wahai Thawus.”

Thawus berkata, “Bapakku mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah seseorang yang Allah menjadikannya sekutu dalam hukum-Nya, kemudian dia memasukkan kezhaliman dalam keadilan Allah'”

Malik berkata, “Aku mencengkeram bajuku karena aku takut akan perpenuhi dengan percikan darahnya.”

Al-Manshur terdiam sesaat, kemudian menoleh ke­pada Thawus dan berkata, “Nasihatilah aku wahai Thawus.”

Dia berkata, “Ya, wahai Amirul Mukminin. Sungguh Allah berfirman,

 “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum ‘Aad (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, dinegeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu yang besar dilembah dan kaum Fir ‘aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti adzab, sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi. “(QS. Al-Fajr: 6­-14).

Malik berkata, “Aku mencengkeram bajuku karena aku takut akan terpenuhi dengan percikan darahnya.”

Al-Manshur kembali terdiam sesaat, kemudian ber­kata, “Ambilkan aku tinta”, lalu Al-Manshur kembali diam sesaat sampai cuaca gelap menyelimuti kami dan dia. Kemudian berkata, “Wahai Thawus, ambilkan tinta itu.” Thawus terdiam tidak melaksanakan perintahnya. Al-Manshur berkata, “Apa yang menghalangimu untuk mengambilkanku tinta?”

Thawus menjawab, “Aku takut engkau menulis de­ngan tinta tersebut kemaksiatan terhadap Allah se­hingga aku menjadi sekutumu dalam kemaksiatan ter­sebut.”

Ketika Al-Manshur mendengar jawaban itu, dia berkata, “Silahkan kalian pergi.”

Thawus berkata, “Itulah yang kami harapkan sejak hari itu.”

Malik berkata, “Aku selalu ingat keutamaan Thawus.”

(Tadzkiratul Huffaazh, 1/160 dan Wafiyyaatul A’yaan, 2/511)

Sumber: Disalin dari buku “Mahkota Di Atas Sajadah, Abdullah Humaid al-Falasi & Wahid Abdussalam Bali, Penerbit at-Tibyan, Hal.33-38  & tambahan dari Buku “Mereka Adalah Para Tabi’in”, Pustaka at Tibyan.

Artikel: www.kisahislam.net

Comments
All comments.
Comments