Kisah Pertama Dikisahkan bahwa Syaikh Muqbil rahimahullah di datangi beberapa pelajar ketika sedang menyampaikan pelajaran. Mereka meminta beliau agar berkenan meruqyah seorang laki-laki yang mengalami kesurupan, yaitu dengan membacakan ayat al-Qur’an kepadanya. Syaikh Muqbil menceritakan sendiri kisah itu: “Maka aku pergi bersama mereka, meskipun aku belum pernah meruqyah seorang pun
Canda Abu Hanifah Dengan Seorang Laki-Laki Suatu ketika, seorang laki-laki datang kepada Abu Hanifah rahimahullah dan bertanya kepadanya: “Jika aku menanggalkan pakaianku lalu menceburkan diri ke sungai untuk mandi, haruskah aku menghadap ke kiblat atau boleh ke arah lainnya?” Abu Hanifah menjawab:”Yang lebih utama adalah pusatkan pandanganmu kepada pakaianmu agar
Muhammad bin Hasan mengisahkan, ada seorang laki-laki yang kemasukan beberapa orang maling di malam hari. Mereka mengambili harta benda miliknya. Saat ketahuan, mereka mengancamnya. Mereka memintanya untuk bersumpah dengan menceraikan istrinya, bila ia mengabarkan kejadian itu. Esok harinya, laki-laki itu melihat sendiri mereka menjual harta benda miliknya. Ia tidak mampu
Ada seorang lelaki bertutur kepada Abu Hanifah. Ia mengeluh, karena ia menyimpan harta di sebuah tempat, di dalam tanah, tapi ia tidak teringat tempat tersebut. Abu Hanifah tercengung sejenak. Lalu berkata: “Sebenarnya, ini bukan soal fiqih. Tapi cobalah kamu melakukan shalat malam hingga menjelang fajar. Insya Allah, kamu akan teringat
‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Janganlah kalian terburu-buru dalam menyampaikan berita serta tergesa-gesa dalam menebarkan berbagai kekejian. Jangan pula menjadi orang yang tidak bisa menyimpan rahasia dan gemar menyebarkannya. Karena sungguh, di belakang kalian menanti malapetaka yang teramat dahsyat, kesempitan hidup, kekejian, azab yang pedih, siksaan berat yang
‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Telah beruntung orang yang dijaga dari hawa nafsu, kemarahan, dan ketamakan.” Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata, “Kemarahan itu adalah kunci dari segala macam kejelekan.” Dikatakan kepada Ibnul Mubarak rahimahullah, “Himpunkanlah untuk kami akhlak-akhlak baik dalam satu kata!” Beliau rahimahullah mengatakan, “Menjauhi marah.” (Jami’ul ‘Ulum
Sepantasnya bagi seorang penuntut ilmu untuk tidak bergaul kecuali dengan orang yang bisa memberinya faedah (ilmu) atau dia (teman tersebut) bisa mengambil faedah (ilmu) darinya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Hendaknya engkau menjadi seorang alim atau orang yang belajar. Jangan menjadi jenis yang ketiga, maka engkau akan
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, ‘Telah berdusta orang yang mengaku mencintai-Ku, namun ketika gelapnya malam menyelimutinya dia justru terlelap dari (beribadah) kepada-Ku. Bukankah setiap pecinta menyukai menyepi berdua dengan kekasihnya? Inilah Aku, mendatangi para pecinta-Ku dengan serta-merta mengawasinya. Sesungguhnya mereka pun telah berdiri
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang pemimpin yang sangat memperhatikan urusan umat dan seluruh pasukannya. Beliau juga sangat perhatian terhadap bawahan serta anggota keluarga. Disamping itu beliau juga tetap menjaga amal ibadah serta wahyu yang diturunkan. Dan banyak lagi urusan lain yang beliau perhatikan. Sungguh merupakan amal yang sangat
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa malu hakikatnya adalah akhlak yang mengantar seseorang untuk meninggalkan kejelekan dan menghalanginya mengurangi hak-hak orang lain.” Kami telah meriwayatkan dari al-Qasim al-Junaidi rahimahullah, ia berkata, “Malu adalah memerhatikan nikmat-nikmat (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan menganggap dirinya kurang (mensyukuri nikmat-nikmat tersebut). Dari keduanya
Ibnul Qoyyim berkata, “Sebagian besar manusia atau bahkan seluruhnya -selain orang-orang yang dikehendaki Alloh- senantiasa menyangka yang tidak benar terhadap Alloh dan berburuk sangka; karena kebanyakan manusia berkeyakinan bahwa bagian mereka kurang dan nasib mereka tidak mujur dikarenakan mereka merasa berhak mendapatkan lebih dari apa yang mereka terima. Seakan-akan kondisinya
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman (yakni zaman beliau hidup, -pen.) yang didapati banyak para ulamanya, sedikit ahli pidatonya, sedikit pula peminta-mintanya, dan berlimpahnya pemberian. Amal perbuatan pada zaman ini merupakan pembimbing bagi berbagai hawa nafsu. Sepeninggal kalian, akan datang suatu masa yang sedikit didapati