Umar memiliki firasat dan pandangan jauh ke depan yang jarang didapati pada siapapun di dunia ini. Ia merupakn sebuah nikmat yang Allah ta’ala berikan kepada Al Faruq radhiyallahu ‘anhu.
Berikut ini adalah contoh yang menandingi matahari dalam kecermelangan dan cahayanya. Ia menjelaskan kepada kita sejauh mana ketajaman firasat dan pandangan jauh tersebut yang ada pada Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
Kisah Pertama
Dari Yahya bin Sa’id rahimahullah, bahwa Umar bin Khaththab berkata kepada seorang laki-laki, ‘Siapa namamu?’
Dia menjawab, ‘Jamrah.” (Jamrah = bara api)
Umar bertanya, ‘Anak siapa?’
Dia menjawab, ‘Bin Syihab.’ (Syihab = bola api/meteor)
Umar bertanya, ‘Dari marga apa?’
Dia menjawab, ‘Dari al Haraqah.’ (Haraqah = panas/terbakar)
Umar bertanya, ‘Dari kabilah apa?’
Dia menjawab, ‘Dari Bani Dhiram.’ (Dhiram = api)
Umar bertanya, ‘Dimana tempat tinggalmu?’
Dia menjawab, ‘Harrrah.’ (Harrah = panas)
Umar bertanya, ‘Disebelah mana?’
Dia menjawab, Dzatu Lazha.’ (Lazha = api/nyala api)
Maka Umar pun berkata kepadanya, ‘Selamatkan keluargamu, karena mereka sekarang terbakar.’
Dan apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab benar-benar terjadi. [1]
Kisah kedua
Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam as-Siyar, Syurahbil menyampaikan kepada kami bahwa al Aswad al ‘Unsi mengakui dirinya sebagai Nabi di Yaman. Dia menghadirkan Abu Muslim Al Khaulani. Dia menyalakan api yang sangat besar dan melemparkan Abu Muslim kedalamnya, tetapi api itu tidak membakarnya…
Seseorang berkata kepada Al Aswad, “Jika engkau tidak mengusir orang ini, dia bisa merusak pengikutmu.”
Maka Al Aswad meminta Abu Muslim agar pergi. Abu Muslim menuju Madinah. Dia menderumkan untanya di masjid. Dia masuk masjid lalu mengerjakan shalat. Umar radhiyallahu ‘anhu melihatnya, (Umar sudah mengira bahwa orang itu adalah Abu Muslim) maka dia berdiri menemuinya.
Umar bertanya, ‘Darimana Anda?’
Dia menjawab, ‘Dari Yaman.’
Umar bertanya, ‘Bagaimana keadaan orang yang dibakar oleh si pendusta?’
Dia menjawab, ‘Dia adalah Abdullah bin Tsub.’
Umar berkata, ‘Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, apakah engkau orangnya?’
Dia menjawab, ‘Ya.’
Maka Umar pun merangkulnya dan menangis. Kemudian Umar membawanya hingga mereka berdua duduk di hadapan ash-Shiddiq, dan dia berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mewafatkanku hingga Dia menunjukkan kepadaku dari Umat Muhammad seorang laki-laki yang dibakar seperti al Khalil Ibrahim.'[2]
Note:
[1] Tariikh al Khulaafaa’ hal.9, Al Ishaabah I/262, ath Thuruq al Hukmiyah hal.29. Dinukil dari Akhbaaru Umar hal.359. Ibnul Atsir berkata dalam Jaami’ul Ushuul, ‘diriwayatkan oleh Malik dalam al Muwaththa’ II/973, kitab Isti’dzaan.
[2] Siyar A’laamin Nubalaa’ IV/7, Tahdziibut Tahdziib XII/236]
Dikutip dari: Shahabat- Shahabat Rasulullah Jil.1 hal.227-228, Syaikh Mahmud al Mishri, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.
Dipublikasikan kembali oleh: www.KisahIslam.net
Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam
=






