Suatu saat, Hasan bin Ziyad al-Lu’lu’i rahimahullah pernah ditanya tentang suatu masalah, ternyata beliau salah memberikan fatwa. Beliau ingin meralatnya tetapi tidak mengenal si penanya. Maka beliau menyewa seseorang untuk mengumumkan kepada manusia: “Hasan bin Ziyad pernah ditanya hari ini tentang masalah ini dan dia keliru dalam fatwanya. Barangsiapa yang bertanya demikian maka hendaknya dia kembali kepada beliau.”
Dalam masa-masa menunggu itu, beliau tidak berfatwa sehingga bertemu dengan si penanya. Akhirnya, ketemu juga si penanya tersebut dan Hasan bin Ziyad menyampaikan bahwa dia telah salah, dan jawaban yang benar seharusnya demikian.
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Persis dengan ini adalah kisah sebagian guru kami bahwa dia pernah memberikan fatwa kepada seseorang yang tinggal di sebuah desa yang jarak antara keduanya empat farsakh. Tatkala orang tersebut pergi, dia berpikir ulang, ternyata dia menyadari bahwa jawabannya keliru. Dia pun berjalan kepada si penanya dan menyampaikan bahwa dia keliru. Akhirnya, setelah kejadian tersebut, setiap kali dia ditanya suatu masalah, maka dia akan berpikir lama seraya mengatakan, ‘Saya tidak kuat lagi untuk berjalan empat farsakh!”‘ (Ta’zhimul Futya hlm. 91-92 oleh Ibnul Jauzi, tahqiq Masyhur bin Hasan Salman)
Demikianlah adab ulama salaf, mereka tidak sombong untuk meralat kesalahan fatwanya sekalipun harus menanggung risiko yang cukup berat. Maka bandingkanlah dengan sikap kebanyakan kita pada zaman ini yang begitu mudah berfatwa dan sangat sulit kembali kepada kebenaran!!
Sumber: Majalah al Furqon, Edisi 6 Tahun Keduabelas, Muharram 1434, Hal.53, Oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi
Artikel: www.KisahIslam.net
Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam
=







syukron 🙂