Khalifah Ali bin Abi Thalib – Bagian Kedua

ISTRI-ISTRI & PUTRA-PUTRI BELIAU

Istri pertama yang dinikahi Ali رضي الله عنه adalah Fathimah binti Rasulullah صلى الله عليه وسلم Ia berkumpul dengannya setelah pulang dari peperangan Badar. Beliau mem-peroleh dua orang putera, al-Hasan dan al-Husain. Ada yang mengatakan putera ketiga beliau bernama Muhasin, namun meninggal dunia saat masih bayi. Beliau memperoleh dua orang puteri, yaitu Zainab al-Kubra dan Ummu Kaltsum al-Kubra yang kemudian dinikahi oleh Umar bin al-Khaththab . Ali tidak menikahi wanita lain di samping Fathimah hingga ia wafat enam bulan setelah wafatnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Setelah Fathimah wafat, Ali menikahi beberapa wanita, diantara istri-istrinya ada yang wafat pada saat beliau masih hidup, ada yang beliau ceraikan dan ketika wafat beliau meninggalkan empat istri.

* Di antara istri-istri beliau.31

*  Ummul Banin binti Hizam. Hizam adalah Abul Muhill bin Khalid bin Rabi’ah bin al-Wahid bin Ka’ab bin Amir bin Kilab. Dari Ummul Banin beliau memperoleh empat orang putera, al-Abbas, Ja’far, Abdullah dan Utsman. Mereka semua terbunuh bersama saudara mereka, yakni al-Husein, di padang Karbala. Tidak ada generasi penerus keturunan ini kecuali al-Abbas.

*  Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik dari Bani Tamim. Dari Laila beliau memperoleh dua orang putera, Ubaidullah dan Abu Bakar. Hisyam bin al-Kalbi berkata, “Keduanya juga terbunuh di padang Karbala. Menurut al-Waqidi, Ubaidullah dibunuh oleh Mukhtar bin Abi Ubaid pada peperangan al-Madzar.

*  Asma’ binti ‘Umais al-Khats’amiyyah, darinya beliau memperoleh dua orang putera: Yahya dan Muhammad al-Ashghar. Demikian dikatakan oleh Ibnul Kalbi.

Al-Waqidi mengatakan, “Beliau memperoleh dua orang putera darinya, Yahya dan ‘Aun, adapun Muhammad al-Ashghar berasal dari ummul walad (budak wanita).”

*  Ummu Habib32 binti Rabi’ah bin Bujair bin al-Abdi bin ‘Alqamah, ia adalah ummu walad (budak wanita) dari tawanan yang ditawan oleh Khalid bin Walid dari Bani Taghlib ketika ia menyerbu wilayah ‘Ainut Tamr. Darinya beliau memperoleh seorang putera bernama Umar -yang diberi umur panjang 85 tahun- dan seorang puteri bernama Ruqayyah.

*  Ummu Sa’id binti Urwah bin Mas’ud bin Mu’attib bin Malik ats- Tsaqafi, darinya beliau memperoleh dua orang puteri, Ummul Hasan dan Ramlah al-Kubra.

*  Binti Umru’ul Qais bin Ady bin Aus bin Jabir bin Ka’ab bin Ulaim bin Kalb al-Kalbiyah. Darinya beliau memperoleh seorang puteri. Suatu ketika Ali membawanya saat ia masih kecil ke masjid, ditanyakan kepadanya, “Siapakah bibimu?” Ia menjawab, “Hugh, hugh!” Maksudnya Bani Kalb.

*  Umamah binti Abil Ash bin ar-Rabi’ bin Abdil Uzza bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay, ibunya adalah Zainab binti Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dialah yang digendong oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam shalat, saat bangkit beliau menggendongnya dan saat sujud beliau meletakkannya. Darinya Ali memperoleh seorang putera bernama Muhammad al-Ausath.

*  Khaulah binti Ja’far bin Qais bin Maslamah bin Ubaid bin Tsa’lab bin Yarbu’ bin Tsa’labah. Ia ditawan oleh Khalid bin Walid pada masa kekha-lifahan Abu Bakar ash-Shiddiq pada peperangan melawan kaum murtad. Ia berasal dari Bani Hanifah. Kemudian ia diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه . Dari Khaulah ini Ali memperoleh seorang putera bernama Muhammad al-Akbar (lebih dikenal dengan sebutan Muhammad bin al-Hanafiyah). Di antara kaum Syi’ah ada yang menganggap beliau sebagai imam yang ma’shum. Ia memang termasuk tokoh kaum muslimin, namun bukanlah ma’shum, ayahnya juga tidak ma’shum bahkan orang yang lebih utama dari ayahnya, yaitu Khulafa’ur Rasyidin sebelum beliau, juga tidak ma’shum,wallahu a’lam.

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه memiliki banyak anak keturunan lainnya dari sejumlah ummu walad (budak wanita). Saat wafat beliau meninggalkan empat istri dan sembilan belas budak wanita. Di antara putera puteri beliau yang tidak diketahui nama ibunya adalah: Ummu Hani’, Maimunah, Zainab ash-Shughra, Ramlah ash-Shughra, Ummu Kaltsum ash-Shughra, Fathimah, Umamah, Khadijah, Ummul Kiram, Ummu Ja’far, Ummu Salamah, Jumanah dan Nafisah.

Ibnu Jarir berkata, “Jumlah keseluruhan anak kandung beliau adalah empat belas orang putera dan tujuh belas orang puteri.”33

Al-Waqidi berkata, “Generasi penerus Ali ada lima; al-Hasan, al-Husain, Muhammad bin al-Hanafiyah, al-Abbas al-Kilabiyah dan Umar bin at-Taghlibiyah.”34

Perjalanan Hidup, Nasihat-nasihat, Khutbah-khutbah dan Wasiat-wasiat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu

Abdul Warits35 meriwayatkan dari Abu Amru bin al-Ala’ dari ayahnya, ia berkata, “Ali berkata dalam khutbahnya,

‘Wahai sekalian manusia, demi Allah yang tiada ilah yang berhak disembah selain Dia. Aku tidaklah mengambil harta kalian sedikit maupun banyak kecuali ini.’ Kemudian beliau mengeluarkan botol kecil berisi parfum dari saku bajunya lalu beliau berkata, ‘Ad-Dihqaan menghadiahkan ini untukku.’

Diriwayatkan dari Abdullah bin Zurair al-Ghafiqi, ia berkata, “Kami datang menemui Ali pada hari ‘Iedul Adha. Lalu beliau menghidangkan khazirah36 kepada kami. Kami berkata, ‘Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, alangkah baik bila engkau hidangkan kepada kami bebek dan angsa ini. Karena Allah telah menurunkan kebaikan yang sangat banyak.’

Ali berkata, ‘Wahai Ibnu Zurair, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِلْخَلِيفَةِ مِنْ مَالِ اللَّهِ إِلاَّ قَصْعَتَانِ: قَصْعَةٌ يَأْكُلُهَا هُوَ وَأَهْلُهُ، وَقَصْعَةٌ يَضَعُهَا بَيْنَ يَدَيِ النَّاسِ

”Tidak halal bagi khalifah mengambil bagian dari harta Allah (maksudnya harta baitul mal) kecuali dua piring saja. Satu piring untuk ia makan bersama keluarganya dan satu piring lagi untuk ia berikan kepada orang lain.“37

Abu Ubaid38 berkata,”Abad bin Awam telah menceritakan kepada kami dari Harun bin ‘Antarah dari ayahnya, ia berkata, ‘Aku datang menemui Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه di al-Khurnaq, beliau mengenakan selimut beludru sambil gemetar menahan dingin. Aku berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah memberikan bagian untukmu dan keluargamu dari harta ini (baitul mal), mengapa anda memilih selimut tipis ini untuk dirimu?’ Ali berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya aku tidak akan mengambil harta kalian sedikitpun. Selimut inilah yang kubawa dari rumahku -atau beliau mengatakan, dari Madinah-.”

Ya’qub bin Sufyan39 berkata, “Abu Bakar al-Humaidi telah menyampaikannya kepada kami, ia berkata, Sufyan telah menyampaikannya kepada kami, ia berkata, Abu Hayyan telah menyampaikannya kepada kami, ia berkata, Dari Mujami’ bin Sam’an at-Taimi, ia berkata, ‘Ali keluar dari rumahnya ke pasar dengan membawa pedangnya. Beliau berkata, ‘Siapakah yang mau membeli pedangku ini? Sekiranya aku punya uang empat dirham untuk membeli sarung niscaya aku tidak akan menjualnya’.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abad bin Awam dari Hilal bin Khabab dari Maula Abu ‘Ushaifir, ia berkata, “Aku melihat Ali bin Abi Thalib Keluar menemui seorang lelaki penjual kain kasar. Ali berkata kepadanya, ‘Apakah engkau menjual gamis sunbulani? Lelaki itu mengeluarkan sepotong gamis lalu Ali pun mengenakannya, ternyata panjang gamis itu sampai ke tengah betisnya. Beliau melihat ke kanan dan ke kiri lalu berkata, ‘Aku lihat ukurannya sudah cocok, berapa harganya?’

Lelaki itu berkata, ‘Empat dirham wahai Amirul Mukminin!’ Beliaupun mengeluarkan uang dari sarungnya dan menyerahkannya kepadanya kemudian beliau pergi1.”40

Muhammad bin Sa’ad41 berkata, “Al-Fadhl bin Dukkain telah menceritkan kepada kami, ia berkata, al-Hur bin Jurmur telah menceritakan kepada kami bahwa ayahnya berkata, ‘Aku melihat Ali keluar dari rumahnya dengan mengenakan dua helai kain Qithriyah42, yaitu sarung sampai ke tengah betis dan selendang yang dilipat, beliau menuntun untanya di pasar sembari menganjurkan manusia agar bertakwa kepada Allah dan berjual beli dengan cara yang baik. Beliau berkata, ‘Sempurnakanlah takaran dan timbangan’.”

Amru bin Syimr43 meriwayatkan dari Jabir al-Ju’fi dari Asy-Sya’bi, ia berkata, “Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menemukan baju perangnya di tangan seorang lelaki Nasrani. Ali mengadukan lelaki itu kepada Syuraih. la mendatangi Syuraih lalu berkata, ‘Hai Syuraih, kalaulah lawanku itu seorang muslim niscaya aku akan duduk bersamanya. Akan tetapi ia adalah seorang Nasrani, Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah bersabda, ‘Jika kalian berpapasan dengan mereka di tengah jalan maka desaklah mereka ke pinggir jalan dan rendahkanlah mereka seperti Allah telah merendahkan mereka tanpa bersikap melampaui batas.’

Kemudian Ali berkata, ‘Baju perang ini adalah milikku, aku tidak pernah menjual dan tidak pernah pula menghadiahkannya.’ Syuraih berkata kepada lelaki Nasrani itu, ‘Bagaimana tanggapanmu terhadap tuduhan Amirul Muk-minin tadi?’ Lelaki Nasrani itu berkata, ‘Baju perang ini adalah milikku. Dan dalam pandanganku Amirul Mukminin bukanlah seorang pendusta.’ Syuraih menoleh kepada Ali dan berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin; adakah bukti-bukti atas tuduhanmu?’ Ali tertawa sembari berkata, ‘Syuraih benar, aku tidak punya bukti.’ Syuraih memutuskan baju perang itu adalah milik lelaki Nasrani. Lalu lelaki Nasrani itu mengambilnya, ia berjalan beberapa langkah kemudian kembali dan berkata, ‘Aku bersaksi bahwa ini adalah hukum para nabi, Amirul Mukminin mengajukan diriku ke majelis hakim dan majelis hakim memutuskan hukum atas dirinya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Demi Allah, baju perang ini adalah milikmu wahai Amirul Mukminin, aku mengikuti pasukan ketika engkau berangkat ke peperangan Shiffin dengan mengendarai untamu yang berwarna abu-abu.’

Ali berkata, ‘Karena engkau sudah masuk Islam maka ambillah baju perang itu.’ Maka lelaki itupun membawanya dengan kudanya.”

Asy-Sya’bi berkata, “Orang-orang yang melihatnya menceritakan kepadaku bahwa ia ikut berperang bersama Ali melawan kaum Khawarij pada peperangan Nahrawan.”

Sa’id bin Ubaid44 meriwayatkan dari Ali bin Rabi’ah, ia berkata, “Ja’dah bin Hubairah datang menemui Ali dan berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, tadi datang dua orang lelaki kepadamu, yang pertama mencintaimu lebih daripada cintanya kepada keluarga dan hartanya. Sedang yang kedua, kalaulah ia sanggup menyembelihmu niscaya ia akan menyembelihmu. Lalu mengapa engkau putuskan memenangkan hukum untuk lelaki yang kedua atas lelaki yang pertama?!’ Ali menegurnya sembari berkata, ‘Kalaulah sekiranya hukum ini milikku tentu akan aku menangkan lelaki yang pertama. Namun hukum ini adalah milik Allah semata.’

Abul Qasim al-Baghawi45 berkata, “Kakekku menceritakan kepadaku, ia berkata, Ali bin Hasyim telah bercerita kepadanya dari Shalih, penjual goni bahwa neneknya berkata, ‘Aku pernah melihat Ali membeli kurma seharga satu dirham. Lalu ia bawa dengan kain selimutnya. Seorang lelaki berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, biar aku saja yang memikulnya untukmu.’ Ali berkata, ‘Kepala keluarga lebih berhak untuk memikulnya’.”

Yahya bin Ma’in46 meriwayatkan dari Ali bin al-Ja’d dari al-Hasan bin Shalih, ia berkata, “Orang-orang sedang membicarakan tentang para zuhad (orang-orang zuhud) di hadapan Umar bin Abdil Aziz. Salah seorang berkata, ‘Si Fulan.’ Yang lain berkata, ‘Si Fulan.’ Lalu Umar bin Abdul Aziz angkat bicara, ‘Orang yang paling zuhud di atas dunia adalah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.

Comments
All comments.
Comments