Khalifah Ali bin Abi Thalib – Bagian Kedua

*Petikan Kata-kata Mutiara Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه

Ibnu Abid Dunya47 meriwayatkan bahwa Ali bin al-Ja’d meriwayatkan kepada kami, ia berkata, “Amru bin Syimr menceritakan kepada kami, ia berkata, Ismail as-Suddi berkata, Aku mendengar Abu Arakah berkata, ‘Aku pernah mengerjakan shalat fajar bersama Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه. Setelah bergeser ke kanan beliau duduk sejenak seolah beliau sedang berduka. Ketika matahari meninggi di atas dinding masjid sejauh satu tombak beliau bangkit dan mengerjakan shalat dua rakaat. Kemudian beliau membalikkan tangan lalu berkata, ‘Demi Allah aku telah melihat sahabat Muhammad , namun sekarang aku tidak melihat seorangpun yang menyerupai mereka. Mereka mengerjakan shalat fajar dengan wajah coklat, rambut acak-acakan dan berdebu, di antara kedua mata mereka terdapat bekas kapalan (kulit yang mengeras) karena mereka melalui malam dengan sujud dan berdiri karena Allah. Mereka membaca Kitabullah, berdiri silih berganti antara dahi dan telapak kaki mereka. Pagi harinya mereka berdzikir mengingat Allah, mereka bergoyang seperti goyangnya pepohonan pada hari angin kencang. Air mata mereka berlinang hingga pakaian mereka basah. Demi Allah, seolah-olah orang sekarang melewati malam dalam keadaan lalai.’

Kemudian beliau bangkit dan tidak pernah terlihat beliau berhenti ibadah dan tertawa hingga musuh Allah, al-Fasiq Ibnu Muljam, membunuh beliau.”

Waki’48 meriwayatkan dari Amru bin Munabbih dari Aufa bin Dalham dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه bahwa beliau berkata, “Tuntutlah ilmu niscaya kamu akan dikenal karenanya. Amalkanlah ilmu niscaya kamu akan menjadi ahlinya. Sebab akan datang satu zaman suatu saat nanti yang mana sembilan puluh persen dari kebenaran akan diingkari. Tidak akan selamat darinya kecuali setiap nuwamah49 yang memberantas penyakit. Merekalah imam di atas hidayah dan lentera ilmu, bukan orang yang sembrono dan madzayi’ budzur.”50

Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya dunia telah pergi berlalu dan akhirat akan datang menyongsong. Masing-masing memiliki anak. Jadilah kamu anak akhirat dan janganlah menjadi anak dunia. Ketahuilah, sesungguhnya orang zuhud di dunia adalah yang menjadikan bumi sebagai tikarnya, tanah sebagai pembaringannya, air sebagai wewangiannya. Ketahuilah, barangsiapa rindu kepada akhirat maka ia akan menahan diri dari syahwat. Barangsiapa takut kepada api neraka maka ia akan meninggalkan perkara haram. Barangsiapa mengejar surga maka ia akan segera berbuat taat. Barangsiapa zuhud di dunia maka akan terasa ringan musibah baginya. Ketahuilah, sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang seakan-akan mereka melihat penduduk surga kekal di dalam surga dan melihat penduduk neraka diadzab di dalamnya. Keburukan mereka dapat diamankan, hati mereka senantiasa bersedih, diri mereka selalu terpelihara kesuciannya, kebutuhan mereka sedikit, mereka sabar melalui hari-hari yang tinggal sedikit dan pergi untuk memperoleh ketenangan abadi di akhirat. Pada malam hari mereka merapatkan kaki-kaki mereka dalam barisan shalat, air mata mereka mengalir di pipi mereka, mereka merintih memohon kepada Rabb mereka seraya berkata, ‘Ya Rabbi, ya Rabbi!’

Mereka meminta pembebasan diri mereka (dari api neraka). Siang hari mereka adalah ulama yang santun, orang baik lagi bertakwa. Seolah-olah mereka tonggak yang dilihat oleh orang-orang sembari berkata, ‘Orang sakit!’ Padahal mereka bukanlah orang yang sakit’.”

Waki’51 meriwayatkan dari Amru bin Munabbih dari Aufa bin Dal-ham, ia berkata, “Pada suatu hari Ali berkhutbah, ia berkata dalam khutbahnya,

‘Amma ba’du, sesungguhnya dunia akan segera pergi dan mengucapkan selamat tinggal. Dan sesungguhnya akhirat akan segera tiba dan mengucapkan selamat datang. Sesungguhnya mulai pada hari ini dan berakhir pada esok hari. Ketahuilah, sesungguhnya kalian hidup pada masa-masa penuh harapan, di hadapannya telah menunggu ajal. Barangsiapa menyia-nyiakan masa harapannya sebelum ajal tiba berarti sia-sialah amalnya. Beramallah hanya karena Allah pada saat senang sebagaimana kamu beramal pada saat takut. Ketahuilah, belum pernah aku melihat seperti surga, orang-orang yang ingin mengejarnya malah terlelap. Dan belum pernah aku melihat seperti neraka, orang-orang yang ingin lari darinya malah terlena. Ketahuilah, sesungguhnya kalian telah diperintahkan untuk berangkat dan telah ditunjukkan perbekalan kepadamu. Ketahuilah wahai hadirin sekalian, sesungguhnya dunia adalah materi yang telah tersedia, yang dapat dinikmati oleh orang baik dan orang jahat. Dan sesungguhnya akhirat adalah janji yang benar. Raja Yang Mahakuasa akan menjatuhkan hukumNya. Ketahuilah, sesungguhnya setan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat jahat, sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia. Dan Allah Maha luas karuniaNya dan Maha Mengetahui. Wahai sekalian manusia, berbuat baiklah sepanjang usiamu dan jagalah masa depanmu. Karena Allah telah menjanjikan surga bagi yang mentaatiNya dan mengancam dengan neraka terhadap orang yang mendurhakaiNya. Neraka yang tidak pernah tenang gejolaknya, tidak akan bisa lari tawanannya dan tidak akan dapat diperbaiki siapa saja yang hancur di dalamnya. Panasnya sangat tinggi, lubang-nya sangat dalam dan airnya adalah nanah. Sesungguhnya perkara yang sangat aku takutkan atas kamu adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu dapat menghalanginya dari kebenaran dan panjang angan-angan dapat membuatnya lupa akhirat.”

* Nash Wasiat Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ini adalah wasiat Ali bin Abi Thalib, bahwasanya dia bersaksi tiada ilah yang berhak disembah selain Allah semata tiada sekutu bagiNya. Dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Yang telah mengutusnya dengan membawa hidayah dan dien yang haq agar mengatasi segala agama walaupun orang-orang musyrikin benci. Kemudian setelah itu, sesungguhnya shalatku, ibadahku (yakni penyembelihan korban), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagiNya, demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku termasuk seorang muslim. Aku wasiatkan kepadamu hai Hasan, juga kepada seluruh putera-puteri, istri-istriku dan siapa saja yang sampai kepadanya wasiatku ini agar bertakwa kepada Allah dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Berpegang teguhlah kalian seluruhnya dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah, sesungguhnya aku mendengar Abul Qasim صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Sesungguhnya mendamaikan dua pihak yang berselisih lebih utama daripada banyak ibadah shalat dan puasa.“

Perhatikanlah hak-hak karib kerabatmu, sambunglah tali silaturahim dengan mereka niscaya Allah akan meringankan hisabmu. Jagalah hak-hak anak yatim! Jangan sampai mulut mereka tidak berisi makanan52(jangan sampai mereka kelaparan). Janganlah mereka terlantar di hadapan kalian. Peliharalah hak-hak tetanggamu, sesungguhnya nabi kalian telah berwasiat agar berbuat baik kepada tetangga. Beliau senantiasa mewasiatkannya sehingga kami mengira beliau akan memberi hak waris bagi tetangga. Jagalah hak-hak al-Qur’an, janganlah kalian didahului orang lain dalam mengamalkannya. Jagalah ibadah shalat, karena shalat adalah tiang agama kalian. Jagalah hak-hak rumah Rabb kalian (masjid), janganlah sampai kosong selama kalian masih hidup. Sesungguhnya apabila kalian meninggalkannya niscaya kalian tidak akan dihiraukan. Peliharalah ibadah bulan Ramadhan. Karena berpuasa pada bulan Ramadhan adalah perisai dari api neraka. Peliharalah jihad fi sabilillah dengan harta dan jiwa raga kalian. Jagalah pembayaran zakat, karena zakat dapat memadamkan kemarahan Ar-Rabb سبحانه وتعالى. Jagalah hak-hak orang yang dilindungi oleh nabi kalian, janganlah mereka dizhalimi dihadapan kalian. Jagalah hak-hak sahabat nabi kalian, sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah mewasiatkan agar menjaga hak-hak mereka. Jagalah hak-hak kaum faqir miskin, berilah mereka dari sebagian rezeki kalian. Jagalah hak-hak budak yang kalian miliki, karena itulah pesan terakhir yang disampaikan oleh Rasulullah saw. beliau bersabda,

“Aku mewasiatkan agar kalian memperhatikan dua manusia yang letnah, yakni wanita dan budak-budak yang kalian miliki.“

Jagalah ibadah shalat, jagalah ibadah shalat, janganlah kalian takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela dalam menegakkan agama Allah niscaya kalian akan terhindar dari kejahatan orang-orang yang bermaksud jahat kepadamu dan ingin berlaku semena-mena terhadapmu. Berkatalah kepada manusia dengan perkataan yang baik seperti yang telah Allah perintahkan kepadamu. Janganlah kalian tinggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, jika tidak maka orang-orang yang jahat akan berkuasa atas kalian sehingga doa kalian tidak dikabulkan. Hendaklah kalian saling menyambung ikatan dan saling memberi, dan hindarilah saling membelakangi, saling memutus hubungan dan berpecah belah. Bertolong-tolonganlah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan, janganlah bertolong-tolongan dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha keras siksaNya. Semoga Allah menjaga kalian dari dan semoga Allah menjaga nabi kalian di tengah-tengah kalian, aku ucapkan selamat berpisah wassalamu ‘alaikum iva rahmatullah.”53

FOOT NOTE:

31 Ath-Thabaqat al-Kubra, 3/19-20 dan Tarikh ath-Thabari, 5/153-155.

32 Namanya ash-Shahba’ seperti yang disebutkan dalam kitab ath-Thabaqat, 3/20 dan Nasab Quraisy karangan az-Zubairi  halaman 42.

33 Dalam kitab Ibnu Sa’ad 3/20 disebutkan: Sembilan belas orang puteri, sesuai dengan yang disebutkan secara rinci di sini.Ibnu Katsir menukilnya dari ath-Thabari dalam Tarikhnya, 5/155, “Barangkali perkataannya Tujuh belas orang puteri adalah kesalahan tulis.”

34 Dalam kitab Ath-Thabaqat al-Kubra, 3/20 Muhammad bin Sa’ad mengatakan, ‘Tidak ada riwayat yang shahih yang sampai kepada kami tentang putera puteri Ali selain mereka yang telah kami sebutkan tadi.”

35 Diriwayatkan oleh Ibnu Asaakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/373-374 (Manuskrip asli) dari jalur Abdul Warits.

36 Khazirah adalah daging yang diiris kecil-kecil kemudian di masak dengan air yang banyak dan garam, apabila sudah matang ditaburkan gandum di atasnya lalu diaduk sampai rata kemudian dihidangkan dengan lauk yang lainnya. Disebutjuga alhisaa’yang terbuat dari lemak dan gandum. Silakan lihat Kamus al-Wasith.

37 Hadits riwayat Ahmad dalam al-Musnad, 1/78, sanadnya shahih, sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/374 dari jalur Imam Ahmad.

38 Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 1/82 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/374 keduanya dari jalur Abu Ubaid.

39 Al-Ma’rifah wat Tarikh, 2/683 sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/375 dari jalu Ya’qub bin Sufyan.

40 Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/375 dari jalur Imam Ahmad.

41 Ath-Thabaqatul Kubra, 3/28.

42 Qithriyah adalah sejenis kain berwarna merah yang berasal dari wilayah Bahrain, silakan lihat Lisanul Arab.

43 Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/377 dari jalur Amru bin Syimr. Ketika mengomentari hadits-hadits dalam kitab al-Muhadzdzab Ibnu Asakir berkata, “Sanadnya majhul.” Demikian disebutkan dalam kitab al-Irwaa’. Al-Albani berkata, “Sanadnya sangat lemah sekali, Amru dan Jabir, yakni Jabir bin Yazid al-Ju’fi adalah dua orang perawi matruk. Silakan lihat Irwaul Ghalil, 8/243.

44 Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/378 dari jalur Sa’id bin Ubaid

45 Tarikh Dimasyq, 12/378 dari jalur Abul Qasim al-Baghawi

46 Tarikh Dimasyq, 12/379 dari jalur Yahya bin Ma’in.

47 Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/380 dari jalur Ibnu Abid Dunya.

48 Tarikh Dimasyq, 12/380-381 dari jalur Waki’.

49 Nuwamah maksudnya adalah orang-orang yang menahan diri pada saat terjadi fitnah (pertumpahan darah), ia tidak melibatkan diri sedikitpun. Silahkan lihat Lisanul Arab.

50 Madzayi’ artinya orang yang suka menyiarkan berita. Budzur artinya orang yang suka membuka rahasia dan tidak dapat menyembunyikannya. Silahkan lihat Lisanul Arab

51 Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/383 dari jalur Waki’.

52 Dalam Tarikh ath-Thabari diriwayatkan dengan lafal: wa la tu’nuu. Wa laa ta’fuu afwahahum artinya jangan kosongkan mulut mereka dari makanan

53 Al-Bidayah wan Nihayah, 11/16-17.

Sumber: Disalin dari (via Maktabah Abi Humaid):
Judul Asli: Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah
Penulis: al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir
Pennyusun: Dr.Muhammad bin Shamil as-Sulami
Penerbit: Dar al-Wathan, Riyadh KSA. Cet.I (1422 H./2002 M)
Edisi Indonesia: Al-Bidayah wan-Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin
Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari
Muraja’ah: Ahmad Amin Sjihab, Lc
Penerbit: Darul Haq, Cetakan I (Pertama) Dzulhijjah 1424 H/ Pebruari 2004 M.

Dipublikasikan kembali: www.KisahIslam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

Comments
All comments.
Comments