Menurut mereka ilmu orang-orang Nasrani bersumber kepadanya, maka Zaid bertanya kepadanya tentang Hanifiyah agama Ibrahim, maka rahib itu berkata, “Sesungguhnya engkau mencari agama. Engkau tidak akan menemukan orang yang menunjukkanmu kepadanya pada hari ini, tetapi sudah tiba saatnya kehadiran suatu masa di mana seorang Nabi akan muncul di negerimu yang telah engkau tinggalkan. Nabi tersebut diutus membawa Hanifiyah agama Ibrahim. Pulanglah, karena sekarang dia diutus. Ini adalah zamannya.”
Zaid telah mempelajari Yahudi dan Nasrani, namun dia tidak menerima apa pun dari keduanya. Maka Zaid pulang dengan segera begitu dia mendengar apa yang diucapkan oleh rahib itu. Dia ingin pulang ke Makkah, tetapi di tengah negeri Kabilah Lakham, orang-orang menyerangnya dan membunuhnya.[6]
Di akhir kesempatan dalam hidupnya, Zaid memandang ke langit. Dia berkata, “Ya Allah, jika aku tidak berhasil mendapatkan kebaikan ini, biarkanlah anakku Sa’id yang mendapatkannya.”
Allah mengabulkan do’anya yang penuh berkah. Anaknya, Sa’id رضي الله عنه , termasuk orang-orang angkatan pertama yang masuk Islam. Sa’id رضي الله عنهmasuk Islam sebelum Nabi صلى الله عليه وسلم masuk rumah Al-Arqam.
Sa’id رضي الله عنه harus memikul bagian dari siksaan karena keislamannya.
Dari Qais bin Hazim رضي الله عنه, ia berkata, “Aku mendengar Sa’id bin Zaid berkata kepada orang-orang, “Seandainya engkau melihatku pada saat ‘Umar -sebelum ia masuk Islam- mengikatku dan mengikat saudara perempuannya karena masuk Islam. Seandainya seseorang marah karena apa yang telah kalian perbuat terhadap ‘Utsman, niscaya dia berhak untuk marah.[7]”[8]
Islamnya Sa’id رضي الله عنه diikuti oleh isterinya, Fathimah binti Al-Khaththab رضي الله عنها, saudara perempuan ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه. Allah menjadikan dua orang ini sebagai sebab ‘Umar masuk Islam, sekalipun sebab mendasar ‘Umar masuk Islam adalah do’a Nabi صلى الله عليه وسلم:
اللهم أعز الإسلام بأحب هذين الرجلين إليك: بأبى جهل أو بعمر بن الخطاب
“Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang lebih Engkau cintai: Abu Jahal atau ‘Umar bin Al-Khaththab.”
Yang lebih Allah cintai adalah ‘Umar.[9]
KEMULIAAN BESAR
Dari Sa’id bin Zaid رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Tenanglah wahai Hira’! karena di atasmu hanyalah seorang Nabi atau shiddiq atau syahid.”
Di atasnya adalah Nabi صلى الله عليه وسلم, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad, ‘Abdurrahman, dan Sa’id bin Zaid.[10]
ALLAH MENGABULKAN DO’ANYA
Dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya bahwa Arwa binti Uwais menuntut Sa’id dengan tuduhan telah mengambil sebagian dari tanah miliknya. Ia melaporkan Sa’id kepada Marwan bin Al-Hakam. Sa’id berkata, “Apakah aku mengambil sebagian dari tanahnya setelah aku mendengar dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم?” Marwan bertanya, “Apa yang engkau dengar dari beliau?” Sa’id menjawab, “Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Barangsiapa mengambil satu jengkal tanah secara zhalim niscaya tanah itu sampai tujuh lapisnya akan dipikulkan kepadanya.”
Maka Marwan berkata, “Aku tidak meminta bukti lain darimu setelah ini.” Sa’id berkata, “Ya Allah, jika wanita itu dusta, butakanlah matanya dan matikanlah ia di tanahnya sendiri.” Dia (‘Urwah perawi hadits) berkata, “Wanita tersebut tidak mati hingga dia buta. Kemudian ketika wanita itu berjalan di tanahnya, dia terjatuh ke dalam sebuah lubang lalu dia mati.”[11]
Saya menulis kisah ini untuk setiap pelaku kezhaliman di muka bumi ini bersama firman Allah Ta’ala:
وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ
“…Dan orang-orang yang zhalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” {QS. Asy-Syu’ara’: 227.}
Dan firman Allah:
وَلاَ تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأَبْصَارُ
“Dan janganlah engkau mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang zhalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada hari itu mata (mereka) terbelalak.” {QS. Ibrahim: 42.}
JIHAD SA’ID رضي الله عنه DI JALAN ALLAH
Sa’id رضي الله عنه telah ikut dalam seluruh peperangan selain Perang Badar karena Nabi صلى الله عليه وسلم mengutusnya untuk suatu tugas penting. Sa’id رضي الله عنه pulang dari tugas tersebut ketika Nabi صلى الله عليه وسلمkembali membawa kemenangan. Maka Nabi صلى الله عليه وسلم memberikan bagiannya dari harta rampasan perang sehingga dia seperti orang yang ikut serta dalam Perang Badar.
Sa’id رضي الله عنه terus hadir dalam setiap peperangan setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم wafat. Dia mencari syahadah (mati syahid) di jalan Allah dan dia tidak menerima selainnya sebagai pengganti.
KEPAHLAWANAN SA’ID رضي الله عنهDI PERANG AJNADIN
Di perang ini Sa’id رضي الله عنه adalah panglima pasukan berkuda. Dia termasuk orang yang paling keras dalam perang. Dialah yang mengusulkan kepada Khalid رضي الله عنه agar memulai perang ketika pasukan Romawi melempari kaum Muslimin dengan anak panah. Sa’id bin Zaid رضي الله عنه berteriak kepada Khalid رضي الله عنه, “Mengapa kita menjadi sasaran orang-orang Ajam. Mereka telah menghujani kita dengan anak panah sehingga kuda-kuda sulit untuk dikendarai.” Maka Khalid رضي الله عنه menghadap kepada pasukan berkuda kaum Muslimin. Dia berkata kepada mereka, “Seranglah, semoga Allah merahmati kalian, dengan nama Allah.” Khalid menyerang tentara Romawi dan diikuti oleh seluruh kaum Muslimin. Mereka teguh dan sabar menghadapi dua kali serangan orang-orang Romawi atas mereka: sekali ke bagian kanan pasukan dan sekali ke bagian kiri. Kemudian kaum Muslimin teguh menghadapi hujan anak panah mereka. Pasukan kaum Muslimin bergerak menyerbu orang-orang Romawi dan mereka hanya memberikan perlawanan sesaat, setelah itu mereka kocar-kacir. Mereka menderita kekalahan hebat. Kaum Muslimin membunuhi mereka sesuka hati dalam jumlah besar dan menguasai markas mereka berikut isinya.
Dalam Tarikh Ath-Thabari disebutkan dari Ibnu Ishaq, ketika Qubqular, panglima pasukan Romawi, melihat kehebatan daya tempur dan serangan kaum Muslimin, dia berkata kepada pasukannya, “Tutupilah kepalaku dengan kain.” Mereka bertanya, “Mengapa?” Dia menjawab, “Hari yang sangat buruk. Aku tidak ingin melihatnya. Aku tidak pernah melihat dunia yang lebih buruk daripada ini.” Kaum Muslimin memenggalnya dalam keadaan kepalanya tertutup kain.
SINGA DALAM PERANG YARMUK
Barangkali inilah kepahlawanan yang paling cemerlang dari Sa’id رضي الله عنه, yaitu apa yang dia abadikan dalam sejarah Perang Yarmuk.
Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail رضي الله عنه berkata, “Pada Perang Yarmuk jumlah kami sekitar 24 ribu orang, sedangkan orang-orang Romawi keluar dalam jumlah 120 ribu pasukan. Mereka bergerak menuju kami dengan langkah-langkah berat seolah-olah mereka adalah gunung yang digerakkan oleh tangan-tangan yang tersembunyi. Di depan mereka para pendeta, para pastur, dan para tokoh agama Nasrani berjalan membawa salib dan mereka mengeraskan puji-pujian lalu pasukan menirukannya di belakang mereka. Suara mereka bergemuruh layaknya suara halilintar. Ketika jumlah mereka yang sedemikian besar itu Nampak di hadapan kaum Muslimin, kaum Muslimin tercengang; hati mereka tersusupi oleh sedikit ketakutan. Pada saat itu Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah رضي الله عنه berdiri mendorong kaum Muslimin untuk berperang. Dia berkata, “Wahai hamba-hamba Allah! Tolonglah (agama) Allah niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian. Wahai hamba-hamba Allah! Bersabarlah, karena kesabaran adalah keselamatan dari kekufuran dan mengundang ridha Rabb serta pengusir kehinaan. Siapkan tombak, berlindunglah dengan tameng, diamlah selain dari mengingat Allah عز وجلpada diri kalian sampai aku memerintahkan kalian, in sya Allah”.”
Sa’id رضي الله عنه berkata, “Pada saat itu seorang laki-laki keluar dari barisan kaum Muslimin. Dia berkata kepada Abu ‘Ubaidah, “Aku bertekad untuk mati saat ini. Adakah engkau ingin berkirim pesan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم?” Maka Abu ‘Ubaidah رضي الله عنه menjawab, “Ya,” sampaikan salamku dan salam kaum Muslimin kepada beliau. Katakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Rabb kami adalah benar”.”
Sa’id رضي الله عنه berkata, “Begitu aku mendengar kata-katanya dan aku melihatnya menghunus pedangnya lalu dia berjalan maju menyongsong musuh-musuh Allah, aku langsung menjatuhkan diri ke tanah, duduk berlutut. Aku menyiapkan tombakku. Aku menusuk seorang penunggang kuda pertama yang menyerang kami kemudian aku melompat ke arah musuh. Allah telah mencabut seluruh rasa takut yang ada di dalam hatiku, maka kaum Muslimin maju menyerang pasukan Romawi sehingga Allah menetapkan kemenangan untuk kaum Muslimin.”[12]
Hubaib bin Salamah رضي الله عنه berkata, “Pada Perang Yarmuk kami sangat terbantu oleh Sa’id bin Zaid رضي الله عنه, sungguh luar biasa dia! Sa’id tidak lain kecuali singa. Ketika melihat orang-orang Romawi dan takut kepada mereka, dia menjatuhkan dirinya di tanah dan duduk berlutut. Begitu orang-orang Romawi mendekatinya, dia melompat menyongsong mereka layaknya singa. Dengan tombaknya dia menusuk orang pertama dari pasukan Romawi dan membunuhnya. Dia terus berperang dengan berjalan kaki sebagai seorang pemberani tidak kenal takut. Dia juga berperang dengan berkuda sementara orang-orang bergabung kepadanya.”[13]
SAATNYA UNTUK BERPISAH
Setelah perjalanan hidup yang penuh pemberian, pengorbanan, dan jihad di jalan Allah, Sa’id bin Zaid رضي الله عنه pergi meninggalkan dunia ke Surga Allah Yang Maha Pengasih. Dia termasuk sepuluh orang Sahabat yang dijamin Surga. Sa’id رضي الله عنه wafat di Al-‘Aqiq lalu dibawa ke Madinah dan di sana dia dikebumikan. Sa’ad bin Abi Waqqas رضي الله عنه memandikannya. Orang yang meletakkannya di kuburan adalah Sa’ad dan Ibnu ‘Umar رضي الله عنهم. Hal itu pada tahun ke-50 atau 51H. Pada hari itu Sa’id berusia 70 tahun lebih. Semoga Allah meridhai Sa’id dan Sahabat-Sahabat yang lainnya.
Note:
[1]. Al-Isti’aah karya Ibnu ‘Abdil Barr (IV/188) dan Al-Ishaabah (IV/188).
[2]. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq (no.3828), kitab: Al-Manaaqib, dan Al-Hakim (III/404), dia menyambungkan sanadnya serta menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.
[3]. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (no.1647). Syaikh Ahmad Syakir رحمه الله berkata, “Sanadnya shahih”.
[4]. Mifa’ah pada dasarnya adalah dataran tinggi.
[5]. Wilayah di Damaskus perbatasan Omman, di sana terdapat banyak desa dan ladang pertanian yang luas. Dikatakan oleh Yaqut (dalam Mu’jamul Buldan).
[6]. As-Siirah karya Ibnu Hisyam (I/191-198) dengan gubahan.
[7]. Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله dalam Fathul Baari (VII/176) berkata, “Ad-Dawudi berkata, “Maknanya, seandainya kabilah-kabilah bergerak dan menuntut balas dendam atas kematian ‘Utsman, niscaya mereka pantas untuk melakukannya.” Hadits ini menetapkan keutamaan Sa’id bin Zaid dan bahwa dia dan istrinya termasuk orang-orang angkatan pertama yang masuk Islam.”
[8]. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no.3867) dari Qais bin Hazim رضي الله عنه.
[9]. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no.3681) dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahih At-Tirmidzi (no.2907).
[10]. Al-Arnauth berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad (I/187, 188, 189) dan Abu Dawud (no.4648) dengan sanad shahih.”
[11]. Diriwayatkan oleh Muslim (no.1231).
[12]. Shuwar min Hayatish Shahabah (I/155-158) karya Dr. ‘Abdurrahman Ra’fat Basya, cet. Muassasah Ar-Risalah.
[13]. Tarikh Ibni ‘Asakir (I/541) dan Al-Azdi (226).
Sumber: Sahabat-Sahabat Rasulullah, Syaikh Mahmud Al Mishri, Pustaka Ibnu Katsir
Artikel: www.KisahIslam.net






