Biografi Ulama

Biografi Ulama Tabi’in: Sa’id bin Musayyib [Bagian 05]

7. Sa’id bin al Musayyab Rahimahullah Menikahkan Puterinya

Dari Abu Bakar bin Abi Dawud, dia mengatakan, “Puteri Said bin Al-Musayyib telah dipinang oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk dinikahkan dengan puteranya yang bernama Al-Walid. Tapi Sa’id menolaknya. Dia terus membuat dalih alasan kepada Abdul Malik hingga Abdul Malik mencambuknya seratus kali pada hari yang dingin, menuangkan air guci kepadanya, dan memakaikan jubah wol kepadanya. Kemudian Abu Bakar bin Abu Dawud mengatakan, Ahmad putra saudaranya, Abdurrahman bin Wahb, bahwa Umar bin Wahb menceritakan kepada kami dari Aththaf bin Khalid, Dari Ibnu Harmalah, dari Ibnu Abi Wada’ah -yakni Katsir-, dia mengatakan, “Aku biasa duduk di majelis Sa’id bin al-Musayyab, lalu dia kehilanganku selama beberapa hari. Ketika aku datang kepadanya, dia bertanya, ‘Di mana kamu berada? Aku menjawab, ‘Istriku meninggal sehingga aku sibuk dengannya.’ Dia mengatakan, ‘Mengapa engkau tidak memberitahu kami sehingga kami bisa melayatnya.’ Kemudian dia bertanya, ‘Apakah engkau sudah mendapatkan istri lagi?’ Aku menjawab, ‘Semoga Allah merahmatimu. Siapakah yang akan menikahkan putrinya denganku, sedangkan aku tidak memiliki kecuali dua atau tiga dirham?’ Dia menjawab, ‘Aku yang akan menikahkanmu.’ Aku bertanya, ‘Engkau akan melakukannya?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Kemudian setelah dia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi, dia menikahkan aku dengan mahar dua dirham -atau tiga dirham-. Aku pun berdiri dan aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat karena sedemikian gembiranya.

Aku pulang ke rumah, dan mulai berpikir kepada siapa aku akan berhutang. Aku shalat Maghrib, dan setelah itu kembali ke rumah, sedangkan aku sendirian dalam keadaan berpuasa. Aku pun mengambil makan malamku untuk berbuka, yaitu berupa roti dan minyak. Tiba-tiba di pintu rumahku ada yang mengetuk, maka aku bertanya, ‘Siapa ini?’ Dia menjawab, ‘Sa’id.’ Aku berpikir tentang setiap orang yang bernama Sa’id selain Sa’id bin al-Musayyab, karena dia tidak pernah terlihat selama 40 tahun kecuali pasti berada antara rumahnya dan masjid. Aku pun keluar, ternyata dia adalah Sa’id bin al-Musayyab. Aku menyangka bahwa dia telah berubah pikiran. Aku katakan, ‘Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau tidak mengutus seseorang kepadaku sehingga akulah yang datang kepadamu.’ Dia mengatakan, ‘Tidak, engkau lebih berhak untuk didatangi. Engkau adalah laki-laki yang membujang lalu engkau menikah, maka aku tidak suka bila engkau melewati malam sendirian. Inilah istrimu.’ Ternyata putrinya berdiri di belakang tubuhnya yang tinggi. Kemudian dia memegang tangan putrinya lalu mendorongnya ke pintu, dan menutup pintu. Wanita itu pun jatuh karena malu, lalu aku mengunci pintu.

Aku meletakkan piring di bawah lampu agar dia tidak melihatnya. Kemudian aku naik loteng lalu aku berteriak kepada orang-orang (tetanggaku), maka mereka datang kepadaku seraya bertanya, ‘Ada apa denganmu?’ Aku pun memberitahu mereka, dan mereka datang kepadanya. Ketika hal itu sampai pada ibuku, maka dia datang seraya mengatakan, ‘Wajahku haram terhadap wajahmu, jika engkau menyentuhnya sebelum aku mendandaninya hingga tiga hari.’

Dia pun tinggal selama tiga hari, kemudian aku menemuinya, ternyata dia adalah wanita yang paling cantik, paling hafal Kitabullah, paling mengerti Sunnah Rasulullah, dan paling tahu tentang hak suami. Aku pun berdiam selama sebulan tanpa pernah mendatangi Said bin al-Musayyab. Kemudian aku mendatanginya saat berada dalam halaqah, lalu aku mengucapkan salam dan dia menjawab salamku. Dia tidak mengajakku bercakap-cakap hingga majelis selesai. Ketika tidak tersisa lagi kecuali aku, maka dia mengatakan, ‘Bagaimana keadaan orang itu?’ Aku menjawab, ‘Baik, wahai Abu Muhammad, (keadaannya baik) sesuai dengan yang disukai oleh teman (pasangan) dan tidak disukai oleh musuh.’ Dia mengatakan, jika ada sesuatu yang mencurigakanmu, maka selesaikan dengan tongkat.’ Aku pun pulang ke rumahku, lalu dia memberikan kepadaku 20.000 dinar. ‘[1]

Abu Bakar bin Abi Dawud mengatakan, “Ibnu Abi Wada’ah adalah Katsir bin Abdul Muththalib bin Abu Wada’ah.”
Adz-Dzahabi mengatakan, “la adalah Sahmi, Makki, meriwayatkan dari ayahnya, al-Muththalib, salah seorang yang masuk Islam dalam penaklukan Makkah, sedangkan yang meriwayatkan darinya adalah putranya, Ja’far bin Katsir dan Ibnu Harmalah.

8. Ujian Yang di Hadapi Sa’id bin al-Musayyab Rahimahullah
Dari Abdullah bin Ja’far dan selainnya, mereka berkata, Ibnu az-Zubair mengangkat Jabir bin al-Aswad bin Auf az-Zuhri sebagai gubernur Madinah, lalu dia menyeru khalayak untuk membai’at Ibnu az-Zubair, maka Sa’id bin al-Musayyab mengatakan, “Tidak, hingga manusia berkumpul.” Maka dia memukulnya enam puluh kali cambukan. Ketika hal itu sampai kepada Ibnu az-Zubair, maka dia menulis surat kepada Jabir yang berisikan celaan terhadapnya, dan mengatakan, “Tidak ada urusan kami dengan Sa’id, biarkanlah ia.” [94]

Dari mereka bahwa Abdul Aziz bin Marwan meninggal di Mesir pada tahun 84, maka Abdul Malik mengangkat kedua putranya, al-Walid dan Sulaiman sebagai putra mahkota, dan dia menulis surat pembai’atan untuk mereka ke berbagai negeri, serta kepada gubernurnya atas Madinah saat itu. Namun Sa’id bin al-Musayyab menolak untuk membai’at keduanya seraya mengatakan, “Hingga aku lihat lebih dulu.” Maka, Hisyam pun mencambuknya dengan 60 kali cambukan. Kemudian, membawanya keliling dengan memakai celana terbuat dari bulu hingga sampai di puncak Tsaniyyah. Ketika mereka memutarnya, maka Sa’id bertanya, “Ke mana engkau akan memutarkan aku.” Mereka menjawab, “Ke penjara.” Dia mengatakan, “Demi Allah, sekiranya aku tidak menduganya (ajaran) salib, niscaya aku tidak memakai celana ini selamanya.” Mereka pun mengembalikannya ke penjara dan mendekam di sana. Hisyam berkirim surat kepada Abdul Malik untuk mengabarkan kepadanya dengan (berita) yang menyelisihinya. Abdul Malik pun menulis surat kepadanya untuk mengecamnya atas tindakannya terhadap Sa’id seraya mengatakan, “Sa’id, demi Allah, lebih butuh untuk engkau hubungi kaum kerabatnya daripada engkau pukul. Aku benar-benar tahu bahwa dia memiliki tindakan menyelisihi. “[95]

Dari Sufyan, dari seorang laki-laki, dari keluarga Imran, dia mengatakan, Aku berkata kepada Sa’id bin al-Musayyab, “Doakanlah kejelekan untuk Bani Umayyah.” Maka Sa’id bin al-Musayyab berdoa, “Ya Allah, muliakanlah agamaMu, menangkanlah para kekasihMu, dan hinakanlah para musuhMu, dalam afiyat (keselamatan) untuk umat Muhammad. ‘[96]

Bersambung Insyaallah..

Sumber: 60 Biografi Ulama Salaf, Syaikh Ahmad Farid, Penerbit Darul Haq, Cetakan Pertama

Foot Note:

[1] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 2/167, clan disebutkan oleh adzDzahabi dalam as-Siyar, 4/233. Adz-Dzahabi mengatakan, “Kisah ini diriwayatkan secara sendirian oleh Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb. Walaupun dhaif, dia dijadikan sebagai hujjah oleh Muslim.” Dalam catatan pinggir as-Siyar disebutkan, dia dinilai tsiqah oleh Ibnu Abi Hatim dan selainnya. Hanya saja, hafalannya berubah pada akhir usianya.

[2] Thabaqat Ibni Saad, Muhammad bin Sa’ad, 5/132, dan Siyar A’lam an-Nubala’, 4/229.

[3] Thabaqat Ibni Saad, Muhammad bin Sa’ad, 5/125, 126, dan Siyar A’lam an-Nubala’, 4/229,230.

[4] Thabaqat Ibni Saad, Muhammad bin Sa’ad, 5/128, dan Siyar Alam an-Nubala’, 4/232.

Artikel: www.kisahislam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

=

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia