Abdul Malik bin Marwan 64H – 86H

Pemberontakan dan pembunuhan yang dilakukan terhadap Amirul Mukminin ‘Abdullah bin AZ-Zubair

`Abdul Malik bin Marwan mewarisi dari ayahnya sebuah kerajaan yang luas akan tetapi tidak lengkap karena dikurangi dengan negeri Iraq dan Hijaz yang berada di bawah kekuasaan Amirul Mukminin ‘Abdullah bin Az-Zubair. ‘Abdul Malik telah bertekad mewujudkan cita-citanya untuk melengkapi yang kurang ini. Mulailah ia menyerang Iraq yang berada di bawah pemerintahan gubernur Mush’ab bin Az-Zubair sebagai wakil saudaranya,  yaitu Abdullah. Mush’ab berhasil ditaklukan dan dibunuh di dekat sungai yang disebut dengan Dujail pada tahun 71 H. ‘Abdul Malik memasuki kota Kufah dan penduduknya membaiatnya. Diikuti oleh kota Bashrah, tunduk di bawah kekuasaannya. Keadaan seperti ini mengisyaratkan akan lemahnya `Abdullah bin Az-Zubair dan dekatnya akhir hidupnya.

Akhir dari kekuasaan Abdullah bin Az-­Zubair radhiyallahu ‘anhu tampak dari pengaruh yang muncul dari kekalahan pasukannya di Iraq. Beliau selalu duduk di Makkah dan berlindung kepada Allah di hadapan Al-Baitul Haram (Ka’bah).  ‘Abdul Malik bersegera mengirim komandan pasukannya, yaitu Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi bersama 3.000 pasukan dari penduduk Syam untuk mengakhiri pemerintahan ‘Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu. Pasukan ini berangkat pada bulan Jumadil Ula 72 H, sampailah Al-Hajjaj dan pasukannya di Thaif. Pasukan Al-Hajjaj dan pasukan Ibnu Az­Zubair bertemu di ‘Arafah dan terjadi antara keduanya pertempuran dan saling serang. Pada tahun itu pula, Al-Hajjaj memimpin kaum muslimin dalam berhaji akan tetapi dia tidak melaksanakan thawaf di Ka’bah dan tidak pula sa’i antara Shafa dan Marwa, dikarenakan `Abdullah bin Az-Zubair mencegahnya. Sedangkan Az-Zubair dan pasukannya tidak bisa melaksanakan haji karena tidak bisa wuquf di ‘Arafah.

Kemudian Al-Hajjaj memasang manjanik (alat dari kayu untuk melemparkan batu) di gunung Abi Qubais dan melempari pasukan Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu yang berada di dalam masjid Al Haram. Ketika itu mulailah pendukung Ibnu Az-Zubair merasakan kesempitan sehingga mereka menjauh dari ‘Abdullah bin Az-Zubair. Mereka berpencar-pencar dan meminta jaminan keamanan kepada Al-Hajjaj. Di antara orang yang meminta keamanan dari Al-Hajjaj adalah kedua putra ‘Abdullah, yaitu Hamzah dan Khubaib.

Ibnu Az-Zubair menoleh ke sekitarnya, dan beliau mendapati kematian telah mengepungnya dari arah kanan dan kiri. Kemudian beliau menjumpai ibunya yaitu Asmaa’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha dan mengatakan kepadanya:

“Wahai ibu, orang-orang telah meninggalkanku/menghinakanku. Sampai pula keluarga dan anak-anakku. Tidak ada lagi yang bersamaku kecuali segelintir orang dan orang-orang yang tidak memiliki kesabaran sesaat. Sedangkan kaum itu (Hajjaj dan pasukannya-pen) akan memberikan kepadaku apa yang aku inginkan dari perkara dunia. Apakah pendapatmu?”

Asmaa’ menjawab: “Engkau – demi Allah – wahai anakku lebih mengetahui tentang dirimu. Bila engkau mengetahui bahwa engkau di atas kebenaran dan engkau menyeru kepada kebenaran maka lanjutkan. Sungguh para pengikutmu telah gugur di atasnya. Jangan engkau biarkan anak ingusan dari Bani Umayyah mempermainkan lehermu. Bila engkau menginginkan dunia maka engkau adalah sejelek-jelek hamba. Engkau membinasakan dirimu dan orang-orang yang mati bersamamu. Bila engkau mengatakan: ‘Aku berada di atas kebenaran namun ketika pengikutku melemah maka aku pun ikut melemah, maka yang demikian ini bukan sikap seorang yang merdeka dan bukan pula sikap seorang yang punya agama. Berapa lama kehidupanmu di dunia? Mati adalah lebih baik’. ”

Ibnu Az-Zubair mengatakan: “Wahai ibu, aku khawatir bila orang-orang Syam membunuhku mereka akan mencincangku dan menyalibku. ”

Beliau menjawab: “Wahai anakku, sesungguhnya kambing tidak merasakan sakit ketika disayati kulitnya setelah disembelih. Berjalanlah di atas apa yang engkau ketahui dan mintalah pertolongan kepada Allah. ”

Lalu `Abdullah radhiyallahu ‘anhu mencium kening ibunya sambil mengatakan: “Inilah pendapatku dan yang aku keluar dengannya, tidak ada yang membuatku keluar kecuali kemarahan karena Allah. Akan tetapi aku ingin mengetahui pandanganmu dan sungguh engkau telah menambahkan ilmu padaku. Maka lihatlah wahai ibu, aku akan menjadi orang yang gugur pada hari ini. Janganlah kesedihanmu menjadi, dan serahkanlah urusan kepada Allah.”

Ibunya mengatakan: “Aku berharap semoga duka citaku atas kematianmu baik.” Lalu Asmaa’ berdo’a: “Ya Allah, aku telah menyerahkannya kepada keputusan-Mu padanya, aku juga rela terhadap apa yang akan Engkau takdirkan. Maka berilah aku pahala karena kehilangannya berupa pahala orang-orang yang sabar. “

Gugurnya Amirul Mukminin ‘Abdullah bin Az-Zubair dan takdir yang menimpanya

Setelah menjumpai ibunya, beliau keluar dan berperang dengan gagah berani sampai pada akhirnya beliau gugur. Al-Hajjaj mengirim kepalanya kepada ‘Abdul Malik, sedangkan jasadnya disalib selama beberapa hari. Kemudian diturunkan atas perintah `Abdul Malik bin Marwan. Peristiwa ini terjadi pada tahun 73 H. Ketika ‘Abdullah bin Az­-Zubair berusia 73 tahun. Bani Umayyah bisa bernapas dengan lega setelah beliau meninggal dan hilang dari mereka bahaya yang besar.

Lantas siapakah Amirul Mukminin ‘Abdullah bin Az-Zubair yang pernah memerintah sebagian besar wilayah Islam selama kurang lebih Sembilan tahun? Juga seorang yang telah dinobatkan sebagai khalifah setelah Mu’awiyah bin Yazid turun tahta dan meninggal pada bulan Rajab tahun 64 H? Sampai-sampai beliau radhiyallahu ‘anhu mati dalam keadaan berlindung di masjid Al Haram pada tahun 73 H. Beliau adalah salah satu putra dari sepuluh orang shahabat yang mendapat jaminan masuk surga, yaitu Az-Zubair bin Al-Awwam. Anak dari kalangan muhajirin yang pertama kali lahir di Madinah setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah. Ibunya adalah Asmaa’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Kunyah (panggilan)nya adalah Abu Khubaib. Al-Imam Ahmad membawakan hadits dengan sanadnya dalam kitab musnad bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mentahniknya* dengan kurma, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunyah kurma tersebut kemudian memasukkan ke dalam mulut ‘Abdullah dan mendo’akan kebaikan dan berkah baginya.

Beliau adalah salah seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sejumlah hadits, juga meriwayatkan dari ayahnya, ‘Umar, ‘Utsman, dan selain mereka. Sejumlah tabi’in juga meriwayatkan hadits darinya. Khalifah ini adalah seorang mujahid yang terkemuka. Memerangi Konstantinopel dua kali. Beliau seorang yang banyak ibadah dan khusyu’.

Tsabit Al-Bunaani menceritakannya: “Aku pernah melewati `Abdullah bin Az-Zubair dalam keadaan sedang shalat di belakang maqam*. Seakan beliau sebatang kayu yang tegak dan tidak bergerak.” Yahya bin Watsab mengatakan: “Ibnu Az-Zubair bila sedang sujud burung­-burung hinggap di punggungnya, naik dan turun, engkau tidak menyaksikannya melainkan sebuah tembok. Beliau menegakkan shalat di Baitullah (Ka’bah) padahal batu ketapel berjatuhan di sebelah kanan dan kirinya sedangkan beliau tidak memperdulikannya. Hal ini terjadi ketika hari­hari pengepungan.

`Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang yang melindungi ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu sampai beliau terkena 14 sayatan pedang. Beliau memegang kekhalifahan adalah semata karena Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana telah lalu dari pembicaraannya dengan ibunya, yaitu Asmaa’.

Seluruh negeri Islam berada di bawah kendali pemerintahannya kecuali Syam. Ketika beliau memegang kekhalifahan kaum muslimin berada dalam kebaikan. Beliau yang membangun kembali Ka’bah dan menyelubunginya dengan sutera. Beliau seorang yang berilmu dan bagus dalam menjalankan sistem politik, hanya saja urusan pemerintahan tidak bisa bertahan lama sehingga selama beberapa tahun terjadi perang dan permusuhan dengan Marwan bin Al-Hakam rahimahullah Kemudian dengan anaknya yaitu ‘Abdul Malik yang mengutus Al-Hajjaj sehingga berhasil mengalahkannya dan membunuhnya.

Al-Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya bahwa Al-Hajjaj Ats-Tsaqafi menjumpai Asmaa’ bin Abi Bakar setelah membunuh putranya, Abdullah bin Az-Zubair, dalam rangka menjelekkannya, dia mengatakan: “Apa pendapatmu tentang perlakuanku terhadap musuh Allah ini?”

Asmaa’ menjawab: “Aku melihat engkau telah menghancurkan kehidupan dunianya sedangkan dia (‘Abdullah bin Az-Zubair) merusakkan kehidupan akheratmu. Ketahuilah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada kami bahwa diantara bani Tsaqif ada seorang pendusta dan seorang lagi yang berbuat binasa dan merusak. Adapun si pendusta maka kita telah menyaksikannya (yang beliau maksud adalah Al Mukhtar Ats-Tsaqafi yang mengaku sebagai nabi). Adapun si perusak maka aku tidak menyangkamu kecuali orang itu.

Perawi mengatakan: “Kemudian Al-Hajjaj berdiri meninggalkannya dan tidak membantahnya.”

Abdullah bin Az-Zubair gugur pada bulan Jumadil Ula 73 H. Semoga Allah senantiasa meridhai dan menempatkannya di Jannatul Firdaus.

Comments
All comments.
Comments