Berikut beberapa kitab sejarah yang harus di waspadai: 1. AI-Aghaanii karya Abul Faraj al-Ashbahani. Kitab ini berisi obrolan, syair, dan nyanyian yang dicampuri berita-berita yang tidak benar. 2. Al-‘Iqdul Fariid karya Ibnu ‘Abdi Rabbih. Kitab sastra ini banyak memuat nukilan-nukilan palsu. 3. Al-Imaamah was Siyaasah yang dinisbatkan kepada Ibnu Qutaibah
Jawabannya adalah jika Anda mampu menganalisis sanad dan menelitinya, maka bacalah kitab Imam ath-Thabari (Taariikh ath-Thabari). Kitab beliau ini adalah pegangan bagi para ulama yang menulis kitab sejarah. Sedangkan jika Anda tidak mampu menganalisis dan meneliti sanad, maka bacalah: 1. Kitab al-Hafizh Ibnu Katsir, al-Bidaayah wan Nibaayah 2. Kitab al-Hafizh
Pengantar: Bagaimanakah Abdul Malik Mencapai Kursi Kekhalifahan? Yazid bin Mu’awiyah sebelum meninggal, mewasiatkan khilafah untuk anaknya yang bernama Mu’awiyah bin Yazid. Setelah Yazid meninggal, penduduk Syam membaiatnya dalam rangka memenuhi wasiat ayahnya. Pada waktu itu ‘Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu telah dibaiat sebagai khalifah di negeri Hijaz dan kekuasaannya semakin
Biografi Yazid bin Mu’awiyah: Beliau bernama Yazid bin Mu’awiyah bin Abi Sufyan Shakhr bin Harb bin Umayyah. Pemimpin (amir) kaum mukminin. Kunyahnya adalah Abu Khalid Al-Umawi. Lahir pada tahun 25 H. Dibaiat sebagai khalifah ketika ayahnya masih hidup untuk kemudian memegang urusan pemerintahan sepeninggalnya. Penobatannya sebagai penguasa ditegaskan lagi setelah
Terdapat suatu riwayat bahwa Malik bin Dinar radhiallahu ‘anhu berkunjung ke rumah seorang pemuda untuk membesuknya. Malik mendapati pemuda tersebut sedang menerawang di atas ranjang bagaikan ranting rapuh. Kemudian Malik menanyakan keadaannya. Tetapi si pemuda tidak dapat menjawab dengan lisannya, dia hanya memberi isyarat dengan jari tangan. Ketika kami berbincang-bincang,
Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Pada waktu itu, aku pergi berhaji bersama Syaiban Ar-Ra’i. Dan ketika kami sampai di sebuah jalan tiba-tiba kami berpapasan dengan seekor singa. Aku berkata kepada Syaiban, “Tidakkah kamu melihat binatang buas ini? Dia telah menghadang kita!’ Syaiban menjawabku, ‘Jangan takut, wahai Sufyan!’ Lalu, ia memanggil singa itu
Tidak seperti persangkaan banyak orang, ternyata hati Syaikh al-Albani rahimahullah sangat lembut, dan air matanya sering bercucuran. Tidak diceritakan sesuatu yang membuat beliau menangis, melainkan tangisannya membuat beliau berderai air mata. Diantaranya: 1. Seorang wanita Jaza-iriyyah bercerita bahwa ia pernah melihat Syaikh al-Albani bertanya tentang jalan yang biasa di lewati
Diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abi Ibad Al-Makki, dia berkata, “Seorang syekh yang dijuluki ‘Abu Abdillah’ mendatangi kami. Dia berkata, ‘Pada waktu sahur, aku pergi ke sumur Zamzam. Di tempat ini aku bertemu dengan seorang syekh yang membiarkan kainnya menutupi wajahnya. Dia datang ke sumur dan minta diambilkan air. Kemudian
Abu Ishaq as-Subai’iy berkata, “Masa kuatku untuk mengerjakan shalat telah berlalu -–ungkapan ini dikatakan ketika ia sudah tua, badannya lemah dan tulang-tulangnya keropos–. Kini, aku hanyalah seorang kakek yang sudah renta. Sekarang, di dalam shalat, aku hanya mampu membaca surat al-Baqarah dan Ali Imran!” Sungguh, Abu Ishaq -–semoga Allah merahmatinya—-
Suatu kali, seorang tabi’in, Muhammad bin Munkadir menunaikan shalat malam, tiba-tiba ia menangis dan isakan tangisnya semakin tak mampu ditahannya. Sehingga keluarganya terkejut dan bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkan kamu menangis? Muhammad bin Munkadir tak mampu menjawab, dan masih dalam keadaan menangis. Akhirnya mereka berinisiatif meminta tolong kepada Abu Hazim
Adalah seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bernama Julaibib. Wajahnya tidak begitu menarik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawarinya menikah. Dia berkata (tidak percaya), “Kalau begitu, Anda menganggapku tidak laku?” Beliau bersabda, “Tetapi kamu di sisi Allah bukan tidak laku.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa terus mencari kesempatan
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Barangsiapa yang membenci satu hal dari diri penguasanya hendaklah ia bersabar karena tidak seorangpun yang memberontak kepada penguasanya sejengkal saja, kemudian ia mati dalam keadaan seperti itu melainkan seperti kematian di dalam masa Jahiliyyah.” [HR.Muslim] Ketika Ibnu al-Asy’at melarikan diri, tinggallah petaka yang membinasakan