Di tengah bertaburnya lima puluh bintang hidayah yang bersinar terang (yakni para sahabat), maka terkumpullah cahaya terang pada dirinya. Cahaya di hatinya, cahaya di lidahnya, dan cahaya di depan matanya. Di bawah bimbingan lima puluh ulama alumnus madrasah Muhammad maka Thawus seakan menjelma menjadi duplikat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu
‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Telah beruntung orang yang dijaga dari hawa nafsu, kemarahan, dan ketamakan.” Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata, “Kemarahan itu adalah kunci dari segala macam kejelekan.” Dikatakan kepada Ibnul Mubarak rahimahullah, “Himpunkanlah untuk kami akhlak-akhlak baik dalam satu kata!” Beliau rahimahullah mengatakan, “Menjauhi marah.” (Jami’ul ‘Ulum
Sepantasnya bagi seorang penuntut ilmu untuk tidak bergaul kecuali dengan orang yang bisa memberinya faedah (ilmu) atau dia (teman tersebut) bisa mengambil faedah (ilmu) darinya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Hendaknya engkau menjadi seorang alim atau orang yang belajar. Jangan menjadi jenis yang ketiga, maka engkau akan
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, ‘Telah berdusta orang yang mengaku mencintai-Ku, namun ketika gelapnya malam menyelimutinya dia justru terlelap dari (beribadah) kepada-Ku. Bukankah setiap pecinta menyukai menyepi berdua dengan kekasihnya? Inilah Aku, mendatangi para pecinta-Ku dengan serta-merta mengawasinya. Sesungguhnya mereka pun telah berdiri
Suatu ketika terjadi perselisihan dan menyebabkan saling menjauh antara Muhammad Al-Hanafiyah dengan kakaknya Hasan bin Ali. Kemudina Muhammad Al-Hanafiyah menulis surat kepada Hasan sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah memberikan keutamaan kepada Anda melebihi diriku. Ibumu adalah Fathimah binti Muhammad bin Abdillah, sedangkan ibuku adalah wanita dari Bani Hanifah. Kakekmu dari jalur
Oleh: Abdul Basith ibn Yusuf al Gharib Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam mudah-mudahan tetap tercurah atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Amma ba’du. Termasuk sikap-sikap mulia yang mengagumkan di antara para ulama adalah apa yang kudengar langsung dari Syaikh al Muhaddits ‘Abdul Qadir al-Arnauth rahimahullah. Saat kami menziarahi beliau
Lembaran hidup khalifah yang ahli ibadah, zuhud dan khalifah rasyidin yang kelima ini lebih harum dari aroma misk dan lebih asri dari taman bunga yang indah. Kisah hidup mengagumkan laksana taman yang harum semerbak, di mana pun Anda singgah di dalamnya yang ada hanyalah suasana yang sejuk di hati, bunga-bunga
Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju kami, lalu bersabda, ‘Baru saja kekasihku Malaikat Jibril keluar dariku dia memberitahu, ‘Wahai Muhammad, Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran. Sesungguhnya Allah memiliki seorang hamba di antara sekian banyak hambaNya yang melakukan ibadah kepadaNya selama 500 tahun,
Kita berada di tahun 87 H. Ketika pahlawan Islam dan panglima besar Qutaibah bin Muslim Al-Bahili memimpin pasukannya yang tangguh dari kota Marwa menuju Bukhara, hendak menguasai sisa negeri yang ada di seberang sungai. Beliau juga hendak berperang di pinggiran negeri Cina dan menarik Jizyah dari mereka. Belum lagi pasukan
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa malu hakikatnya adalah akhlak yang mengantar seseorang untuk meninggalkan kejelekan dan menghalanginya mengurangi hak-hak orang lain.” Kami telah meriwayatkan dari al-Qasim al-Junaidi rahimahullah, ia berkata, “Malu adalah memerhatikan nikmat-nikmat (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan menganggap dirinya kurang (mensyukuri nikmat-nikmat tersebut). Dari keduanya
Sekarang kita berada di masa khilafah Sulaiman bin Abdul Malik. Saat di mana Yazid bin Muhallab bin Abi Sufrah, salah satu pedang Islam yang terhunus dan wali daerah Khurasan yang kuat, bergerak cepat bersama pasukannya yang berjumlah seratus ribu orang, ditambah para sukarelawan dari mereka yang ingin mencari syahadah dan
Ibnul Qoyyim berkata, “Sebagian besar manusia atau bahkan seluruhnya -selain orang-orang yang dikehendaki Alloh- senantiasa menyangka yang tidak benar terhadap Alloh dan berburuk sangka; karena kebanyakan manusia berkeyakinan bahwa bagian mereka kurang dan nasib mereka tidak mujur dikarenakan mereka merasa berhak mendapatkan lebih dari apa yang mereka terima. Seakan-akan kondisinya