~ Jika engkau melihat seorang yang kelihatannya membela kebenaran, tapi dia lakukan sambil mencela-cela, menghina-hina dan marah-marah, ketahuilah bahwa ada kesalahan dalam niatnya, karena kebenaran tak butuh dibela dengan cara seperti ini (Imam Malik) @MohamadAlarefe Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al ‘Arifi, dosen di King Saud University (KSU), Riyadh, anggota Rabithah
Oleh Hasyim Sarhan Kisah ini adalah kisah yang menakjubkan seputar hidayah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau sekiranya saya tidak mengalami dan mendengarnya langsung, niscaya tidak ada seorangpun yang saya percayai. Kisah ini bermula ketika saya menjadi Direktur Rabithah Al ‘Alam Al Islamy di Johannesburg Afrika Selatan. Peristiwa ini terjadi
Maimun bin Mihran rahimahullah mengatakan: “Berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lisan adalah kebaikan. Yang lebih dari itu adalah seorang hamba mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala bermaksiat, kemudian dia menahan diri darinya.” Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullah berkata: “Bukanlah takwa itu dengan (amalan sunnah seperti) bangun di waktu
1. Kelahiran, masa pertumbuhan, dan tarbiyah yang beliau dapat. Beliau adalah seorang tabi’in (murid shahabat -pent) yang mulia, bernama ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abil ‘Ash bin Umayyah. Ibunya adalah Ummu `Ashim Laila binti ‘Ashim bin ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Beliau dijuluki denga Asyaj(19)
Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq rahimahullah berwasiat kepada putranya, Musa. Beliau rahimahullah berkata: Wahai anakku…. barangsiapa merasa cukup dengan apa yang menjadi bagiannya maka dia akan menjadi kaya dan barangsiapa memanjangkan pandangannya kepada apa yang ada di tangan orang lain niscaya dia akan mati dalam keadaan miskin. Barangsiapa yang tidak ridha dengan
Al-Lalikai dalam kitab al-Karamat (IX/248) berkata, “Kami mendapatkan riwayat dari Abdul Wahab bin Ali, dari Umar bin Ahmad, dari Muhammad bin Abdullah as-Susi, dari Muhammad bin Yazid al-Adami, dari Ibnul Fudain, dari Ayahnya, ia bercerita: ‘Sesungguhnya Karaz menjenguk Ibnu Syabramah yang sedang menderita penyakit karena selalu berdengung. Namun, Ketika Karaz
Dari Muhammad bin Sa’d bin Abu Al- Waqqash dari ayahnya, ia mengatakan: Umar bin Al-Khaththab meminta izin masuk kerumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan di sekeliling beliau ada sejumlah wanita Quraisy yang berbicara banyak kepada beliau dengan meninggikan suara mereka melebihi suara beliau. Ketika Umar bin Al-Khaththab meminta
Dari Abdu Khair dari Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kebaikan itu bukan dengan bertambahnya harta dan anak tetapi kebaikan itu adalah bertambah banyaknya amal dan besarnya belas kasih. Tidak ada kebaikan di dunia kecuali milik salah satu dari dua orang, yaitu orang yang berbuat dosa lalu dia mengiringinya dengan taubat, atau
Berpisah dengan kampung halaman sungguh berat rasanya, hati pun seakan merintih kesakitan. Tatkala Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa ‘ala aalihi wasallam terpaksa meninggalkan kota makkah, beliau pun menatapnya sambil berkata (yg artinya), “Demi Alloh, aku benar-benar akan meninggalkanmu sedang aku tahu pasti bahwa engkau adalah bumi yang paling dicintai Alloh dan
Menelusuri Jejak atsar dari Ulama Pakistan,Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir Nama dan nasab beliau, Ihsan Ilahi Zhahir bin Zhuhur Ilahi bin Ahmduddin bin Nizhamuddin. Dalam sebuah wawancara, salah seorang saudara beliau yang bernama Syaikh Fadhl Ilahi menjelaskan bahwa Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir lahir pada tahun 1940 di kota Siyalkut. Yaitu sebuah
Oleh : Syaikh Mamduh Farhan al-Bukhairi. Kejadian ini terjadi pada masa Al-Walid bin Abdul Malik, saat dihadirkan dimajelisnya seorang laki-laki dari khawarij yang diancam dengan hukuman mati. Al-Walid melihat kepadanya dan menanyainya dengan sekumpulan pertanyaan yang telah dia siapkan untuk membunuhnya, dan dia tidak mungkin selamat darinya. “Apa yang kamu
Datang riwayat yang mengatakan bahwa Abu Ja’far Al-Manshur memanggil Thawus -seorang ulama di zamannya- dan bersamanya ada Malik bin Anas -semoga Allah merahmati keduanya-. Setelah keduanya di hadapan Al-Manshur, Al-Manshur menundukkan wajahnya sesaat, kemudian menoleh ke arah Thawus dan berkata kepadanya, “Wahai Thawus kabarkanlah kepadaku sesuatu dari bapakmu (Ibnu Kaisan