“Ya Allah, ampunilah Mu’tashim!” Ahmad bin Hanbal rahimahullah Mari sejenak menikmati kisah-kisah generasi salaf yang agung. Sungguh, keteladanan mereka akan menjadi warisan peradaban yang akan dikenang dan diikuti dari satu generasi ke generasi; sebuah warisan yang tidak akan pernah bisa kita dapatkan dari peradaban mana pun di dunia ini.
Terkadang muncul mawas diri (kesadaran) kala seseorang tengah mendengarkan wejangan. Namun kala dia sudah berpisah dari majelis ilmu tersebut, kerasnya hati dan kelalaiannya pun muncul kembali. Aku pun merenungkan penyebab hal itu. Akhirnya aku pun tahu. Dan aku perhatikan orang-orang berbeda-beda dalam masalah ini: Kondisi umumnya orang-orang, bahwa saat mendengar
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah menulis surat kepada Pendidik anak-anaknya.Beliau rahimahullah berkata, “Hendaklah yang mereka ketahui pertama kali dari Pengajaranmu adalah rasa benci terhadap alat-alat musik.Karena hal itu berawal dari setan dan mendatangkan kebenciab dari Ar-Rahman. Sungguh telah sampai kepadaku dari orang-orang terpercaya yang berilmu,bahwa menghadiri tempat musik dan
Ibnu Jauzi rahimahullah berkata dalam bukunya Shaidul Khatir hal.158: “Perkara paling utama adalah mencari tambahan ilmu. Sebab, orang yang membatasi ilmunya dan merasa cukup dengannya pasti akan keras kepala. Perasaan superirornya akan menghalanginya dari mendapatkan manfaat. Dengan belajar, seseorang akan mengetahui kesalahannya.” Artikel: www.KisahIslam.net Facebook Fans Page: Kisah Teladan &
Malik meriwayatkan, “Telah sampai kepada kami bahwa Sulaiman ‘alaihissalam menasihati putranya, “Wahai putraku, berjalanlah di belakang singa dan ular namun janganlah kamu berjalan di belakang wanita.” [Kitab Az Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal, Hal.70] Artikel: www.kisahislam.net Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam =
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah telah membenarkan pernyataan Ahmad dalam hal ini, karena dia adalah imam as-Sunnah pada zamannya. Sementara musuhnya, Ahmad bin Abi Du’ad, seorang qadhi qudhat (kepala para hakim), tidak ada seorang pun yang “merayakan” kematiannya dan tidak pula menghiraukannya. Tatkala dia mati, tidak ada yang mengiringi
Berkata Al Muhtadi Billah Muhammad bin Al Watsiq (anak dari sang khalifah Al Watsiq): “Dahulu ayahku (khalifah Al Watsiq) bila hendak membunuh seseorang, ia mengajak kami menyaksikannya. Suatu saat dihadapkan kepadanya seorang tua yang disemir rambutnya dalam keadaan terikat”. (Orang tua ini adalah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal atau Imam
Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata, “Setelah ayahku dilepaskan dari penjara, Ishaq bin Rahawaih merasa khawatir untuk datang ke ayahku. Ayahku datang menemuinya. Setibanya di sebuah kampung, ia masuk ke dalam masjid. Tiba-tiba hujan turun begitu deras. Setelah malam semakin gelap orang-orang berkata kepadanya, ‘Keluarlah dari masjid, kami ingin menutupnya.’