Oleh: Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi Al-Bazzar adalah al-Imam al-Hafizh Abu Bakar Ahmad Ibn Amr Ibn Abdul Khaliq al-Bashri, enulis kitab al-Musnad al-Kabir dan al-‘Ilal, mengambil hadits dari al-Thabrani, wafat tahun 292 H di Ramlah. Beliau adalah salah seorang ulama besar, hingga dikatakan setelah Ali Ibn al-Madini tidak ada yang lebih
Shahabat kami, Abdullah bin Muhammad bin Mushab as Sulami rahimahullah bercerita kepada saya, ia merupakan salah satu orang yang terbaik dan selalu jeli dalam segala hal. Ia bercerita: Seseorang mendatangi pasar tukang besi di Baghdad, ia menjual paku-paku kecil, paku dengan dua kepala. Seorang tukang besi mengambil besi-besi itu, ia
(Bilal) Philips (mantan Nashrani dan dikenal sebagai dewa gitar Amerika dan Kanada yang kini telah bertaubat dan masuk ke dalam Islam) hafizhahullaahu mengatakan : “Hati yang diisi dengan musik tidak akan memiliki ruang untuk kata-kata (kalimat-kalimat) Allaah Subhanahu wa Ta’ala.” (Dalam buku karyanya, Contemporary Issues) Beliau (Bilal Philips) hafizhahullaahu ta’ala
Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada beberapa orang yang berpenampilan kusut don jelek dengan baju yang sudah lusuh jika dia bersumpah maka niscaya Allah akan menakdirkan sumpahnya tersebut terealisasi. Dan jika mereka berdoa niscaya doanya tidak akan ditolak oleh Allah, salah seorang di antara
Syaikh Abdullh Syyid Abdurrahman ar-Rifa’i menceritakan: Tabloid Anshari Expres yang terbit setiap Ahad di Hindia menyebutkan bahwa ada sekelompok orang-orang Hindustan yang sangat fanatik, yang sudah sekian lama ingin menyerang Islam, mereka merobohkan sebuah Masjid Barbari pada tanggal 6 December 1992. Tabloid itu mengabarkan bahwa kurang lebih 40 orang Hindustan
Balasan yang Setimpal Syaikh Abdullah At-Tulaidie dalam kitabnya Nashbul Mawaid berkata, “Di antara kawan-kawanku yang menghafal Al-Qur’an menuturkan bahwasanya ada seorang ahli fiqih menceritakan kepadanya bahwa ia dipanggil untuk memandikan mayat seseorang yang tinggal di kampungnya. Ketika Ahli fiqih bersiap-siap untuk memandikan mayat tersebut, ia lalu membuka kain yang menutupi
Seluruh anggota keluarga telah berada di depan meja makan untuk menunggu datangnya waktu maghrib, untuk berbuka puasa. Sekalipun makanan yang terhidang sangat sederhana, sesuai dengan kemiskinan mereka, tetapi mereka sangat mensyukurinya. Sementara sang ayah, pikirannya sedang kacau karena memikirkan sikap orang yang menghutanginya uang. Orang tersebut bersifat sombong dan selalu
Seorang laki-laki ditinggal mati istrinya. Dia hidup bersama anak laki-lakinya yang berumur 7 tahun. Kemudian, lelaki tersebut menikah lagi dengan seorang perempuan yang berhati kasar, selalu membenci anak tirinya. Saking jahatnya, dia melarang anak tirinya untuk bersekolah. Untuk mengganti kesibukannya, perempuan itu membelikan seekor kambing untuk digembalakan anak tirinya. Wanita
Seorang laki-laki mempunyai dua orang istri. Istri pertama mempunyai seorang bayi laki-laki. Adapun istri kedua tidak mempunyai anak. Istri kedua cemburu dan ingin menghabisi nyawa anak istri pertama dengan berbagai cara. Suatu hari, istri kedua melihat seekor anak sapi mendekati bayi itu, lalu memakan selimut bayi tersebut dan menggigit jari-jari
Suatu hari Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu didatangi seorang laki-laki yang membawa sebuah kantung yang berisi khamr, kemudian Khalid bin Walid berdoa kepada Allah ta’ala, “Ya Allah, jadikanlah khamr ini berubah menjadi madu.” Setelah itu khamr tersebut benar-benar berubah menjadi madu. [Mujaab Ad-Da’wah (53), Al-Ishaabah (1/414)] Dalam riwayat yang lain
Dalam hadits Sa’id bin Al-Musayyab diceritakan bahwa ketika Umar bin Khaththab lari meninggalkan tanah Mina, dia tinggal di sebuah lembah yang sangat luas, dia mengumpulkan kerikil-kerikil kecil di samping sebuah sungai dan melemparkan kerikil-kerikil tersebut ke dalam sungai, kemudian dia berbaring. Setelah itu dia mengangkat kedua tangannya ke atas langit
Musim paceklik yang sangat dahsyat pernah terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab. Melihat keadaan seperti itu Umar bin Khaththab keluar bersama kaumnya dan melaksanakan shalat dua rakaat (shalat Istisqa’). Kemudian dia menyilang dua ujung selendangnya. Dia memindah yang kanan ke kiri, dan yang kiri ke kanan. Lalu dia membentangkan