Fahal Mim Muddakir…? [Adakah yang mau mengambil pelajaran?] Jin Pun Belajar Agama Bagaimana dengan anda? Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizhahullah bercerita : Seorang perempuan yang kesurupan jin mendatangi saya (dengan mahram), saya pun membacakan surat Al-Fatihah kepadanya. Kemudian jin yang menumpang didalam tubuhnya mau hadir. Saya bertanya : “Siapa nama
Suatu saat, Ismail bin Umayyah meriwayatkan sebuah hadits dari seorang Badui, lalu dia pun kembali mengecek ulang kekuatan hafalan orang badui tersebut, maka si badui mengatakan, “Wahai anak saudaraku, apakah engkau meragukan hafalan saya?! Saya telah berhaji sebanyak enam puluh atau tujuh puluh kali. Setiap haji yang saya tunaikan, saya
Suatu saat, Hasan bin Ziyad al-Lu’lu’i rahimahullah pernah ditanya tentang suatu masalah, ternyata beliau salah memberikan fatwa. Beliau ingin meralatnya tetapi tidak mengenal si penanya. Maka beliau menyewa seseorang untuk mengumumkan kepada manusia: “Hasan bin Ziyad pernah ditanya hari ini tentang masalah ini dan dia keliru dalam fatwanya. Barangsiapa yang
Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi Pada tahun ini, telah sampai kepadaku lebih dari 400 SMS berkenaan dengan datangnya bulan Ramadhan. SMS itu dari keluarga, kerabat, dan rekan, baik dari Saudi, negeri-negeri Arab, maupun negeri-negeri Islam lainnya, khususnya dari saudara-saudaraku para da’i di Indonesia. Mudah-mudahan Allah Ta’ala membalas mereka semua dengan kebaikan
Dahulu, ada seorang prajurit raja yang divonis hukuman qishash (mati). Ketika dia sudah diseret ke lapangan guna dihukum mati, sang raja menyelamatkannya dan membayarkan diyat kepada keluarga korban. Sang prajurit akhirnya diberi tugas oleh raja untuk mengurusi kebun miliknya. Suatu saat, mesin pengairan air mati, maka prajurit tersebut turun ke
Dalam biografi Abul Hasan al-Wa’idz yang dikenal dengan “al-Mishri” disebutkan bahwa beliau memiliki majelis ta’lim untuk memberikan nasihat. Hadir dalam majelisnya terse-but kaum prig dan wanita, sehingga dia pun mengenakan cadar untuk menutupi wajahnya karena khawatir wanita terfitnah oleh keelokan wajahnya. (Tarikh Baghdad 12/75-76 oleh al Khathib al-Baghdadi) Namun, perbuatan
Al-Ashma’i pernah bercerita tentang seorang suami yang memiliki empat istri dan dia sosok suami yang bersifat kasar. Suatu saat dia pernah mendapati empat istrinya sedang berkelahi dan ribut, maka dia mengatakan, “Sampai kapan kalian ribut seperti ini? Saya yakin ini adalah karena ulahmu! (Sambil menunjuk seorang istrinya). Pergilah dariku karena
Abu Utsman al Hiri (289H) adalah seorang ulama Naisabur yang shalih. Suatu saat beliau ditanya,”Wahai Abu Utsman amalan apa yang engkau harapkan bisa sebagai bekal menghadap Allah dari apa yang telah engkau lakukan?” Abu Utsman pun berkisah,”Waktu aku tinggal di Ar Rai, para penduduknya mendesakku agar menikah, namun aku menolaknya.
Dr. Muhammad Hasan menceritakan perbincangannya dengan dengan seorang pemuda yang keras (dalam ber-Islam): Dr. Muhammad Hasan bertanya kepada pemuda itu, “Apakah meledakkan Klub malam di suatu negara muslim halal ataukah haram?”. Pemuda itu menjawab, “Tentu saja halal, dan membunuh mereka pun diperbolehkan”. Dr. Muhammad Hasan bertanya kembali, “Kalau kamu membunuh
Abdullah bin Mubarok rahimahullah saat itu bertetangga dengan seorang Yahudi. Dan si tetangga berencana menjual rumahnya, sehingga ada seseorang yang bertanya mengenai harga rumahnya,”Engkau menjual dengan harga berapa?” Si tetangga pun menjawab,”Dua ribu.” Si penanya menyampaikan,”Harga rumahmu ini mestinya seribu.” Si Yahudi menjawab,”Engkau benar, akan tetapi seribu untuk harga rumah
Imam Abu Fath ar Razi tidak mampu membaca Al Fatihah ketika beliau masih berumur 10 tahun, guru beliau sampai mengatakan kepadanya, ”Mintalah kepada ibumu agar mendoakanmu, hingga Allah memberikan rizki Al Qur`an dan ilmu.” Setelah peristiwa itu, Abu Al Fath Ar Razi melakukan perjalanan mencari ilmu ke Baghdad. Sekembalinya ke
Imam Syamsyuddin Abdurrahman al Maqdisi suatu saat menggali tanah di gunung As Shalihiyah karena suatu hal. Di tengah aktifitas itu, ulama madzhab Hanbali ini menemukan peti penuh dengan dinar. Imam Al Maqdisi sontak mengucap,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…”. Beliau menilai bahwa hal itu merupakan musibah dan membiarkan kotak itu