Seorang lelaki datang mengadu kepada Abu Hanifah, ‘Aku orang yang cukup kaya, dan memiliki seorang putra yang amat aku sayangi. Yah, hanya dia satu-satu orang yang kumiliki dan kusayangi di dunia ini. Tapi, setiap kali aku menikahkannya dengan seorang wanita, ia pasti menceraikannya. Setiap kali aku membelikan budak wanita kepadanya, ia pasti membebaskannya.’
“Mampirlah dahulu ke rumahku, akan kuberitahu jalan keluarnya,” ujar Abu Hanifah. Beliau pun menghidangkan makanan dan minuman ala kadarnya.
Beberapa saat kemudian, Abu Hanifah berkata, ‘Coba engkau dengan putramu pergi ke sebuah pasar, lalu belilah seorang budak wanita yang disukai oleh putramu dan mampu engkau beli. Beli budak itu untuk dirimu, bukan untuk putramu.
Setelah itu, nikahkan dia dengan anakmu. Kalau putramu menceraikannya, budak itu otomatis kembali kepadamu. Kalau putramu ingin memerdekakannya, tidak akan bisa, karena statusnya masih budakmu.Tapi kalau ia melahirkan anak, nasabnya tetap bisa dilekatkan kepadamu.’
Lelaki itu terperangah mendengar saran menakjubkan tersebut. Si lelaki menanyakan kembali soal itu berikut jawaban Abu Hanifah kepada Ibnu Abi Laila, dan beliau membenarkan pendapat tersebut . [al-Adzkiyaa hal.65-66]
Sumber: Humor Salafi, Hal.37-38






