Tidak biasanya aku berjalan-jalan sedemikian jauh. Biasanya, aku jalan-jalan pagi sebatas beberapa puluh langkah dari perumahan kemudian kembali, atau mengantarkan istri belanja ke kampung atas, ya kira-kira setengah kilo saja. Entahlah, pagi ini aku ingin jalan-jalan agak jauh, seakan-akan ada banyak peristiwa yang harus aku lihat.
Memang benar wahai sahabatku, beberapa langkah aku menyeberang jalan raya, kusaksikan pemandangan yang sangat menakjubkanku…
Sekitar 6 sepeda motor diparkir di depan sebuah warnet yang lebih bisa dikatakan sebagai warung game-online. Dari luar kusaksikan sekitar sepuluhan remaja asyik di depan komputer masing-masing, dengan headphone di telinga dan tangan mereka sangat terampil meliukkan mouse dan memencet keyboard seraya beberapa kali berteriak. Ah, sungguh asyik mereka. Sepertinya kajian yang mereka dengarkan atau saksikan benar-benar merasuk dalam hati mereka, hingga mereka tidak merasakan bahwasanya sang fajar di ufuk timur sudah mau berganti posisi dengan mentari alamat waktu shalat subuh sudah mau berakhir. Di antara mereka saking asyiknya semalaman begadang di depan sang kotak ajaib sampai terkapar di kursinya, entah sampai kapan…
Ah, aku tidak mau berlama-lama di depan pemandangan seperti ini… maka kuteruskan langkahku. Di seberang terlihat bangunan yang sangat besar dan megah, Rumah Allah… beberapa orang kulihat barusan keluar dari masjid itu dengan menenteng sajadahnya, yang lainnya masih duduk tafakkur di dalam rumah yang dikabarkan oleh Rasulullah merupakan tempat yang paling dicintai Allah di muka bumi ini. Mmmh, alangkah nikmatnya menjadi hamba Allah. Mereka tentunya menunggu sang matahari keluar agar bisa melaksanakan shalat dua raka’at yang setara dengan haji dan umrah itu. Sungguh beruntung. Semoga Allah memberkahi mereka sepanjang hari.
Di depanku kusaksikan lagi pemandangan yang serupa dengan pemandangan awal, remaja-remaja yang sedang asyik mendengarkan dan melihat “kajian” di depan komputer. Karena keadaan yang sama, maka aku bersegera melanjutkan perjalananku.
Sekarang di depanku benar-benar terjadi peristiwa yang dahsyat, menurutku.
Di tempat parkiran sebuah warnet yang luas, segerombolan orang mengerumuni seseorang yang tengah terkapar di dekat tempat sampah. Seorang remaja gondrong, dengan beberapa luka di tubuhnya yang masih sesekali mengalirkan darah.. Kutanya seorang pemuda berpakaian rapi dengan kopyah di kepalanya, tabrakan dengan apa? Dengan mobil jawabnya sambil menunjuk di seberang, persis di depan stand penjual es teler waktu siang hari itu. Beberapa orang juga masih bergerombol di sisi mobil angkot itu seraya terlibat pembicaraan dengan sang sopir. Ah tentu kasihan sekali sopir angkot itu, di saat pagi-pagi dia berangkat mencari penumpang dia harus rela ditabrak remaja yang lagi mabuk… yang bukan kata maaf yang diterima justru umpatan dan cacian yang keluar dari mulutnya yang bau miras itu…
Ya Allah, segala puji bagiMu yang telah menganugrahkan akal sehat kepada kami, sehingga kami bisa mengetahui mana perbuatan yang baik dan bermanfaat bagi dunia dan akhirat kami kemudian mengamalkannya juga mengetahui perbuatan yang buruk dan berbahaya bagi dunia dan akhirat kami kemudian meninggalkannya.
Tiba di depan sebuah kampus Islam terkemuka di kota ini, kenanganku kembali pada sekitar 10 tahun yang lalu, ketika aku beru tiba di kota ini. Ah, sepertinya sudah banyak yang berubah. Sudah semakin besar dan maju saja kampus ini. Apalagi ditambah beberapa fasilitas yang baru dan sedang dibangun, seperti rumah sakit, SPBU dan sebagainya. Semoga Allah memberkahi amal usaha para pendiri ormas ini, dan menjaga serta menunjuki para penerusnya agar tidak menyimpang dari tujuan dan misi ormas yang baik ini.
Sepertinya sudah saatnya aku balik, karena matahari segera terbit dan aku harus bersiap-siap melakukan aktifitas lainnya.
Tentunya perjalanan ini sangat melelahkanku, bukan kaki yang terasa pegal, karena jarak yang lebih jauhpun aku pernah melakukannya. Tetapi peristiwa demi peristiwa dalam perjalanan inilah yang melelahkan jiwaku. Bukan siapa-siapa yang harusnya mengambil pelajaran dari kisah perjalanan ini, tapi aku sendiri.
“Maka berjalanlah kalian di muka bumi, dan lihatlah bagaimana akhir dari orang-orang yang mendustakan…”
Sampai di rumah, ah kulihat kedua buah hatiku masih tergolek di tempat tidurnya. Mereka belum melihat dan merasakan betapa beratnya amanah yang dititipkan Allah di pundak manusia. Mereka belum merasakan betapa dahsyatnya fitnah dunia yang sedang melanda saat ini. Tentunya mereka juga belum mengetahui bahwasanya mereka hidup di akhir zaman…
Ya Tuhan kami karuniakanlah kepada kami, istri danb anak-anak kami sebagai penyejuk jiwa kami. dan jadikanlah kami menjadikan orang-orang yang bertakwa sebagai pemimpin….
Muara Sarana Indah
Saat matahari baru terbit, Kamis 11 Jumada ats-Tsaniyah 1433 H
Abu Robi’ – semoga Allah menunjukinya
Artikel: www.kisahislam.net






