Perawatan Abu Thalib terhadap Keponakannya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Abu Thalib merawat Muhammad dengan sangat baik. Ia bahkan lebih menyayangi Muhammad dibanding anak-anaknya sendiri. Ia merawatnya selama 24 tahun. Ia melindunginya dari segala ancaman sampai ia meninggal dunia pada 10 tahun setelah masa kerasulan.
Peristiwa-peristiwa Penting yang Terjadi pada Fase ini hingga Masa Kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
A. Bekerja sebagai penggembala. Beliau menggembala pada awal masa remajanya untuk membantu pamannya, Abu Thalib.
B. Bertemu dengan pendeta Bahira ketika masih anak-anak. Ketika itu beliau berusia 12 tahun, ia pergi menuju Syam bersama pamannya untuk berdagang. Ketika sampai di sebuah kota yang bernama Busyra, Nabi Muhammad dikenali oleh seorang pendeta yang bernama Bahira. Pendeta itu lantas memerintahkan Abu Thalib untuk segera mengajak keponakannya, Muhammad pulang ke Makkah dan jangan kembali lagi ke Syam. Karena, menurut pendeta tersebut, nyawa Nabi Muhammad berada dalam bahaya jika orang-orang Romawi dan Yahudi mengetahuinya.
C. Perang Al-Fijar. Perang Al-Fijar terjadi antara suku Quraisy bersama sekutunya suku Kinanah, melawan suku Hawazin. Beliau menyaksikan perang tersebut ketika berusia 14 tahun (hampir 15 tahun). Beliau juga ikut membawakan anak panah menggunakan serban. Perang itu disebut dengan Al-Fijar (jalan lebar di antara dua bukit) karena kehormatan Makkah dan bulan suci ketika itu telah dilanggar.
D. Koalisi Al-Fudhul. Sumpah atau koalisi ini dilaksanakan setelah kaum Quraisy kembali dari Perang Al-Fijar. Pada kesempatan itu Bani Hasyim, Bani Zahrah, dan Bani Tayim bin Murrah berkumpul di rumah Abdullah bin Jad’an. Mereka berjanji untuk berkoalisi dan saling membantu. Mereka bersatu untuk membantu orang-orang yang dizalimi melawan orang yang zalim agar mengembalikan hak orang yang dizalimi. Orang-orang Quraisy menyebut koalisi ini dengan koalisi Al-Fudhul. Mereka berkata, “Mereka telah memilih kemuliaan (al-fadhl) dalam urusan ini. Nabi Muhammad & menyaksikan perjanjian koalisi tersebut yang merupakan kebanggan orang orang Arab sebelum Islam. Tentang perjanjian ini, beliau bersabda, “Aku menyaksikan, di rumah Abdullah bin Jadan, sebuah perjanjian yang sangat aku sukai. Andai aku diajak dalam perjanjian tersebut setelah ada Islam, aku pasti mau bergabung”.
Perdagangan dan Pernikahannya dengan Khadijah Nabi Muhammad & beralih profesi menjadi pedagang ketika beliau masih remaja.Diriwayatkan bahwa beliau berdagang bersama As-Saib bin Abi As-Saib Al-Makhzumi. Ketika berusia 25 tahun, Nabi Muhammad pergi ke Syam untuk berdagang. Beliau membawa barang dagangan milik Khadijah binti Khuwailid, seorang perempuan yang mulia dan kaya di kalangan suku Quraisy. Ketika itu Nabi Muhammad ditemani oleh seorang pelayan milik Khadijah yang bernama Maisarah. Ketika Nabi Muhammad kembali, Khadijah mendengar dan melihat sendiri sikap amanah dan tanggungjawab beliau. Sikap seorang yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Oleh sebab itu, Khadijah berniat menikahi Nabi Muhammad. Niatnya ini kemudian ia sampaikan kepada sahabatnya yang bernama Nafisah binti Munabih. Nafisahlah yang menyampaikan keinginan Khadijah kepada Nabi Muhammad dan beliau menerima tawaran pernikahan tersebut. Pernikahan itu lantas dilaksanakan ketika Nabi Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah berusia 40 tahun. Sebelumnya, Khadijah sudah pernah menikah dua kali. Khadijah hidup bersama dengan Nabi Muhammad selama 25 tahun. Ia menjadi istri yang sangat baik terhadap suaminya dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Nabi Muhammad tidak menikah lagi sampai Khadijah meninggal dunia. Ia meninggal dunia setelah mendapatkan semua anaknya dari Nabi Muhammad, selain Ibrahim yang lahir dari Maria Al-Qibthiyah.
E. Membangun Ka’bah dan menyatukan kabilah-kabilah.
Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia 30 tahun, orang-orang Quraisy berniat membangun Ka’bah kembali yang sudah dalam kondisi memprihatinkan akibat gempa yang sangat kuat. Mereka menghancurkan Ka’bah kemudian membangun kembali. Setiap kabilah ikut andil dalam pelaksanaan pembangunan Ka’bah. Ketika tahap meletakkan Hajar Aswad, para kabilah itu bersitegang: siapa yang berhak mendapatkan kemuliaan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya? Mereka hampir saling membunuh karena ketegangan tersebut. Akhirnya, Abu Umayah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi mengusulkan penyelesaian ketegangan itu bahwa siapapun yang esok paling pertama masuk ke Masjidil Haram, dialah yang berhak meletakkan Hajar Aswad. Ternyata, Allah berkehendak bahwa orang pertama yang masuk ke Masjidil Haram adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka mengetahui bahwa orang pertama yang masuk masjid adalah Nabi Muhammad, mereka semua teriak menyatakan, ”Kami rela terhadap orang yang terpercaya ini (Al-Amîn)”. Nabi Muhammad lantas meletakkan Hajar Aswad di tengah sorbannya dan meminta para tokoh dari kabilah-kabilah yang ada untuk ikut memegang ujung-ujung sorban itu. Mereka lantas mengangkat Hajar Aswad bersama sama. Ketika sampai di tempat peletakkannya, Nabi Muhammad mengangkat Hajar Aswad dan meletakkan di tempatnya.
Sumber: Dikutip dari Ensiklopedi Sejarah Islam, Tim Riset Dan Studi Islam Mesir






