Warna Warni Santri Bag.01: Kisah Si Zafir (Nama Samaran)

~Di Persimpangan Jalan~

Kala itu Zafir berusia 9 tahun. Termasuk murid terbaiknya Ustadz. Anaknya agak jail, suka bertengkar, tapi cerdas dan tekun belajar. 25 juz telah berhasil ia hafal secara mutqin. Qiroahnya simple tapi suaranya merdu. Cocok buat pengantar tidur… 🙂

Namun, sisi lain dari kehidupannya, Zafir kurang beruntung dalam kehidupan keluarganya. Ia menjadi korban broken home Abi dan Umminya. Kedua orangtuanya bercerai karena tak lagi satu misi visi dalam mengarungi samudera rumahtangga. Ummu Zafir melakukan khulu’ (minta cerai) karena suaminya futur dari Manhajul Haq. Abu Zafir menjadi awam lagi karena pengaruh lingkungan kerja yang keras dan jauh dari nilai-nilai agama. Ditambah, dia sangat jarang ta’lim hingga jiwanya kering dari sentuhan ilmu dan siraman iman. Maka, pelan namun pasti dia mulai meninggalkan sunnah. Isbal lagi. Jenggotnya juga dipangkas bersih. Sholatnya juga tak lagi berjama’ah.

Ummu Zafir meminta cerai karena setelah beberapa tahun dari masa futurnya sang suami, dia selalu berupaya menasihati suami agar kembali berpegang dengan sunnah. Namun, selama itu pula usahanya sia-sia. Maka, demi alasan menjaga agama anak-anaknya, Ummu Zafir melakukan Khulu’. Suami istri itupun berpisah setelah dikaruniai 3 anak. Zafir adalah anak pertama.

Setelah bercerai, Abu Zafir memilih tinggal di kota yang jauh. Sedangkan istrinya beserta 3 anaknya tinggal di sekitar ma’had tahfizh tersebut. Untungnya, meski sudah bercerai, Abu Zafir tetap bertanggung jawab secara finansial. Dia tetap memberi jatah nafkah bulanan untuk ketiga buah hatinya. Sehingga, alhamdulillah, tak pernah ada masalah ekonomi bagi Ummu Zafir beserta 3 belahan jiwanya.

Suatu hari, terjadilah peristiwa yang cukup menegangkan. Abu Zafir memaksa istrinya agar mengizinkan dia membawa Zafir untuk tinggal bersamanya di kota X dan disekolahkan di sekolah umum. Terang saja Ummu Zafir menolak dengan tegas. Bagaimana mungkin anaknya yang saat ini tengah belajar di ma’had tahfizh, menghafal Al-Qur’an, serta ilmu dien yang bermanfaat, hendak dimasukkan ke sekolah umum yang jauh dari ajaran Islam pada segala sisinya? Mau jadi apa anaknya kelak?

Tapi Abu Zafir tetap memaksa. Merasa tak sanggup menghadapi suaminya sendirian, Ummu Zafir menitip pesan untuk Ustadz lewat Zafir agar membantunya berbicara dengan suaminya. Barangkali saja perkataan Ustadz lebih didengar.

Besoknya, Abu Zafir datang ke ma’had bermaksud mengambil Zafir secara paksa. Terjadilah ketegangan antara Zafir dan Abinya, karena anak itu sejatinya ingin tetap di ma’had, tak mau ikut Abinya. Usia 9 tahun sudah cukup membuat dirinya bisa berpikir mana mashlahat dan mana madharat. Ustadz meminta Abu Zafir berbicara dengannya di ruangan pribadinya. Zafir pun turut serta.
…………………………………………
” ‘Afwan, Aba Zafir, ana tidak bermaksud turut campur dalam urusan antum. Tapi mari kita bicarakan semuanya baik-baik,” pinta Ustadz.

“Saya ini bapaknya, Ustadz. Masa’ tidak boleh bawa anaknya sendiri?? Saya pengen sekolahkan anak saya di sekolah umum saja, biar dapat pendidikan yang lebih layak, biar masa depannya cerah.”

“Apakah antum ini tuhan yang mengatur rezeki makhluq? Hingga antum bisa pastikan lulusan sekolah umum pasti masa depannya cerah? Sementara ratusan ribu sarjana nganggur tanpa pekerjaan. Rezeki itu urusan Allah, Aba Zafir. Yang penting manusia mau berusaha, insyaAllah rezeki itu Allah yang menjamin.”

Abu Zafir hanya mampu terdiam.

“Lihatlah si Zafir. Anak yang begitu polos karena fithrahnya masih bersih. Belum terkotori dunia luar yang penuh kemaksiatan. Dia begitu tenang belajar di sini. Prestasinya sangat bagus. Sudah hafal 25 juz. Tiba-tiba hendak antum bawa dan antum biarkan jiwanya ternodai oleh berbagai fitnah syubhat dan syahwat di luaran sana. Mau jadi apa dia nanti? Dimana hati nurani antum sebagai seorang ayah?”, tandas Ustadz tetap tenang namun tegas. Setitik airmata jatuh dari kelopak matanya. Ustadz pun menangis iba terhadap muridnya.

“Tapi saya jamin Zafir akan tetap jadi anak yang baik dan tak aneh-aneh, Ustadz…”

“Menjamin? Menjamin apa? Padahal antum tidak sanggup menjamin manhaj antum sendiri? Kalau memang antum siap bertanggung jawab di hadapan Allah, silahkan bawa anak antum! Jika tidak, maka setidaknya kurangilah beban tanggungjawab antum dengan membiarkan Zafir mendalami ilmu agama. Ibarat pada diri antum ada api, biarlah api itu membakar antum sendiri, tapi jangan biarkan turut membakar keluarga antum. Berat tanggungjawabnya, Akhi… Antum harus berkata apa di hari perhitungan kelak?! Tentang antum dan keluarga antum, dimana antum telah gagal menjadi suami dan ayah yang baik…!”

Tiba-tiba Abu Zafir membekap wajahnya dan menangis tersedu-sedu.

“Aba Zafir, setidaknya, dengan punya anak yang sholeh, semoga bisa menjadi amal jariyah kelak saat antum telah tiada…”

Abu Zafir memandang anaknya dan mendekapnya erat.
“Zafir… Tetaplah di sini, Nak…”

(SELESAI)

Sumber: Dikisahkan Oleh  Ammi Ahmad Alawi Aac

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

Comments
All comments.
Comments