Kisah Para Ulama & Orang Shalih

Sekarang Izinkan Mereka Pulang Kepada Keluarganya

Ihsan bin Muhammad Al-’Utaibi menceritakan:

Beberapa pemuda dari Yordania melakukan perjalanan dengan mobil untuk melakukan umroh. Sesampai di Khaibar mereka mengalami kecelakaan, yaitu mobil mereka menabrak lampu jalan. Polisi pun datang dan meminta kepada sopir untuk membayar ganti rugi kerusakan sebesar 21.000 Riyal (sekitar 3.500 Pound Sterling).
Baik sopir maupun para pemuda itu tidak mampu membayar denda sebesar itu. Maka polisi pun menyita paspor milik sopir sampai dia mampu membayar denda sepulang dari umrah.

Beberapa pelajar yang mengetahui kasus ini berinisiatif membantu mencari dana. Mereka berpikir jalan terbaik adalah dengan menyampaikan permasalahan ini kepada ulama. Maka salah seorang dari mereka mendatangi Asy-Syaikh Al-’Utsaimin di ruang beliau di Masjidil Haram, Mekkah, usai shalat Ashar. Setelah diberi tahu permasalahan yang terjadi, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata, “Datanglah besok, insya Allah semua akan beres.”

Namun para pelajar tidak datang pada keesokkan harinya karena mereka berpikir bahwa jumlah uang yang dibutuhkan sangat besar. Disamping itu, menurut pikiran mereka, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin juga tidak kenal dengan mereka. Maka pelajar itu kembali ke pemuda dari Yordania yang mengalami kecelakaan dan menyatakan bahwa mereka telah berusaha membantu, setidaknya telah menyampaikan hal ini kepada Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Para pemuda itu berencana pulang ke Yordania namun mereka harus melewati pemeriksaan di Khaibar yang akan memeriksa paspor sopir. Mereka mengharap kemurahan hati petugas imigrasi (pemeriksa paspor) dan mereka mau melupakan kewajiban mereka untuk membayar denda.

Ketika mereka datang ke kantor, kepala kantor meminta mereka membayar penuh denda tersebut dan mereka tidak boleh pergi (sebelum membayar denda). Mereka boleh pergi tetapi tidak boleh bersama sopirnya. Para pemuda dan sopir menjadi khawatir. Apa yang harus mereka lakukan kini?

Mereka kemudian mendatangi pelajar yang telah menemui Asy-Syaikh Al-’Utsaimin dan berkata, “Mengapa anda tidak mendatangi beliau lagi? Apa yang beliau katakan?” Dia menjawab, “Beliau berkata: datanglah lagi besok.” Mereka bertanya, “Apakah engkau datang keesokan harinya?” Dia menjawab, “Tidak.” Mereka berkata, “Hubungi beliau lagi, semoga Allah memberi jalan kepada kami melalui beliau. Saat ini kami berada di tempat yang jauh dari keluarga di hari-hari terakhir bulan Ramadhan.”

Pelajar itu pun kembali mendatangi Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Pemuda itu kembali menerangkan permasalahan yang terjadi. Asy-Syaikh Al-’Utsaimin bertanya, “Apakah engkau berasal dari Yordania?” Ia menjawab, “Ya, wahai Syaikh.” Asy-Syaikh berkata, “Bukankah waktu itu saya sudah meminta engkau untuk datang esok harinya, tapi mengapa engkau tidak datang?” Ia menjawab, “Saya merasa malu, wahai Syaikh.”

Maka Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata, “Sekarang mengapa engkau datang lagi? …di beberapa kejadian, jumlah uang yang kita butuhkan bisa terkumpul dalam satu hari.” Pelajar itu hampir tidak percaya mendengar hal itu. Ia merasa senang karena memiliki harapan baru. Ia berkata, “Sekarang apa yang harus kami kerjakan, wahai Syaikh?” Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata, “Saya akan mentransfer uang ke bagian imigrasi dan mencoba meminta mereka agar memudahkah urusan kalian dan agar mereka mengijinkan kalian pulang ke keluarga kalian sebelum hari Raya Idul Fitri.”

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin kemudian berbicara kepada kepala imigrasi, “Saya telah mengumpulkan uang (untuk membayar denda), beritahu saya nomor rekening anda supaya saya bisa mentransfernya. Kemudian ijinkan para pemuda dan sopirnya pulang ke keluarganya.”

Kepala imigrasi menjawab dengan nada tidak sopan, “Maaf Syaikh, kami minta supaya uang itu dalam bentuk cash, sehingga kami pun belum bisa mengijinkan mereka pergi.” Asy-Syaikh Al-’Utsaimin menjadi marah mendengar jawaban itu. Beliau berkata, “Saya katakan kepada anda, saya telah memiliki uang itu. Sekarang ijinkan mereka pulang kepada keluarganya.” Namun kepala imigrasi itu tetap menolak. Asy-Syaikh Al-’Utsaimin kemudian meletakkan gagang telepon.

Beberapa saat kemudian keadaan kantor imigrasi itu menjadi terbalik. Gubernur Madinah, Pangeran Abdul Majid, menelepon untuk menanyakan kepala imigrasi yang telah menolak permintaan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Gubernur kemudian menjatuhi hukuman kepada kepala imigrasi karena telah bertindak tidak disiplin. Dalam keadaan ini, para pegawai di kantor itu mencoba memberi pembelaan kepada kepala imigrasi.

Para pemuda yang masih di kantor imigrasi merasakan adanya perubahan nada bicara yang terjadi pada para pegawai, dari tidak ramah menjadi sangat ramah. Gubernur telah memerintahkan mereka untuk mengijinkan para pemuda itu dan sopirnya pergi dan biaya perbaikan lampu akan ditanggung negara.

Tidak bisa digambarkan betapa gembiranya para pemuda itu. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Asy-Syaikh Al-’Utsaimin atas bantuan dan pembelaannya. Mereka juga mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Madinah yang memiliki rasa hormat kepada ulama dan menghargai posisi mereka.” (Al-Jami’ li-Hayat Al-’Allammah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 75)

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia