Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq – Bagian Ketiga

Abu Bakar Taat Sepenuhnya Kepada Kitabullah

Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu sangat taat kepada Kitabullah. Dia tidak mendahulukan sesuatu atau mengakhirkannya, kecuali jika sejalan dengan perintah Allah Jalla wa ‘Ala.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang haditsatul ifki (fitnah dusta) yang menimpanya. Di dalamnya Aisyah berkata, “Ketika Allah menurunkan pembebasanku (dari fitnah dusta tersebut), Abu Bakar ash Shiddiq –biasanya ia selalu memberi nafkah kepada Misthah bi Utsman karena dia masih kerabatnya disamping karena dia miskin-, berkata, ‘Demi Allah, selamanya aku tidak akan memberikan nafkah apapun kepada Misthah setelah apa yang dikatakannya terhadap Aisyah. Maka Allah Ta’ala menurunkan (firman-Nya):

“Dan janganlah orang-orang yang mempunya kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.An Nuur:22)

Abu Bakar berkata, ‘Benar, demi Allah. Sesungguhnya aku ingin Allah mengampuniku.’ Maka Abu Bakar kembali menafkahi Misthah. Dia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan mencabutnya selama-lamanya.’” [8]

Dari Abi Mulaikah rahimahullah, ia berkata, “Abu Bakar ditanya tentang sebuah ayat di dalam Kitabullah, maka dia menjawab:

‘Bumi mana yang aku pijak dan langit mana yang akan menaungiku, kemana aku pergi dan apa yang bisa aku lakukan jika aku berkata tentang satu ayat dari Kitabullah dengan selain yang dikehendaki Allah?’”[9]

Dari Ibnu Sirih rahimahullah, ia berkata, “Tidak ada yang lebih takut dengan apa yang tidak dia ketahui daripada Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ada suatu perkara yang terjadi pada Abu Bakar, tetapi dia tidak menemukan dasar dalam Kitabullah, tidak pula dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia berijtihad dengan pendapatnya, kemudian dia berkata, ‘Ini adalah pendapatku. Jika benar maka ia dari Allah, namun j ika salah maka ia dariku dan aku memohon ampun kepada Allah.’”[10]

Kesesuaian Abu Bakar Dengan Al Habib shallallahu ‘alaihi wa sallam Pada Perjanjian Hudaibiyah

Abu Bakar ash Shiddiq telah memainkan sebuah sikap agung di mana shahabat-shahabat yang lain hampir menentangnya karena butir-butir perjanjian damai yang dibuat oleh orang-orang musyrikin.

Namun ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, orang yang paling mirip dengan Al Habib shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pemikiran dan kejernihan hatinya bahkan dalam pembicaraannya, melihat kepada keadaan dengan bashirah yang tajam dan mendalam yang tidak terbatas.

Pada saat para Shahabat melihat bahwa syarat-syarat dari Quraisy menzhalimi kaum muslimin, dan bahaw posisi kaum muslimin adalah hina, justru ash Shiddiq bersama Al Habib shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa posisi kaum muslimin adalah kuat dan mulia.

Sampai-sampai Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu tidak menyetujui sikap yang diambil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap syarat-syarat tersebut. Umar berkata, Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Bukahkan engkau adalah Nabi Allah yang sebenarnya?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar.”

Aku berkata, “Lalu mengapa kita menerima kehinaan ini dalam agama kita?”

Nabi menjawab, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Aku tidak durhaka kepada-Nya. Dia yang akan menolongku.”

Umar berkata, “Bukankah engkau telah menyampaikan kepada kami bahwa kami akan masuk ke Makkah lalu thawaf?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar, tetapi apakah aku mengatakan kepadamu tahun ini?”

Aku menjawab, “Tidak.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau akan datang dan thawaf.”

Umar berkata, lalu aku datang kepada Abu Bakar, aku berkata, “Bukankah beliau adalah Nabi Allah yang sebenarnya?”

Abu Bakar menjawab, “Benar.”

Aku berkata, “Bukankah kita di atas kebenaran, sedangkan musuh kita di atas kebatilan?”

Abu Bakar menjawab, “Benar.”

Aku berkata, “Lalu mengapa kita menerima kehinaan ini dalam agama kita?”

Abu Bakar menjawab, “Wahai Umar! Sesungguhnya beliau adalah utusan Allah, beliau tidak durhaka kepada-Nya, dia yang akan menolong beliau, peganglah ikatannya yang kuat.” (Yakni, ikuti saja kata-kata dan perbuatannya, jangan menentangnya)

Aku berkata, “Bukankah beliau telah menyampai kepada kita bahwa kita akan masuk ke Makkah lalu thawaf?”

Abu Bakar menjawab, “Benar, tetapi apakah beliau mengatakan kepadamu tahun ini?”

Aku menjawab, “Tidak. Beliau hanya mengatakan, ‘Engkau akan datang dan thawaf.’”[11]

Alangkah sucinya hati ini, mirip dan bertemu di atas kecintaan karena Allah ‘Azza wa Jalla.

Siapa yang mebaca kata-kata ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan cermat, niscaya dia melihat bahwa ia sama persis dengan kata-kata yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh sebuah kesesuaian di antara arwah-arwah yang suci, bersih, bertakwa, dan jujur.

Foot Note:

[1] Majma ‘uz Zawaaid (IX/46)

[2] Taarikh Al Khulafaa’ hal.36

[3] Fiqhus Siirah karya Al Ghazali hal.267

[4] Yang berkata adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hal itu dinyatakan dalam riwayat Abu Ya’la dan Al Hakim

[5] Diriwayatkan oleh Ahmad I/147 dan Al Hakim III/134, dia berkata, “Ini adalah hadits dengan sanad yang shahih, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Adz Dzahabi mengisyaratkan bahwa hadits ini berdasarkan syarat Muslim.

[6] HR.Bukhari No.4077 dan Muslim No.2418

[7] Zaadul Ma’aad III/469, cet.Mu-assasah Ar Risalah Beirut

[8] HR.Bukhari no.4750 kitab At Tafsiir

[9] Disebutkan Al Hafizh dalam Al Fath XIII/271, Dia berkata, ‘Atsar ini hasan.’

[10] Atsar ini terdapat dama Musnad ‘Abd bin Humaid. Al Adawi (pentahqiq kitab tersebut) berkata, “Ia shahih, rawi-rawinya terpercaya.”

[11] HR.Bukhari no.2731

Sumber: Disalin dari Buku ‘Shahabat-Shahabat Rasulullah, Syaikh Mahmud Al Mishri, Jilid 1. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir

Artikel: www.KisahIslam.net

Comments
All comments.
Comments
  1. sinta training management

    ceritanya amat sangat bagus……keteladanan seorang abu bakar ash shidiq ini memotivasi saya karena saya mempunyai nama yang sedikit mirip dengan beliau…hihi
    semoga juga sama dalam hal perilakunya dengan saya…amiinn

    terima kasih kisahislam.net semoga trus brkmbang dan terus mencritakan kisah-kisah islam….

  2. Dhimas

    Yaa Allah karuniakan Negara Kami pemimpin yang seperti Abu Bakare as Shidiq, pemimpin yang tegas tapi lembut.
    kunjungi blog kami http://www.kisahsahabat.com/

  3. vice

    Inspiratif sekali. keteladanan beliau dapat kita contoh dan praktekkan dikehidupan ini.

    http://www.paytrenesia.com