Dari Abdurrahman bin al-Ghosil, telah bercerita kepada kami ‘Ashim bin ‘Amru bin Qotadah, dari ayahnya dari kakeknya, “Bahwa pada masa perang Badar, matanya terluka, sehingga biji matanya jatuh kepipi. Orang-orang pun bermaksud hendak memotongnya. Mereka berkata, ‘Kita datang kepada Nabi dulu untuk meminta pendapat beliau.’ Lantas ia datang kepada Nabi
Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa perang Badar berangkat bersama 300 lebih pasukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, sungguh mereka itu tidak beralas kaki, maka berilah mereka tunggangan! Ya Allah, sungguh mereka itu tidak berpakaian, maka berilah
Dari ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Karena orang-orang Quraisy selalu menghalang-halangi dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyebarkan Islam, maka beliau berdoa: “Ya Allah, hentikan kejahatan mereka terhadapku dengan tujuh masa paceklik sebagaimana paceklik di zaman Yusuf.” Maka, orang-orang Quraisy ditimpa paceklik hebat yang memusnahkan semua tumbuhan, sampai-sampai mereka
Sebelum di angkat sebagai utusan Allah azza wa jalla, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sudah dikenal sebagai orang yang jujur dan amanah. Sampai orang-orang Quraisy menggelari beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dengan al-amin (orang yang amanah). Akan tetapi karena dakwah beliau shalallahu ‘alaihi wasallam tidak cocok dengan hawa nafsu orang-orang Quraisy,
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada suatu ketika Nabi Ayyub sedang mandi dengan bertelanjang, tiba-tiba sekelompok belalang emas berjatuhan di hadapannya lalu dibungkusnya dengan kain. Maka Allah berfirman menegurnya, ‘Wahai Ayyub, bukankah Aku telah memberimu kekayaan yang cukup sehingga engkau tidak membutuhkan apa yang engkau
Anak-Anak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam[1] Beliau memiliki tiga anak laki-laki: 1. Al-Qasim, dengannyalah beliau diberi kun-yah. Ia dilahirkan sebelum kenabian, dan meninggal saat berusia dua tahun. 2. `Abdullah, disebut juga ath-Thayyib dan ath-Thahir. Karena la dilahirkan setelah kenabian. Ada yang berpendapat, ath-Thayyib dan ath-Thahir bukanlah `Abdullah, tapi yang benar
Beliau tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek [2], tidak terlalu putih dan tidak pula coklat [3], rambutnya tidak keriting dan tidak pula lurus [4], saat meninggal tidak ada di kepalanya lebih dari dua puluh uban. Tubuhnya bagus, jarak antara kedua pundaknya jauh, memiliki rambut hingga kedua pundaknya: pada suatu
Ibnu Ishaq berkata, “Seseorang dari kabilah Aslam telah bercerita kepadaku, ia memiliki ingatan kuat, bahwa Abu Jahal berpapasan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bukit Shafa. Lantas ia menyakiti dan mencaci maki beliau. Ia juga menjelek-jelekkan agama beliau dan meremehkan misi yang beliau bawa. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
Daru Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Abu Thalib pergi ke Syam (untuk berdagang), dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut bersama beberapa pemuka Quraisy. Tatkala mereka sampai di tempat Rahib, mereka singgah dan meletakkan perbekalan mereka. Kemudian Rahib itu keluar menemui mereka, padahal sebelumnya, ketika mereka lewat di situ,
Beliau disusui oleh Tsuwaibah[1], maula Abu Lahab, selama bebarapa hari.[2] Kemudian, disusui oleh Halimah binti Abu Du-aib `Abdullah bin al-Harits as-Sa’diyyah. Diriwayatkan dari Halimah bahwa ia mengatakan, “Beliau tumbuh dalam sehari, sebagaimana anak tumbuh dalam sebulan.“[3] Beliau tumbuh sebagai anak yatim, lalu beliau diasuh oleh kakeknya, ‘Abdul Muththalib, kemudian oleh
Berikut beberapa kitab sejarah yang harus di waspadai: 1. AI-Aghaanii karya Abul Faraj al-Ashbahani. Kitab ini berisi obrolan, syair, dan nyanyian yang dicampuri berita-berita yang tidak benar. 2. Al-‘Iqdul Fariid karya Ibnu ‘Abdi Rabbih. Kitab sastra ini banyak memuat nukilan-nukilan palsu. 3. Al-Imaamah was Siyaasah yang dinisbatkan kepada Ibnu Qutaibah
Jawabannya adalah jika Anda mampu menganalisis sanad dan menelitinya, maka bacalah kitab Imam ath-Thabari (Taariikh ath-Thabari). Kitab beliau ini adalah pegangan bagi para ulama yang menulis kitab sejarah. Sedangkan jika Anda tidak mampu menganalisis dan meneliti sanad, maka bacalah: 1. Kitab al-Hafizh Ibnu Katsir, al-Bidaayah wan Nibaayah 2. Kitab al-Hafizh