Malam itu, amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz tak bisa tidur, hilang rasa kantuknya, tak mampu memejamkan matanya, resah dan gelisah hatinya. Di saat malam yang sangat dingin itu, di Damsyik pikiran beliau sedang sibuk dengan urusan pemilihan qadhi di Bashrah yang diharapkan dapat menegakkan keadilan di tengah manusia, yang
Hilal bin Isaf bercerita kepada tamunya yang bernama Mundzir ats-Tsauri, “Tidakkah sebaiknya kuantarkan engkau kepada Syaikh agar kita bisa menambah keimanan sesaat?” Jawab Mundzir, “Baik, aku setuju. Demi Allah, tiada yang mendorong aku datang ke Kufah ini melainkan karena ingin bertemu dengan gurumu, Rabi’ bin Khutsaim dan rindu untuk bisa
Pagi itu, matahari memancarkan benang-benang cahaya keemasan di atas Baitul Haram, menyama ramah pelatarannya yang suci. Di Baitullah, sekelompok sisa-sisa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tokoh-tokoh tabi’in tengah mengharumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir, menyejukkan sudut-sudutnya dengan do’a-do’a yang shalih. Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok-kelompok di sekliling Ka’bah
Sekarang kita berada di tahun 14 H. saat dimana para pembimbing generasi dan guru utama di kalangan para sahabat dan senior tabi’in membuat perbatasan kota Bashrah atas perintah khalifah muslimin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Mereka bertekad untuk membangun kota baru sebagai markas bagi pasukan kaum muslimin untuk berpegang di
Kita berada di sepuluh hari terakhir bulan Dzulhijjah tahun 97 H. Saat dimana Baitul ‘Atiq dibanjiri oleh lautan manusia yang menyambut panggilan Allah hingga memenuhi seluruh ruas jalan. Ada yang berjalan kaki dan ada yang berkendaraan. Ada yang lanjut usia ada pula yang muda belia, yang laki-laki maupun yang wanita,
Muhammad bin Ma’bad menceritakan: “Umar bin Abdul Aziz mengirimkan beberapa tawanan Romawi untuk ditukar dengan beberapa tawanan muslimin. Muhammad bin Ma’bad kembali berkata, “Dan disaat aku masuk untuk menemui kaisar Romawi, kemudian masuk pula para pembesar Romawi lainnya, maka akupun segera keluar.” Muhammad bin Ma’bad melanjutkan ceritanya, “Suatu hari, saat
Kisah Pertama Imam Sufyan ats Tsauri –rahimahullah– berkata, “Ketika al-Mahdi menunaikan ibnadah haji, dia berkata, “Hadirkanlah Sufyan menghadapku!” Merekapun menugaskan para pengintai di sekitar Ka’bah. Kemudian mereka membawaku di waktu malam. Ketika aku sudah berada di hadapan al-Mahdi, dia berkata kepadaku, “Kenapa engkau tidak menemui kami sehingga kami bisa minta