Jawabannya adalah jika Anda mampu menganalisis sanad dan menelitinya, maka bacalah kitab Imam ath-Thabari (Taariikh ath-Thabari). Kitab beliau ini adalah pegangan bagi para ulama yang menulis kitab sejarah. Sedangkan jika Anda tidak mampu menganalisis dan meneliti sanad, maka bacalah: 1. Kitab al-Hafizh Ibnu Katsir, al-Bidaayah wan Nibaayah 2. Kitab al-Hafizh
Muhammad bin Yunus bin Musa berkata, aku mendengar Zuhair bin Nu’aim al-Bani rahimahullah di tanya seseorang: “Wahai Abu Abdurrahman, apakah kamu ingin menasihatkan sesuatu?” Beliau menjawab, “Ya, waspadalah bila Allah mengambil nyawamu sedang kamu berada di atas kelalaian.” [Shifatush Shafwah IV/9]
Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.
Abu Abdillah berkata : “ Aku tak tahu, bagaimana harus menuturkan kisah ini padamu. Kisah yang pernah aku alami sendiri beberapa tahun yang lalu, sehingga mengubah total perjalanan hidupku, sebenarnya aku tak ingin menceritakannya, tapi demi tanggung jawab di hadapan Allah, dan peringatan bagi para pemuda yang mendurhakai Allah dan
Abu Bakr al-Jauzi berkata, aku mendengar Sahl bin Abdullah rahimahullah berkata: “Tidak semua orang yang melakukan ketaatan dapat menjadi kekasih Allah, tetapi yang menjadi kekasih Allah adalah orang yang menjauh apa yang dilarang oleh-Nya. Tidak ada orang yang menjauhi dosa kecuali orang yang shiddiq (benar keimanannya). Sedangkan amalan kebaikan, ia
Subhanallah, itulah kata yang selalu diucapkan oleh setiap muslim, terutama ketika mendengarkan sebuah kisah yang dipaparkan dalam koran harian “Ukazh”, sebagaimana yang disebutkan berikut ini: Koran harian “Tartim” yang beredar di Nigeria dan merupakan koran terbesar dengan oplah paling banyak menyebarkan berita yang tidak akan dilupakan oleh penduduk Nigeria. Koran
Biografi Yazid bin Mu’awiyah: Beliau bernama Yazid bin Mu’awiyah bin Abi Sufyan Shakhr bin Harb bin Umayyah. Pemimpin (amir) kaum mukminin. Kunyahnya adalah Abu Khalid Al-Umawi. Lahir pada tahun 25 H. Dibaiat sebagai khalifah ketika ayahnya masih hidup untuk kemudian memegang urusan pemerintahan sepeninggalnya. Penobatannya sebagai penguasa ditegaskan lagi setelah
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu ketika Hari Jum’at, beliau berdiri (berkhutbah) di samping sebuah batang pohon atau pohon kurma. Lalu ada seorang wanita, atau laki-laki, dari Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, maukah kami buatkan mimbar untuk Anda?’ Beliau menjawab, ‘(Silahkan) jika kalian berkehendak.’ Lalu para
Namanya adalah Ghaziyah binti Jabir bin Hakim. Beliau seorang wanita dari Quraisy, wanita dari Bani Amir bin Lu’ai dan ia pernah menjadi istri Abu al-Akr ad-Dausi. Beliau merasa simpati hatinya dengan Islam sejak masih di Mekah, hingga menjadi mantaplah iman di hatinya dan beliau memahami kewajiban dirinya terhadap din yang
Usinya 60 tahun. Ia seorang buta huruf yang tak bisa baca tulis. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah mengecap pendidikan sekolah. Ia memfokuskan diri mengurus rumah tangga dan kehidupan 10 orang anggota keluarga yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Suaminya meninggal dunia karena penyakit akut yang ia idap. Orang-orang yang ada
Penulis at-Tuhfah al-Itsnai Asy’ariyah berkata, “Allamah Syiah pada zaman ini, Syaikh Hibatuddin asy-Syahrastani, menukil apa yang diriwayatkan oleh al-Jahidz dari Khuzaimah al-Asadi, yang berkata, Aku masuk ke Kufah bersamaan dengan berangkatnya al-Husain bin Ali bersama kelaurganya, dari Karbala kepada Ubaidullah bin Ziyad. Aku melihat wanita-wanita Kufah pada saat itu sedang
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya apabila mayit telah dikuburkan, dia mendengar derap alas kaki orang yang mengantarkannya ketika kembali dari tempat pemakaman. Jika dia seorang mukmin, maka ibadah shalat akan berada di kepalanya, puasa berada di samping kanannya, zakat di sebelah kirinya, sementara seluruh perbuatan baiknya seperti sedekah,