Dari Ibnu Abi Uwais, dari ayahandanya, dari Al-Walid bin Dawud bin Muhammad bin Ubadah bin Ash-Shamit, dari saudara sepupunya Ubadah bin Al-Walid diriwayatkan bahwa ia berkata: “Ubadah bin Ash-Shamit pernah bersama Muawaiyyah. Setelah berkumandang adzan Jum’at, khatibpun naik mimbar sambil memuji dan menyanjung Muawiyyah. Maka Ubadahpun berdiri dengan membawa tanah
Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada para syaikh dari kalangan bani ‘Abbas: “Dengan apa kalian memerangi manusia?” Mereka menjawab: “Dengan kesabaran. Tidaklah kami menjumpai suatu kaum (musuh, pen.) melainkan kami bersabar menghadapi mereka sebagaimana mereka bersabar menghadapi kami.” Sebagian salaf berkata: “Masing-masing dari kami tidaklah menyukai kematian dan sakitnya luka-luka, akan
Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah ketika menerangkan ucapan Abu Thayyib Al-Mutanabbi mengatakan: “Aku tidak menganggap aib-aib manusia sebagai kekurangan, seperti kurangnya orang-orang yang mampu mencapai kesempurnaan.” Beliau rahimahullah berkata: “Seyogianya orang yang berakal berusah menyempurnakan dirinya sampai pada batas maksimal yang ia mampu. Seandainya digambarkan kepada anak Adam dirinya dapat
SESEORANG hendaknya membagi waktu siang dan malamnya. Semestinya dia memanfaatkan umurnya, karena sisa umur seseorang tidak ternilai harganya. – Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur. – Waktu untuk membahas/meneliti (suatu permasalahan) adalah di awal hari. – Waktu terbaik untuk menulis adalah di tengah siang. – Waktu terbaik untuk menelaah
Dari Al-A’masy, dari Syahar bin Hausyab, dari Al-Harits bin Umairah diriwayatkan bahwa ia berkata: “Aku pernah duduk disamping Muadz, ketika beliau sedang tidak sadar. Beliau pingsan, kemudian sadar, terbangun dan berkata:”Aku tercekik karena kehendak-Mu. Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku benar-benar mencintai-Mu.” (Siyaaru A’laamin Nubalaa’ I:460) Dari Asy-Sya’bi diriwayatkan bahwa ia berkata:
Dari al Hasan berkata, Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata, “Duhai, andai saja aku adalah sebuah pohon yang ditebang kemudian di makan.” [Shifatush Shafwah I/251] Dari Yahya bahwa Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata dalam khutbahnya, “Dimanakah orang-orang yang wajahnya elok dan kagum dengan keadaan dirinya? Dimanakah para