Seorang ayah yang bernama Khaitsamah bin al- Harits dengan anaknya yaitu Sa’ad mengundi siapa di antara mereka berdua yang akan ikut dalam perang Badar kali ini. Kemudian undian keluar dengan nama Sa’ad. Serta merta ayahnya berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, berikanlah giliran kali ini kepadaku.” Sang anak menjawab, “Wahai ayah,
Al-Qadhi (hakim) Abu Bakar Ahmad bin Kamil asy-Syajari murid Ibnu Jarir sekaligus sahabatnya berkata, “Apabila telah selesai makan pagi Ibnu Jarir ath-Thabari tidur sebentar dengan pakaian berlengan pendek. Setelah bangun beliau mengerjakan shalat Zhuhur. Lalu menulis artikel hingga waktu Ashar tiba. Kemudian keluar untuk shalat Ashar. Selanjutnya, beliau duduk di
Sebuah stasiun radio berita di kerajaan Jordania. Stasiun radio ini unggul dengan berita-berita faktual dan aktual yang disiarkan secara langsung. Kisah ini berawal dari dering telepon pada sesi suara pendengar yang diberi titel “buka-bukaan” yang disiarkan rutin setiap hari. Penelepon tak dikenal itu memperkenalkan diri sebagai pencuri profesional, sangat mengandalkan
Seorang pencuri dengan membawa pemukul bisbol masuk ke toko sambil berkata berikan saya uang, penjaga toko berkata oke, dengan berpura2 mengambil uang, ia mengambil senapan yg ia letakkan di bawah laci, dan balik mengacungknnya pada pencuri tersebut, sang pencuri takut walaupun sebenarnya senapan itu kosong (tanpa peluru), ia jongkok ke
Imam Al-Muzany bercerita: “Aku menemui Imam Asy-Syafi’iy menjelang beliau wafat, lalu kubertanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Ustadzku?” Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu: apakah
Alkisah, ada satu cerita di Saluran TV Majd beberapa tahun silam, nama program acaranya “Satu Keluarga”. Adalah Dr. Yahya sebagai Da’i / Penceramahnya kala itu, dengan lantang ia mengatakan bahwa umat Muslim itu memang tidak pernah teratur, yang dibutuhkan umat Muslim adalah satu keyakinan untuk dapat melakukan suatu aksi. Lantas
Perang Uhud tiba, ‘Abdulloh bin Jahsy dan kawannya Sa’ad bin Abi Waqqosh dalam perang ini mempunyai cerita yang tidak terlupakan. Biarkan kesempatan ini kita berikan kepada Sa’ad, biar beliau sendiri yang menyampaikan ceritanya dan cerita kawannya. Sa’ad bin Abi Waqqosh berkata, “Di perang Uhud, aku bertemu dengan ‘Abdulloh bin Jahsy,
Ketika Asy-Syaikh Al-’Utsaimin pulang dari Masjidil Haram usai shalat menuju hotel, beliau menjumpai sekumpulan anak muda sedang bermain sepak bola dalam keadaan mereka belum sholat. Maka beliau pun menghentikan permainan sepak bola itu, memberi nasehat kepada mereka, dan mengingatkan mereka kepada Allah dalam keadaan mereka tidak tahu siapa beliau. Asy-Syaikh
Seseorang dari kalangan as-salafush shalih datang ke rumah temannya. Ia keluar menemuinya dan berkata, ‘Apa yang membuatmu datang kemari?’ Ia berkata, ‘Aku punya hutang sebanyak empat ratus dirham.’ Orang itu pun masuk ke rumah dan menghitungnya. Setelah itu, ia keluar dan memberikannya. Kemudian ia kembali masuk ke dalam rumah sembari
Al Hafizh Ibnu Katsir menceritakan perihal biografi Amir Badar bin Hasnawih al-Kurdi Rahimahullah, “Ia terbilang raja yang baik di Dinour dan Hamdan. Ia punya siasat dan teman yang banyak. al Qadir menjulukinya Abu Najm, memberinya gelar Nashirud Daulah. Negerinya sangat aman, dan muamalah (hubungan antar masyarakat) di situ sangat baik.
Abdullah ibn al Mubarak menuturkan, “Aku berada di Mekkah ketika orang2 ditimpa paceklik dan kemarau panjang. Mereka pun keluar ke Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat istisqa’. Akan tetapi, hujan tidak segera turun. Disampingku ada seseorang laki2 berkulit hitam yang kurus. Kudengar dia berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya mereka sudah berdoa kepada-Mu,
Aku menikah muda. Kala itu, usiaku tak lebih dari 19 tahun dan baru saja lulus SMU. Wanita yang kuperisteri saat itu bahkan baru 16 tahun. Ia hanya lulus SLTP, karena keluarganya pun seperti keluargaku, miskin, tak punya cukup biaya untuk menyekolahkan anaknya lebih tinggi. Namaku Arman, dan isteriku Salimah. Kami