Sombong terhadap orang lain adalah termasuk perkara yang dibenci Syari’at. Banyak ayat dan hadits yang memerintahkan manusia agar menjauhi sikap yang tercela ini. Salah satu sifat rendah diri seorang imam yang pantas dicontoh adalah apa yang dilakukan oleh tokoh pembesar madzhab syafi’i Abu Ishaq asy-Syirazi -rahimahullah-. Pada suatu hari beliau
Al Bukhari rahimahullah bercerita: “Sewaktu masih kecil, aku pergi ke majlis para fuqoha, apabila aku datang, aku merasa malu untuk mengucapkan salam kepada mereka. Seorang muaddib berkata kepadaku: “Berapa hadits yang telah kamu catat di hari ini ?” Aku menjawab,”Dua.” Ternyata orang-orang yang berada di majlis mentertawakanku. Salah seorang Syaikh
Ibnul Mubarok berkata: “Dahulu seseorang (para sahabat) apabila melihat pada saudaranya terdapat hal yang tidak ia sukai iapun memerintahkannya atau melarangnya dengan sembunyi, sehingga dia diberi pahala atas rahasia dan larangannya (dari sesuatu yang tidak disenangi). Adapun hari ini, apabila seseorang melihat apa yang ia tidak sukai, ia membuat marah
Imam asy-Sya’bi Rahimahullah pernah ditanya tentang satu masalah, beliau menjawab: “Saya tidak tahu”. Maka si penanya heran dan berkata: “Apakah engkau tidak malu mengatakan ‘tidak tahu’, padahal engkau adalah ahlul fiqh negeri Iraq?” Beliau menjawab: “Tidak, karena para malaikat sekalipun tidak malu mengatakan ‘tidak tahu’ ketika Allah tanya: “Sebutkanlah kepada-Ku
Khulaid al-Ashri mengatakan bahwa semua orang yakin akan mati, tapi tak ada yang mempersiapkan diri untuk hal itu. Semua orang yakin akan adanya Surga, tapi tak ada yang berusaha mendapatkannya. Semua orang yakin akan adanya Neraka, tapi tak ada yang takut padanya. Lalu, apakah yang kamu pakai untuk mendaki? Apa
Wahai orang yang mengharapkan pahala tanpa amal dan mengharapkan taubat dengan panang angan-angan.. Apakah engkau berbicara tentang dunia seperti orang yang zuhud dan bekerja untuk dunia seperti orang rakus yang tidak menerima bagian yang sedikit dan tidak puas dengan bagian yang banyak? Engkau benci kematian karena dosa-dosamu, dan engkau mengurus
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata, “Dulu aku masuk ke rumah yang menjadi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, lalu aku melepas sebagian pakaianku sambil bergumam, ‘Itu adalah suamiku dan ayahku.’ Tapi setelah Umar radhiyallahu ‘anhu dimakamkan disitu, maka demi Allah aku tidak pernah
Seorang dokter di Rumah Sakit Jiwa ingin menguji 3 orang pasiennya yang gila, untuk mengetahui siapakah yang sudah sembuh dari gilanya atau yang paling baik akalnya. Sang dokter menggelar kain berwarna biru diatas lantai, lalu meminta kepada ketiga orang tersebut untuk berenang diatasnya. Orang pertama langsung melompat ke atas kain
Suatu hari, ada dua orang lelaki dibawa menghadap ke depan Nisawi. Keduanya tertuduh sebagai pencuri. Keduanya diperintahkan berdiri di hadapan beliau. ‘Ambilkan secangkir air,’ perintah beliau, kemudian mengambil cangkir berisi minuman tersebut dan meminumnya. Tiba-tiba beliau mencampakkan cangkir itu dengan sengaja, sehingga terjatuh dan pecah. Salah seorang lelaki tersebut terkejut
Suatu saat, ada seorang wanita tua bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Rasulullah, doakanlah agar aku bisa masuk Surga.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aduh, Surga tidak akan pernah dimasuki oleh wanita-wanita tua.’ Saat itulah, adzan berkumandang. Beliau pun masuk rumah untuk bersiap-siap, lalu keluar lagi. Ternyata, dia
Alkisah, seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Engkau istri siapa?” Wanita itu lalu menyebutkan nama suaminya. Serta merta, beliau bertanya, “Oh itu, yang ada putih-putih di matanya?” Wanita itu segera pulang. Sesampainya di rumah, dan saat pertama kali berjumpa dengan suaminya,
Sammak bin Harb meriwayatkan dari Khanbasy bin Al-Mu’tamir bahwa ada dua orang lelaki yang datang menemui seorang wanita Quraisy untuk menitipkan uang dua ratus dinar. Mereka berkata, “Jangan serahkan uang ini kepada salah seorang di antara kami, kecuali bila kami datang berdua.” Selama beberapa lama, keduanya tidak pernah muncul. Suatu