Warna Warni Santri : Kisah si Aswad (Nama Samaran)

Ustadz baru saja menginjakkan kaki di ma’had setelah pulang dari mengisi kajian di suatu daerah. Ia kaget dan heran melihat ada keributan di asrama. Padahal jam segini harusnya anak-anak sudah pada tidur.

Bergegas Ustadz menuju asrama. Tampak Abu Luqman, salah seorang pengajar, sedang bicara di hadapan anak-anak yang dikumpulkan di dalam sebuah

ruangan. Gaya bicara Abu Luqman berapi-api, sepertinya dia sedang marah campur kesal.”Assalamu’alaikum, Aba Luqman…”, sapa Ustadz.

“Wa’alaikumussalam… Eh Ustadz, baru datang?”
Abu Luqman termasuk jajaran pengajar di ma’had tersebut. Sedangkan Ustadz, disamping pengajar, dia juga mudir.

“Ada apa ini, Aba Luqman?”, tanya Ustadz agak cemas dan penasaran.

“Ini loh, Ustadz, ada salah seorang santri yang kehilangan uang 30 ribu. Tapi tak ada satu pun yang mau mengakui mengambilnya. Tapi beberapa anak mencurigai si Aswad itu pelakunya. Tapi si Aswad tidak mau mengakui…”

“Loh…kenapa bisa mencurigai si Aswad? Kalau ternyata bukan dia dia pelakunya, bagaimana?”

“Pokoknya pelakunya si Aswad !! Dia yang ngambil uangku !”, si Ilham nyeletuk keras penuh emosi.

“Kamu jangan nuduh aku ya. Aku ga ngambil uangmu kok. Buktinya apa aku ngambil uangmu?”, si Aswad membela diri.

“Tadi aku lihat di tasmu ada uang 30 ribu. Itu pasti uangku”, vonis Ilham.

“Enak aja. Itu uang dikasih Abiku loh….”, Aswad tak mau kalah. Perdebatan sengit pun tak bisa dihindari.

“Tenang…tenang, ya Abnaa’. Masalah ini bisa kita atasi baik-baik. Tidak boleh marah-marahan. Tidak baik. Sesama saudara semuslim harus saling menyayangi…… Aba Luqman, tolong antum jaga anak-anak di sini ya. Ana mau bicara 4 mata dengan Aswad…”

“Thoyyib, Ustadz. Untung antum segera datang. Ana sudah pusing dari tadi menghadapi anak-anak ini…”

“Sabar, Akhi… Menghadapi anak-anak perlu ketenangan, kesabaran, ketegasan namun tetap penuh kasih sayang. InsyaAllah ana akan selesaikan masalah ini… Emmm, Aswad, ikut Ustadz sebentar ya…”

“Ustadz mau marahin Aswad ya? Aswad ga nyuri kok…”, Aswad tampak agak ketakutan.

“Tidak, Nak… Ustadz tidak marah. Ustadz cuma pengen ngobrol bentar aja. Kebetulan tadi Ustadz beli oleh-oleh, kita maem bareng yuk…”
………………………………..
Di dalam ruangan Ustadz.
Sambil menikmati buah jeruk, Ustadz mulai menginterogasi Aswad dengan halus.

“Aswad… Di mata Ustadz, Aswad ini anak yang baik dan jujur. Aswad juga prestasinya bagus. Hafalannya juga sudah banyak. Tilawahnya enak didengar. Ustadz sangat mencintai Aswad. Maukah Aswad janji bicara jujur sama Ustadz, Nak?”

“Iya, Ustadz…”
“Bagaimana menurut Aswad tentang perbuatan mencuri?”
“Itu dosa, Ustadz…”
“Kalau ada anak yang ketahuan mencuri, apa dia layak dihukum?”
“Iya, Ustadz…”
“Ya Bunay… Tolong bicaralah terus terang sama Ustadz, apa betul Aswad mengambil sesuatu yang bukan haknya Aswad? Apa betul uang yang di tasnya Aswad itu punya Ilham?”
“Aswad takut, Ustadz…”, tangis Aswad pun pecah.
“Tidak usah takut, Nak… Ustadz jamin, kalau Aswad mau jujur mengakui, semuanya akan baik-baik saja. Ustadz akan jaga nama baik Aswad. Aswad bisa tetap belajar di sini. Tapi kalau Aswad tidak jujur, Ustadz tak bisa menghalangi kalau pihak yayasan mau men-DO Aswad. Jujurlah, Nak… Ustadz pastikan semuanya akan baik-baik saja. InsyaAllah…”

Aswad tergugu bisu beberapa lama. Isak tangisnya masih terdengar. Ustadz mengambil tisu dan mengusap airmata anak didiknya itu.

“Bicaralah, Nak… Jangan takut.”
“Ustadz maafin Aswad ya. Emang benar Aswad yang mengambilnya…”

Hhhhh….Ustadz menarik nafas panjang. Lega mendengar pengakuan jujur Aswad. Alhamdulillah.

“Kalau boleh tahu, kenapa Aswad kok mengambilnya? Bukankah Aswad tahu itu perbuatan tidak terpuji?”

“Soalnya…buku sama alat tulisnya Aswad sudah habis. Aswad juga pengen beli penggaris sama tipe-X. Lha Aswad ga ada uang, soalnya Abi udah 2 bulan ga pernah jenguk Aswad…..”, terang Aswad polos.

Ya Allah ya Kariim… Hati Ustadz menjerit. Ia pun tak kuasa menahan tangisnya. Diraihnya anak itu dalam dekapannya.

“Subhanallah…sabar ya, Nak. Mungkin Abi masih sibuk cari nafkah. Suatu hari nanti pasti Abi juga bakal ke sini. Tapi apapun alasannya, Aswad tak boleh mencuri. Kalau Aswad butuh apa-apa, Aswad matur saja ke Ustadz ya, insyaAllah akan Ustadz bantu.”

“Iya, Ustadz… Ustadz ga marah kan?”
Ustadz tidak marah. Tapi Aswad harus janji tidak akan mengulangi perbuatan ini kapanpun dan dimanapun, selamanya. Allah Maha Melihat, Nak… Jadi, takutnya kepada Allah ya, bukan pada Ustadz atau lainnya.”

Ustadz mengambil sejumlah uang.
“Ini buat Aswad. Buat beli keperluan belajar. Kalau ada sisanya boleh buat jajan. Yang uangnya Ilham, nanti kita kembalikan ke pemiliknya. Aswad juga harus minta maaf pada Ilham. Ustadz jamin, insyaAllah, teman-teman akan kembali menerima Aswad seperti semula. Oke, Nak?”

“Iya, Ustadz… Syukron.”

Akhirnya masalah itupun bisa dituntaskan dengan baik. Alhamdulillah…….. 🙂

Ustadz baru saja menginjakkan kaki di ma’had setelah pulang dari mengisi kajian di suatu daerah. Ia kaget dan heran melihat ada keributan di asrama. Padahal jam segini harusnya anak-anak sudah pada tidur.Bergegas Ustadz menuju asrama. Tampak Abu Luqman, salah seorang pengajar, sedang bicara di hadapan anak-anak yang dikumpulkan di dalam sebuah

ruangan. Gaya bicara Abu Luqman berapi-api, sepertinya dia sedang marah campur kesal.”Assalamu’alaikum, Aba Luqman…”, sapa Ustadz.

“Wa’alaikumussalam… Eh Ustadz, baru datang?”
Abu Luqman termasuk jajaran pengajar di ma’had tersebut. Sedangkan Ustadz, disamping pengajar, dia juga mudir.

“Ada apa ini, Aba Luqman?”, tanya Ustadz agak cemas dan penasaran.

“Ini loh, Ustadz, ada salah seorang santri yang kehilangan uang 30 ribu. Tapi tak ada satu pun yang mau mengakui mengambilnya. Tapi beberapa anak mencurigai si Aswad itu pelakunya. Tapi si Aswad tidak mau mengakui…”

“Loh…kenapa bisa mencurigai si Aswad? Kalau ternyata bukan dia dia pelakunya, bagaimana?”

“Pokoknya pelakunya si Aswad !! Dia yang ngambil uangku !”, si Ilham nyeletuk keras penuh emosi.

“Kamu jangan nuduh aku ya. Aku ga ngambil uangmu kok. Buktinya apa aku ngambil uangmu?”, si Aswad membela diri.

“Tadi aku lihat di tasmu ada uang 30 ribu. Itu pasti uangku”, vonis Ilham.

“Enak aja. Itu uang dikasih Abiku loh….”, Aswad tak mau kalah. Perdebatan sengit pun tak bisa dihindari.

“Tenang…tenang, ya Abnaa’. Masalah ini bisa kita atasi baik-baik. Tidak boleh marah-marahan. Tidak baik. Sesama saudara semuslim harus saling menyayangi…… Aba Luqman, tolong antum jaga anak-anak di sini ya. Ana mau bicara 4 mata dengan Aswad…”

“Thoyyib, Ustadz. Untung antum segera datang. Ana sudah pusing dari tadi menghadapi anak-anak ini…”

“Sabar, Akhi… Menghadapi anak-anak perlu ketenangan, kesabaran, ketegasan namun tetap penuh kasih sayang. InsyaAllah ana akan selesaikan masalah ini… Emmm, Aswad, ikut Ustadz sebentar ya…”

“Ustadz mau marahin Aswad ya? Aswad ga nyuri kok…”, Aswad tampak agak ketakutan.

“Tidak, Nak… Ustadz tidak marah. Ustadz cuma pengen ngobrol bentar aja. Kebetulan tadi Ustadz beli oleh-oleh, kita maem bareng yuk…”
………………………………..
Di dalam ruangan Ustadz.
Sambil menikmati buah jeruk, Ustadz mulai menginterogasi Aswad dengan halus.

“Aswad… Di mata Ustadz, Aswad ini anak yang baik dan jujur. Aswad juga prestasinya bagus. Hafalannya juga sudah banyak. Tilawahnya enak didengar. Ustadz sangat mencintai Aswad. Maukah Aswad janji bicara jujur sama Ustadz, Nak?”

“Iya, Ustadz…”
“Bagaimana menurut Aswad tentang perbuatan mencuri?”
“Itu dosa, Ustadz…”
“Kalau ada anak yang ketahuan mencuri, apa dia layak dihukum?”
“Iya, Ustadz…”
“Ya Bunay… Tolong bicaralah terus terang sama Ustadz, apa betul Aswad mengambil sesuatu yang bukan haknya Aswad? Apa betul uang yang di tasnya Aswad itu punya Ilham?”
“Aswad takut, Ustadz…”, tangis Aswad pun pecah.
“Tidak usah takut, Nak… Ustadz jamin, kalau Aswad mau jujur mengakui, semuanya akan baik-baik saja. Ustadz akan jaga nama baik Aswad. Aswad bisa tetap belajar di sini. Tapi kalau Aswad tidak jujur, Ustadz tak bisa menghalangi kalau pihak yayasan mau men-DO Aswad. Jujurlah, Nak… Ustadz pastikan semuanya akan baik-baik saja. InsyaAllah…”

Aswad tergugu bisu beberapa lama. Isak tangisnya masih terdengar. Ustadz mengambil tisu dan mengusap airmata anak didiknya itu.

“Bicaralah, Nak… Jangan takut.”
“Ustadz maafin Aswad ya. Emang benar Aswad yang mengambilnya…”

Hhhhh….Ustadz menarik nafas panjang. Lega mendengar pengakuan jujur Aswad. Alhamdulillah.

“Kalau boleh tahu, kenapa Aswad kok mengambilnya? Bukankah Aswad tahu itu perbuatan tidak terpuji?”

“Soalnya…buku sama alat tulisnya Aswad sudah habis. Aswad juga pengen beli penggaris sama tipe-X. Lha Aswad ga ada uang, soalnya Abi udah 2 bulan ga pernah jenguk Aswad…..”, terang Aswad polos.

Ya Allah ya Kariim… Hati Ustadz menjerit. Ia pun tak kuasa menahan tangisnya. Diraihnya anak itu dalam dekapannya.

“Subhanallah…sabar ya, Nak. Mungkin Abi masih sibuk cari nafkah. Suatu hari nanti pasti Abi juga bakal ke sini. Tapi apapun alasannya, Aswad tak boleh mencuri. Kalau Aswad butuh apa-apa, Aswad matur saja ke Ustadz ya, insyaAllah akan Ustadz bantu.”

“Iya, Ustadz… Ustadz ga marah kan?”
Ustadz tidak marah. Tapi Aswad harus janji tidak akan mengulangi perbuatan ini kapanpun dan dimanapun, selamanya. Allah Maha Melihat, Nak… Jadi, takutnya kepada Allah ya, bukan pada Ustadz atau lainnya.”

Ustadz mengambil sejumlah uang.
“Ini buat Aswad. Buat beli keperluan belajar. Kalau ada sisanya boleh buat jajan. Yang uangnya Ilham, nanti kita kembalikan ke pemiliknya. Aswad juga harus minta maaf pada Ilham. Ustadz jamin, insyaAllah, teman-teman akan kembali menerima Aswad seperti semula. Oke, Nak?”

“Iya, Ustadz… Syukron.”

Akhirnya masalah itupun bisa dituntaskan dengan baik. Alhamdulillah…….. 🙂

Sumber: Dikisahkan Oleh  Ammi Ahmad Alawi Aac

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

=

Comments
All comments.
Comments