Alkisah, ada satu cerita di Saluran TV Majd beberapa tahun silam, nama program acaranya “Satu Keluarga”. Adalah Dr. Yahya sebagai Da’i / Penceramahnya kala itu, dengan lantang ia mengatakan bahwa umat Muslim itu memang tidak pernah teratur, yang dibutuhkan umat Muslim adalah satu keyakinan untuk dapat melakukan suatu aksi. Lantas
Perang Uhud tiba, ‘Abdulloh bin Jahsy dan kawannya Sa’ad bin Abi Waqqosh dalam perang ini mempunyai cerita yang tidak terlupakan. Biarkan kesempatan ini kita berikan kepada Sa’ad, biar beliau sendiri yang menyampaikan ceritanya dan cerita kawannya. Sa’ad bin Abi Waqqosh berkata, “Di perang Uhud, aku bertemu dengan ‘Abdulloh bin Jahsy,
Ketika Asy-Syaikh Al-’Utsaimin pulang dari Masjidil Haram usai shalat menuju hotel, beliau menjumpai sekumpulan anak muda sedang bermain sepak bola dalam keadaan mereka belum sholat. Maka beliau pun menghentikan permainan sepak bola itu, memberi nasehat kepada mereka, dan mengingatkan mereka kepada Allah dalam keadaan mereka tidak tahu siapa beliau. Asy-Syaikh
Seseorang dari kalangan as-salafush shalih datang ke rumah temannya. Ia keluar menemuinya dan berkata, ‘Apa yang membuatmu datang kemari?’ Ia berkata, ‘Aku punya hutang sebanyak empat ratus dirham.’ Orang itu pun masuk ke rumah dan menghitungnya. Setelah itu, ia keluar dan memberikannya. Kemudian ia kembali masuk ke dalam rumah sembari
Abdullah ibn al Mubarak menuturkan, “Aku berada di Mekkah ketika orang2 ditimpa paceklik dan kemarau panjang. Mereka pun keluar ke Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat istisqa’. Akan tetapi, hujan tidak segera turun. Disampingku ada seseorang laki2 berkulit hitam yang kurus. Kudengar dia berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya mereka sudah berdoa kepada-Mu,
Musim paceklik yang sangat dahsyat pernah terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab. Melihat keadaan seperti itu Umar bin Khaththab keluar bersama kaumnya dan melaksanakan shalat dua rakaat (shalat Istisqa’). Kemudian dia menyilang dua ujung selendangnya, dia memindah yang kanan ke kiri, dan yang kiri ke kanan, lalu dia membentangkan
Hidayah Allah datangnya tidak bisa diraba-raba. Apabila Allah menghendaki maka ia akan mendatangi hamba yang berbahagia itu. Demikianlah kisah seorang pendeta asal Italia. Seorang pendeta terkenal di Italia mengumumkan masuk Islam setelah menyaksikan jenazah raja Arab Saudi, Fahd bin Abdul Aziz, untuk kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal itu terjadi
6. Guru dan Murid-muridnya Guru-Gurunya: Al-Mizzi berkata, “Masruq meriwayatkan dari beberapa orang yang di antaranya; Ubay bin Ka’ab, Khabab bin Al-Art, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar bin Al-Khathab, Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Abdullah bin Mas’ud, Ubaid bin Umair Al-Laitsi, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Umar bin
Jarir meriwayatkan, ”Suatu hari Al A’masy duduk di pojok majelis. Sementara kami duduk di bagian pojok lain. Di Dekat tempat itu, ada air hujan menggenang membentuk sebuah danau kecil. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang mengenakan mantel hitam. Saat melihat al A’masy, ia memandang rendah, karena pakaian beliau yang sederhana. “Heh
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada suatu ketika Nabi Ayyub sedang mandi dengan bertelanjang, tiba-tiba sekelompok belalang emas berjatuhan di hadapannya lalu dibungkusnya dengan kain. Maka Allah berfirman menegurnya, ‘Wahai Ayyub, bukankah Aku telah memberimu kekayaan yang cukup sehingga engkau tidak membutuhkan apa yang engkau
Ketika tokoh Muslim Moro, Nur Misuari menyatakan wilayah Mindanao harus memisahkan diri dari Filipinadan menjadi negara Islam, Estanislao Soria menjadi orang yang paling menentang keinginan Misuari. Sebagai seorang tokoh agama Katolik yang lahir di Mindanao, ia menolak keras jika tanah kelahirannya diambil alih oleh orang-orang Muslim. “Saya sangat tidak setuju
3. Ibadahnya Dari Ibrahim bin Muhammad bin Al-Muntasyir, dia berkata, “Masruq memasang penutup antara dia dengan anggota keluarganya ketika shalat agar khusyuk dalam shalatnya, meninggalkan mereka dan dunia mereka.”[1] Anas bin Sirin dari isteri Masruq, dia berkata, “Masruq banyak melakukan shalat hingga kedua kakinya membengkak. Seringkali aku duduk di belakangnya