Begitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, unta beliau menderum di kebun milik dua orang anak dari kalangan sahabat beliau. Maka, tempat itulah yang dijadikan sebagai areal masjid. Kedua anak tersebut lebih memilih menghibahkan tanah itu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam hadis
Dari Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kita untuk bersedekah, dan hal itu sangat bertepatan sekali dengan adanya hartaku, lalu saya bergumam, ‘Hari ini saya pasti melampaui Abu Bakar radhiallahu ‘anhu apabila saya mendahuluinya suatu saat nanti,’ lalu saya menginfakkan setengah dari hartaku,
Malik telah meriwayatkan dalam Muwaththa’, “Bahwasanya telah sampai kepadanya dari Aisyah -istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa seorang miskin meminta kepadanya, sedang dia berpuasa dan tidak ada suatu makanan pun di rumahnya kecuali roti kering, lalu dia berkata kepada pelayannya, ‘Berikanlah roti itu kepadanya’, pelayan itu berkata, ‘Tidak ada lagi
Al-Hakim meriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu berkata, “Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa seribu dinar ketika mempersiapkan pasukan al-’Usrah (pasukan perang Tabuk ketika masa sulit) lalu Utsman meletakkan seluruh dinar itu di pangkuan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Bahwa yang paling cepat menyusul diriku dari kalian (istri-istriku) adalah yang paling panjang tangannya’, Aisyah berkata, ‘Lalu kami saling mengukur tangan kami agar mengetahui siapa yang paling panjang tangannya,’ dia melanjutkan, ‘Dan ternyata istri beliau yang paling panjang tangannya adalah