Yazid bin al Asham berkata, “Diantara tawanan dalam perang Badar adalah Al Abbas, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebelum masuk Islam). Karena hal itu, maka beliau tidak tidur malam. Sebagian shahabat bertanya kepada beliau, “Apa yang menyebabkan engkau tidak bisa tidur, wahai Nabiyullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
Perang Uhud tiba, ‘Abdullah bin Jahsy dan kawannya Sa’ad bin Abi Waqqosh dalam perang ini mempunyai cerita yang tidakterlupakan. Biarkan kesempatan ini kita berikan kepada Sa’ad, biar beliau sendiri yang menyampaikan ceritanya dan cerita kawannya. Sa’ad bin Abi Waqqosh berkata, “Di perang Uhud, aku bertemu dengan ‘Abdullah bin Jahsy, dia
Al ‘Auzai berkata: “Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah keluar di tengah kegelapan malam, lalu dilihat oleh Thalhah. Umar memasuki sebuah rumah lalu masuk ke rumah lainnya. Pada keesokan harinya Thalhah pergi kerumah itu, ternyata didalamnya terdapat seorang nenek yang buta dan lumpuh. Ia bertanya, “Mengapa orang itu datang kepadamu?”
Di antaranya: Zaid bin Haritsah bin Syarahil al-Kalbi Abu Usamah, Tsauban bin Bujdud, Abu Kabsyah yang namanya adalah Sulaim, ia ikut dalam perang Badar, Badzam[1], Ruwaifi’, Qashir[2], Maimun[3], Abu Bakrah[4], Hurmuz[5], Abu Shafiyyah ‘Ubaid, Abu Salma[6], Anasah, Shalih, yaitu Syuqran, Rabbah Aswad, Yasar ar-Ra’i: Naubi, Abu Rafi’ yang namanya adalah
Dari Abu Darda’ radhiyallahu anh, ia bercerita, “Ketika aku sedang duduk-duduk bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tampak Abu Bakar datang sambil mengangkat bagian bawah pakaiannya hingga lututnya kelihatan. Melihat hal itu, Nabi berkomentar, “Temanmu ini (yaitu Abu Bakar) habis bertengkar.” Tidak lama kemudian, Abu Bakar mengucapkan salam dan berkata,
ISTERI-ISTERI NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM Yang pertama dari mereka adalah Khadijah, kemudian Saudah, kemudian `Aisyah, lalu Hafshah, Ummu Habibah, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Maimunah, Juwairiyah, dan Shafiyyah. Kami akan menyebutkan biografi mereka, insya Allah.[1] Semuanya ada sembilan setelah Khadijah, yang meninggal sebelum mereka. Beliau tidak pernah menikah dengan
Tahukah Anda.. Bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah sekali menjadi makmum ketika melaksanakan shalat. Waktu itu, Rasulullah datang terlambat sementara shalat telah ditegakkan dengan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu sebagai imamnya. [Majalah Qudwah, Edisi 02, 2012, hal.53] * Kisah ini terjadi pada peperangan Tabuk * Diriwayatkan oleh Imam
Sebelum di angkat sebagai utusan Allah azza wa jalla, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sudah dikenal sebagai orang yang jujur dan amanah. Sampai orang-orang Quraisy menggelari beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dengan al-amin (orang yang amanah). Akan tetapi karena dakwah beliau shalallahu ‘alaihi wasallam tidak cocok dengan hawa nafsu orang-orang Quraisy,
Anak-Anak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam[1] Beliau memiliki tiga anak laki-laki: 1. Al-Qasim, dengannyalah beliau diberi kun-yah. Ia dilahirkan sebelum kenabian, dan meninggal saat berusia dua tahun. 2. `Abdullah, disebut juga ath-Thayyib dan ath-Thahir. Karena la dilahirkan setelah kenabian. Ada yang berpendapat, ath-Thayyib dan ath-Thahir bukanlah `Abdullah, tapi yang benar
Adapun Arab Musta’ribah, mereka merupakan cikal bakal dari nenek moyang mereka yang tertua Ibrahim ‘Alaihis-Salam, yang berasal dari negeri Iraq, dari sebuah kota yang disebut Ar, dan terletak di pinggir barat sungai Eufrat, berdekatan dengan Kufah. Cukup banyak upaya penggalian dan pengeboran yang dilakukan untuk mengungkap rincian yang mendetail tentang
LETAK STRATEGIS DUNIA ARAB DAN SUKU-SUKUNYA Pada hakikatnya Sirah Nabawiyah merupakan gambaran risalah (misi) yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada umat manusia, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dari ibadah kepada hamba menuju ibadah kepada Allah. Gambaran risalah yang amat menawan dan sempurna ini tidak mungkin
Beliau tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek [2], tidak terlalu putih dan tidak pula coklat [3], rambutnya tidak keriting dan tidak pula lurus [4], saat meninggal tidak ada di kepalanya lebih dari dua puluh uban. Tubuhnya bagus, jarak antara kedua pundaknya jauh, memiliki rambut hingga kedua pundaknya: pada suatu