Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur menulis surat kepada Suwar bin Abdullah, seorang hakim Bashrah. Isi surat itu sebagai berikut, “Periksa tanah yang menjadi sengketa antara si Fulan Yang pemimpin dengan si Fulan yang pedagang. Serahkan tanah itu pada si Fulan yang pemimpin.” Suwar balas menulis surat kepada Khalifah, “Bukti-bukti yang ada
Al-Ashifi berkata, “Suatu hari utusan hakim di daerah Bajanibanir tiba di hadapan Sultan Muzhfir Al-Halim AlKajarati. Utusan itu menyampaikan kalau seseorang yang berdagang kuda mengaku dizalimi olehnya. Sultan pun segera menindak-lanjuti laporan utusan itu dengan keluar menuju hakim. Setibanya di sana, ia duduk bersama sang lawan di hadapannya. Si pedagang
Amr bin Syaibah berkata, “Amr bin Al-Ash pernah berkata kepada seseorang dari Tujib, ‘Wahai munafik!’ Orang dari Tujib itu melapor kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Amr telah mengataiku munafik. Demi Allah, aku tidak pernah munafik semenjak masuk Islam.’ Maka, Umar radhiyallahu Anhu menulis
Amirul Mukminin, Al-Makmun Rahimahullah, didatangi seorang perempuan lemah yang mengeluhkan putranya, Al-Abbas. Amirul Mukminin lalu menyuruh pengawal memanggil dan menghadapkannya bersama perempuan itu. Perempuan itu mengaku Al-Abbas telah mengambil dan menguasai tanah miliknya. Keduanya pun berdebat sesaat. Terkadang suara perempuan itu lebih tinggi dari suaranya.Beberapa hadirin mencaci maki perempuan itu.