Ada riwayat menyebutkan, bahwa suatu hari Umar keluar di malam hari, mengelilingi kota Al-Madinah. Beliau melihat api unggun yang menyala di tengah kegelapan. Beliau pun berhenti, dan berkata lantang,’Wahai Ahli Dhau (pemilik cahaya)!’ Beliau tidak mau memanggil, ‘Hai Ahli Naar (pemilik api). Karena khawatir, dipahami sebagai penghuni Neraka. Karena kata
Hasan bin Ali menceritakan, ‘Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar keluar dari gua Tsaur, lepas dari pengejaran kaum musyrik Qurasiy, lalu meneruskan perjalanan di kota Al-Madinah, nyaris setiap orang yang mengenal Abu Bakar langsung bertanya, “Siapa yang bersamamu?” Abu Bakar menjawab, “Ia hanya seorang penunjuk jalan’ Dan
Suatu saat, istri Yazid hamil. Si istri berkata kepada suaminya, yang memang jelek wajahnya. “Celaka, kalau anak kita menyerupaimu.” “Lebih celaka lagi, kalau ternyata tidak mirip denganku sama sekali.” Balas sang suami dengan marahnya. [al Adzkiyaa, Ibnul Jauzi, Hal.111] Artikel: www.kisahislam.net
Kebiasaan Imam Zuhri, kalau masuk rumah maka beliau meletakkan kitab-kitabnya bertumpukan di sekitarnya. Beliau menikmati kesibukannya tersebut sehingga lalai dari urusan dunia lainnya. Suatu saat istrinya pernah berkata padanya: “Demi Alloh, sungguh kitab-kitab ini lebih berat bagiku daripada tiga istri sainganku..!!!” (Wafayatul A’yan 4/177-178 oleh Ibnu Khollikan)
Dikabarkan bahwasanya pada suatu hari Al-Hajjaj ( Hajjaj bin Yusuf ) menyendiri (meninggalkan pasukannya), ia bertemu dengan seorang Badui, maka Al-Hajjaj berkata: “Wahai orang arab, bagaimana (pendapatmu) tentang Al-Hajjaj?” Badui menjawab: “Ia seorang yang dholim dan serampangan”. Hajjaj berkata: “Apakah engkau telah mengadukannya kepada (khalifah) Abdul Malik (bin Marwan)?”. Badui
Jarir meriwayatkan, ”Suatu hari Al A’masy duduk di pojok majelis. Sementara kami duduk di bagian pojok lain. Di Dekat tempat itu, ada air hujan menggenang membentuk sebuah danau kecil. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang mengenakan mantel hitam. Saat melihat al A’masy, ia memandang rendah, karena pakaian beliau yang sederhana. “Heh