Dari Anas diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang datang menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, bawalah aku berjalan-jalan.” Beliau berujar, “Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta.” Lelaki itu menukas, “Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?” “Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?” ujar beliau shallallahu
Zaid bin Aslam menceritakan dari ayahnya, bahwa Umar bin Al-Khattab pernah menugaskan Al-Mughirah bin Syu’bah untuk menjadi gubernur di Bahrain. Namun masyarakat di sana tidak menyukainya, tapi justru membencinya. Akhirnya ia dikucilkan. Mereka takut kalau Al-Mughirah akan kembali menjadi pemimpin mereka. Salah seorang dedengkot mereka berkata, ‘Kalau kalian menuruti perintahku,
Suatu ketika,seorang lelaki datang menjumpai Ali, lalu memujinya setinggi langit. Ali tahu, orang ini bukan menyukainya, namun hanya ingin menjilat dan mencari muka saja. Beliau berkata, “Sesungguhnya aku tidak sehebat apa yang engkau katakan, tapi pasti, aku lebih baik dari penilaian yang ada dalam hatimu.” Karena beliau tahu, bahwa orang
Ada riwayat menyebutkan, bahwa suatu hari Umar keluar di malam hari, mengelilingi kota Al-Madinah. Beliau melihat api unggun yang menyala di tengah kegelapan. Beliau pun berhenti, dan berkata lantang,’Wahai Ahli Dhau (pemilik cahaya)!’ Beliau tidak mau memanggil, ‘Hai Ahli Naar (pemilik api). Karena khawatir, dipahami sebagai penghuni Neraka. Karena kata
Hasan bin Ali menceritakan, ‘Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar keluar dari gua Tsaur, lepas dari pengejaran kaum musyrik Qurasiy, lalu meneruskan perjalanan di kota Al-Madinah, nyaris setiap orang yang mengenal Abu Bakar langsung bertanya, “Siapa yang bersamamu?” Abu Bakar menjawab, “Ia hanya seorang penunjuk jalan’ Dan
Diriwayatkan bahwa ada seorang pemuda berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, saya memiliki seorang tetangga yang tidak ada habis-habisnya mengangguku saja.’ “Lekas pergi, keluarkan seluruh barang-barang milikmu dan letakkan di pinggir jalan!” ujar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pergilah pemuda itu, sambil mengeluarkan seluruh barang miliknya ke
Suatu saat, istri Yazid hamil. Si istri berkata kepada suaminya, yang memang jelek wajahnya. “Celaka, kalau anak kita menyerupaimu.” “Lebih celaka lagi, kalau ternyata tidak mirip denganku sama sekali.” Balas sang suami dengan marahnya. [al Adzkiyaa, Ibnul Jauzi, Hal.111] Artikel: www.kisahislam.net
Kebiasaan Imam Zuhri, kalau masuk rumah maka beliau meletakkan kitab-kitabnya bertumpukan di sekitarnya. Beliau menikmati kesibukannya tersebut sehingga lalai dari urusan dunia lainnya. Suatu saat istrinya pernah berkata padanya: “Demi Alloh, sungguh kitab-kitab ini lebih berat bagiku daripada tiga istri sainganku..!!!” (Wafayatul A’yan 4/177-178 oleh Ibnu Khollikan)
Dikabarkan bahwasanya pada suatu hari Al-Hajjaj ( Hajjaj bin Yusuf ) menyendiri (meninggalkan pasukannya), ia bertemu dengan seorang Badui, maka Al-Hajjaj berkata: “Wahai orang arab, bagaimana (pendapatmu) tentang Al-Hajjaj?” Badui menjawab: “Ia seorang yang dholim dan serampangan”. Hajjaj berkata: “Apakah engkau telah mengadukannya kepada (khalifah) Abdul Malik (bin Marwan)?”. Badui
Jarir meriwayatkan, ”Suatu hari Al A’masy duduk di pojok majelis. Sementara kami duduk di bagian pojok lain. Di Dekat tempat itu, ada air hujan menggenang membentuk sebuah danau kecil. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang mengenakan mantel hitam. Saat melihat al A’masy, ia memandang rendah, karena pakaian beliau yang sederhana. “Heh
Kisah Pertama Dikisahkan bahwa Syaikh Muqbil rahimahullah di datangi beberapa pelajar ketika sedang menyampaikan pelajaran. Mereka meminta beliau agar berkenan meruqyah seorang laki-laki yang mengalami kesurupan, yaitu dengan membacakan ayat al-Qur’an kepadanya. Syaikh Muqbil menceritakan sendiri kisah itu: “Maka aku pergi bersama mereka, meskipun aku belum pernah meruqyah seorang pun
Canda Abu Hanifah Dengan Seorang Laki-Laki Suatu ketika, seorang laki-laki datang kepada Abu Hanifah rahimahullah dan bertanya kepadanya: “Jika aku menanggalkan pakaianku lalu menceburkan diri ke sungai untuk mandi, haruskah aku menghadap ke kiblat atau boleh ke arah lainnya?” Abu Hanifah menjawab:”Yang lebih utama adalah pusatkan pandanganmu kepada pakaianmu agar