Daulah Abbasiyyah

Masa Pertama Kekhalifahan ‘Abbasiyyah [Bag.03]

(6) Awal mula pembagian negara Islam dan pengaruh huru hara dari dalam:

Meskipun secara umum kalangan Abbasiyyun mampu menjaga keutuhan daulah islamiyyah pada masa ini, hanya saja dengan kegemilangan ini mereka menyaksikan awal mula pembagian negara Islam. Permulaan pembagian negara dimulai dari Andalusia ketika Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin ‘Abdul Malik berhasil menguasainya dan berhasil mendirikan Daulah Umawiyyah hanya beberapa tahun berselang sejak keruntuhannya di tangan kalangan Abbasiyyun. Abdurrahman memanfaatkan kesibukan yang dihadapi bani ‘Abbas dalam mengokohkan tiang-tiang Daulah Abbasiyyah. Ditambah lagi dengan jauhnya Andalusia dari pusat pemerintahan khalifah Abbasiyyah.

Pada tahun 144 H berdirilah negara Rustamiyyah yang tegak di atas madzhab Khawarij, yaitu di Maghrib Tengah (Aljazair). Sebagaimana pula mereka mendirikan negara lain, yaitu daulah Bani Midrar, pada tahun 167 H di Maghirb Ujung (Maroko). Kemudian berdirilah Daulah Idrisiyyah di Maghrib ujung melalui tangan salah seorang Alawiyyin, yaitu Idris bin Abdullah, pada tahun 172 H.

Pada tahun 184 H muncul Daulah Al-Aghlabiyyah di Afrika (Tunisia) melalui tangan Ibrahim bin Al-Aghlab ketika Harun Ar-Rasyid memberikan kepadanya dan kepada keturunannya kekuasaan. Tujuan Harun memberikan kekuasaan wilayah ini kepada mereka agar kerajaan-kerajaan yang berada di bawahnya akan mau bersama-sama dengannya menghadapi tiga kerajaan sebelumnya (Daulah Umawiyyah, Daulah Bani Midrar, dan Daulah Idrisiyyah-pen).

Pada masa pemerintahan Al-Makmun muncul kerajaan At-Thahiriyyah di Khurasan. Sedangkan Kerajaan Al-Aghlabiyyah yang loyal kepada Abbasiyyun, atau dengan pengungkapan yang lebih tepat bahwa Daulah At Thahiriyah dan Daulah Al-Aghlabiyyah adalah dua kerajaan Abbasiyyah yang masing-masingnya diberi otoritas tersendiri, setidaknya demikian, pada awal mula berdirinya.

Hinggapun empat kerajaan yang pertama, para penguasa mereka tidak berani menggunakan gelar khalifah. Pihak yang masuk wilayah Andalusia pada awal masuknya mengajak untuk mengikuti khalifah Abbasiyyah pada khutbahnya. Dan para pimpinan di Andalusia tidak ada yang memakai gelar khalifah kecuali pada masa pemerintahan Abdurrahman An-Nashir pada tahun 316 H setelah kekuasaan khalifah Abbasiyyah melemah.

Apapun sebab yang mengantarkan kepada keadaan seperti ini, hanya saja huru hara dan pergerakan-pergerakan yang dihadapi Daulah Abbasiyyah sejak berdirinya memiliki pengaruh yang sangat jelas dalam terwujudnya keadaan seperti ini. Huru hara dan pergerakan ini menguras segala kekuatan dan kemampuan yang kemudian memberikan kesempatan dan peluang bagi pihak-pihak pemberontak untuk menguasai sebagian wilayah. Mereka menggunakan kesempatan ketika pasukan Daulah Abbasiyyah sibuk menghadapi musuh yang lain.

Berbagai fitnah (huru hara) dan pengaruhnya pada Masa Abbasiyyah Pertama[1]:

Daulah Abbasiyyah menghadapi serangkaian fitnah yang banyak jumlahnya. Fitnah-fitnah ini pada satu kesempatan bertujuan memberontak dan meruntuhkan Daulah Abbasiyyah, sedangkan pada kesempatan yang lain untuk memerangi Islam itu sendiri. Oleh karena itu kita bisa menyusun fitnah yang ada sesuai dengan tujuan, target, dan faktor-faktor kemunculannya sebagai berikut: (Apakah anda ingat peran Abdullah bin Saba’ si Yahudi dalam memunculkan bid’ah Rafidhah?)

  1. Fitnah yang dilatar belakangi oleh sebagian kalangan Alawiyyin dari kalangan keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dari pihak-pihak yang meyakini bahwa Abbasiyyin tidak layak memegang khilafah. Mereka memandang kecakapan dan kemampuan untuk memerintah dan memikul tugas kekhalifahan ada pada diri mereka. Yaitu kemampuan untuk kembali kepada keadaan seperti pada masa Al-Khulafa’ Ar Rasyidin. Di antara kalangan Alawiyyin itu adalah Muhammad bin Abdillah – bergelar An-Nafsu Az-Zakiyyah (Jiwa yang bersih) dan saudaranya, yaitu Ibrahim, Idris bin Abdillah, pendiri Daulah Idrisiyyah, dan saudaranya, yaitu Yahya. Di belakang mereka, berdirilah kaum Rafidhah[2] – Syi’ah – yang mendapatkan sarana terbaik dalam nama Alu bait (keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sarana ini memberikan peluang untuk melawan Daulah Abbasiyyah, seakan kalangan Abbasiyyun bukan keturunan Nabi Muhammad
  2. Fitnah yang dilatarbelakangi oleh Ahlul ahwa (pengekor hawa nafsu) wal bid’ah yang mengganas dan terang-terangan. Sebagaimana keadaan fitnah Rafidhah, Khawarij, Mu’tazilah, dan selain mereka.
  3. Fitnah orang-orang zindiq dan para pembantunya dari kalangan musuh-musuh Islam, seperti fitnah (pergerakan) Rawandiyah, Kharamiyyah, dan Muqana’ah.
  4. Fitnah (sengketa) yang terjadi pada sebagian keluarga Abbasiyyah, sebagaimana pada sengketa antara Al-Manshur dan pamannya, Abdullah bin ‘Ali. Dan sengketa antara Al-Amin dan Al-Makmun.

Kalangan Abbasiyyun dalam menghadapi sejumlah fitnah di atas mampu mengambil sikap tegas dan berhasil menumpas mayoritas pengusungnya meski sebagian tokoh huru hara itu berhasil dalam menguasai sebagian wilayah dan kemudian mendirikan daulah-daulah kecil yang khusus mereka miliki sebagaimana yang telah lalu.

Buah dari keberadaan berbagai fitnah:

Mungkin hasil yang paling menonjol dan pengaruhnya yang paling penting adalah sebagai berikut:

  1. Terhentinya upaya perluasan wilayah Islam dan melemahnya gerakan jihad, meskipun ada beberapa upaya barn. Ini dikarenakan fitnah yang membuat umat islam mengarahkan kekuatannya untuk menghadapinya sehingga pada tahap berikutnya upaya perluasan wilayah dan penyebaran Islam pada daerah-daerah barn menjadi terhenti dan perhatian kepada hal ini melemah.
  2. Menambah banyak benih-benih perpecahan dan perselisihan antar kaum muslimin, untuk kemudian melemahkan dan menghilangkan kekuatannya.
  3. Munculnya berbagai pendapat, keyakinan, dan kelompok-kelompok sesat yang tidak berselang lama menjadi kekuatan besar di hadapan umat Islam. (Mereka adalah sebagian kelompok dan sekte-sekte baru yang menyimpang dimana umat Islam sekarang dibikin repot oleh keberadaan mereka)

Foot Note

[1] Disini tepat kiranya bagi kita untuk menjelaskan berbagai fitnah itu dan hasilnya serta dampaknya terhadap umat Islam

[2] Sebagian kalangan menyebut mereka dengan Syi’ah — padahal keliru. Mereka juga memakai nama Syi’ah untuk din mereka karena mereka menganggap kelompok ini adalah syi’ah (pembela) ‘Allah dan keluarganya. Yaitu yang mengikuti dan membela mereka, padahal mereka pada hakikatnya adalah ar-Rafidhah (pengingkar/penolak kebenaran) sebagaimana para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menamai mereka demikian. Yaitu karena mereka menolak perintah Rasulullah sebagaimana pula mereka menolak ijma’ shahabat, dalam memilih khalifah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan mereka juga menolak pihak-pihak yang mendoakan rahmat atas tiga Al Khulafa’ Ar-Rasyidin (Abu Bakar, `Umar, dan Utsman-pen) serta menolak pihak yang membenarkan kekhalifahan mereka. Bahkan kelompok Rafidhah ini mengkafirkan dan membuangnya. Sehingga orang-orang syi’ah (pembela dan penolong) ‘Ali dan keluarganya yang sesungguhnya adalah Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan orang-orang Rafidhah itu.

Sumber: Disalin dari buku “TARIKH DAULAH ABBASIYYAH”, Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia, Penerjemah: Fathul Mujib, Muroja’ah: Ustadz Abu Muhammad ‘Abdul Muthi, Lc Hafizhahullah, Penerbit Hikmah Ahlus Sunnah, Cet.Pertama.

Artikel: www.KisahIslam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia