Daulah Umawiyyah

Perkembangan Yang Didapatkan Pada Masa Bani Umayyah [Bag.Keempat]

4. Suasana Keilmuan

Hasil dari penerapan hukum-hukum Syari’at Islam adalah kehidupan manusia yang diliputi dengan keamanan, ketenangan, kemapanan, rasa senang, tentram, dan bahagia. Hal ini terwujud karena terwujudnya keadilan dan pemerataan. Buah dari ini semua adalah kaum muslimin mencurahkan perhatian mereka kepada ilmu dan pemakmuran, dan perkara lain yang menjadi kemajuan peradaban. Penaklukan negeri-negeri Islam adalah pondasi tersebarnya ilmu agama Islam di seluruh pelosok negeri yang berhasil ditaklukkan. Yang demikian ini dikarenakan upaya penaklukan wilayah itu diikuti oleh sejumlah besar shahabat dan tabi’iin yang mereka itulah ulama-ulama pewaris syari’at Islam dan orang-orang yang betul-betul faham permasalahan agamanya. Juga mereka adalah para penggodok permasalahan (mujtahid) dalam agama ini. Syari’at Islam menyebar sesuai dengan luasnya wilayah yang ditundukkan. Di sela-sela itu terdapat kemajuan yang memiliki derajat yang tinggi dan penting berupa berbagai hasil ijtihad dan penerapan syari’at.

Asas dari pergerakan – ketika itu – adalah agama yang telah digariskan dalam Al Qur’an dan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asas fiqih adalah apa yang termaktub dalam ayat-ayat Al Qur’an atau hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan amal ibadah dan praktek-praktek mu’amalah. Sedangkan sejarah berlandaskan pada sirah (perjalanan hidup) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan peperangan yang beliau lakukan. Pembahasan para ulama berkisar pada seputar permasalahan ini, baik tafsir ayat Al Qur’an atau periwayatan hadits yang bersanad [1] sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bila diperhatikan maka akan didapati bahwa ilmu-ilmu syari’at (ilmu agama-pent) pada masa sekarang tidaklah berbeda dan terlepas, berdiri sendiri (dari ilmu agama yang telah ada sejak awal Islam -pen), dan ilmu agama yang ada adalah fiqih, tafsir, hadits, dan sejarah. Pada awal masa Islam itu semua adalah ilmu yang satu, kemudian masing-masing bidang ilmu itu berdiri sendiri mengikuti perkembangan yang ada. Akan tetapi pemisahan ilmu yang terjadi ini, tidaklah pernah menjadi perhatian sampai – kurang lebih – masa pemerintahan Daulah Bani Umayyah. Dalam buku-buku biografi para ulama pada masa itu bisa diambil kesimpulan bahwa mereka dahulu mengilmui semua bidang ilmu. Serta bidang-bidang ilmu yang dikemudian hari menjadi bidang ilmu tersendiri dalam pandangan mereka bukanlah bidang ilmu yang terpisah. Sebagai contoh: Al Hasan Al Bashri rahimahullah beliau duduk mengajar ilmu, maka ilmu yang beliau bicarakan/ sampaikan adalah ilmu flqih, tafsir, hadits, dan sejarah. Juga mengeluarkan fatwa-fatwa dan hukum-hukum tanpa memerhatikan bahwa is berpindah dari satu bidang ilmu kepada bidang ilmu yang lain. Para pelajar (siswa-siswa mereka) betul-betul memperhatikannya dan tidak terpikirkan bahwa sang guru telah mengalihkan pembahasan kepada sejumlah bidang ilmu. Yang mereka pahami adalah mereka telah mengikuti sebuah pelajaran ilmu agama.
Pemisahan bidang ilmu belumlah terbedakan secara sempurna kecuali pada masa pemerintahan bani Al ‘Abbas. Muncullah pada masa ini para fuqahaa’ yang menulis sejumlah ilmu dalam pembahasan ilmu fiqih saja, begitu pula dengan para ahli tafsir, ahli hadits, dan ahli sejarah.

Faedah:
Bila kata ‘ilmu”dan “ulama” disebut secara mutlak (tidak dikaitkan dengan jenis ilmu tertentu dan disebutkan dalam literatur-literatur Islam-pen) maka harus dimaknai dengan ilmu syari’at yang merupakan ilmu yang hakiki dan pasti/yakin. Sedangkan ahlinya adalah ulama’ sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits berikut:

“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham (tidak mewariskan harta-pent), akan tetapi yang mereka wariskan hanyalah ilmu. “

Sedangkan ilmu lain bila disebut maka harus dikaitkan dengan ilmu itu, maka kita sebut: ilmu kedokteran, ilmu kimia, ilmu jiwa/ psikologi, dan seterusnya. Oleh karena itu, ma’had-ma’had (pesantren) yang ada dinamakan dengan Al Ma’aahid Al `Ilmiyyah karena mengajarkan ilmu yang paling mulia dan paling utama yaitu ilmu syari’at (agama).

Pemakmuran negeri
Ketika penaklukan Islam telah meluas pada masa ‘Umar bin Al Khaththab , banyak para ahli tata kota yang datang ke Madinah yang menjadi ibu kota negara. Muncullah bidang pemakmuran dan kalangan yang berharta dari kaum muslimin melakukan pembangunan gedung yang lebar dan unik, baik di Makkah maupun di Madinah.

Sedangkan kaum muslimin yang tinggal di Syam dan Persia mengikuti aliran pemakmuran (bangunan) yang tersendiri disesuaikan dengan tabiat mereka. Maka pemakmuran negeri pun berhasil dengan munculnya bentuk-bentuk tiang bangunan yang melengkung, tempat-tempat adzan, menara dan kubah. Hal ini melambangkan pohon kurma yang menjadi pohon kebanggaan orang-orang Arab. Mereka melakukan pembangunan kota sesuai dengan kondisi dan kebutuhan hidup, maka yang dibangun pertama kali di Madinah adalah masjid jami’, agar hati bergerak dan bertolak darinya dalam melakukan seluruh bidang kehidupan yang berbeda-beda. Di sekitar masjid dahulu dibangun pusat-pusat pelayanan yang dibutuhkan rakyat. Rumah-rumah dan bangunan-bangunan mengelilingi empat penjuru masjid. Juga di Madinah diadakan penataan berupa kompleks tempat tinggal bagi tiap-tiap suku yang nantinya akan menambah hubungan kekerabatan antara masing-masing anggota suku/kabilah.

Kota Bashrah dan Kufah dibangun di Iraq, kota Fusthath di bangun di Mesir pada masa pemerintahan ‘Umar bin al Khaththab radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana telah kita ketahui ada pembahasan yang lalu. [2]

Foot Note:

[1] Istilah sanad dalam ilmu hadits adalah urutan-urutan para perawi yang akan membawa kita kepada teks hadits Nabi . Dan sanad dalam agama Islam memiliki kedudukan yang sangat penting diantaranya untuk membedakan antara hadits yang shahih (bisa diamalkan) dengan hadits yang lemah atau bahkan yang dipalsukan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan kejahatan besar dalam agama ini. Sehingga akan diketahui mana yang benar-benar dari wahyu (ajaran agama Islam) dan mana yang merupakan susupan dari para perusak/musuh Islam baik kalangan zindiq, kafir, maupun sekte-sekte resat. Keterangan tentang istilah sanad dan fungsinya bisa pembaca dapatkan dalam buku-buku musthalah hadits —pen).

[2] Pembahasan tentang masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin al Khaththab radhiyallahu ‘anhu dalam buku ‘Tarikh Khulafa’…-pen).

Sumber: Disalin dari buku “TARIKH DAULAH UMAWIYYAH”, Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia, Penerjemah: Fathul Mujib, Muroja’ah: Ustadz Abu Muhammad ‘Abdul Muthi, Lc Hafizhahullah, Penerbit Hikmah Ahlus Sunnah, Cet.Kedua

Artikel: www.kisahislam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

=

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia