Daulah Umawiyyah

Perkembangan Yang Didapatkan Pada Masa Bani Umayyah [Bag.Ketiga]

Mahkamah agung (mahkamatul mazhaalim)

Mahkamah ini adalah mahkamah yang lebih tinggi tingkatannya dari pada mahkamah yang para qadhi memutuskan di dalamnya. Mahkamah ini menyerupai dengan diwan mazhalim (mahkamah agung-pen) yang ada pada masa sekarang. Pada mahkamah ini dipaparkan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kalangan orang-orang besar yang hakim biasa tidak mampu menyelesaikannya. Atau kalangan yang bersengketa melaporkan kepada mahkamah ini bila mereka meyakini bahwa qadhi yang ada tidak menghukumi mereka dengan adil.

Mahkamah ini ditangani oleh khalifah atau kepada negara bagian atau orang yang mewakili keduanya. ‘Abdul Malik bin Marwan adalah orang pertama dari kalangan Bani Umayyah yang duduk untuk menyimak kezhaliman-kezhaliman yang ada di tengah umat manusia. Behan menjadikan satu hari tertentu untuk tujuan ini. Mahkamah ini dipenuhi dengan kewibawaan sebagaimana pula putusan-putusannya yang cepat dilaksanakan.

3. Pengaturan harta
Harta yang masuk ke kas negara terdiri dari jizyah, kharaj, ghanimah, fai’, zakat, dan harta `usyur.

Jizyah adalah sejumlah harta tertentu yang harus dibayar oleh orang-orang kafir dan akan dihapus bila masuk Islam. Harta ini tidak dibebankan kecuali kepada orang-orang kafir dzimmi [1]. Jenis pemasukan ini tidak dipungut dari kaum musyrikin ‘Arab karena mereka tidak mendapat pilihan kecuali masuk Islam atau diperangi sebagaimana telah ditetapkan dalam tekstual ayat-ayat Al Qur’an. Allah ta’ala berfirman:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”(QS. At Taubah: 29)

Besarnya jizyah yang dipungut dari orang kaya adalah 48 dirham, sedangkan dari orang yang pertengahan kondisi ekonominya adalah 24 dirham, dan dari kalangan orang-orang miskin dan tidak memiliki pekerjaan adalah 12 dirham. Adapun orang-orang yang tidak mampu maka tidak dibebani.

Harta kharaj adalah sejumlah harta tertentu atau sesuatu yang bisa menggantikannya, dipungut dari hasil pertanian atau buah-buahan dari tanah pertanian orang-orang kafir setelah wilayahnya berhasil ditundukkan dan tanah pertanian itu masih diolah olehnya.

Ghanimah (rampasan perang) adalah semua harta yang diperoleh oleh kaum muslimin dari orang kafir setelah berhasil mengalahkan dan menundukkannya.

Sedangkan fai’ adalah harta yang didapat oleh kaum muslimin dari orang-orang kafir tanpa ada pertempuran.

Zakat adalah sejumlah harta tertentu dari harta atau hasil pertanian dan buah-buah yang diambil dari kaum muslimin bila jumlah harta perdagangan atau panenan itu mencapai nishab (jumlah minimal untuk diwajibkannya zakat) yang masing-masingnya berbeda [2].

Adapun `usyur adalah harta yang diambil dari pedagang kafir bila hendak memindahkan barang dagangannya dari satu negeri ke negeri lainnya. Jumlah harta yang dipungut adalah sepersepuluhnya dan diambil hanya sekali.

Pembelanjaan harta kas negara:

Harta-harta yang masuk ke dalam kas muslimin dari berbagai sumbernya itu diolah dan diatur oleh Sang Hakim pertama daulah Islam, yaitu Rasulullah dan para khalifah setelahnya. Mereka semua melakukan pembagian harta di antara kaum muslimin dengan metode yang digariskan oleh Allah ta’ala dalam Kitab-Nya yang muhkam (terang).

Sebagai contoh harta ghanimah yang dibagi berdasar petunjuk yang ada pada firman-Nya berikut:

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil [3].”  (QS.Al Anfaal:41).

Maka seperlima harta ghanimah dibagi sebagaimana yang tertera dalam ayat di atas sedangkan empat perlima sisanya adalah dibagi di antara pasukan yang ikut berperang, untuk pejalan kaki satu bagian dan untuk pasukan berkuda dua bagian.

Harta fai’ dibagi berdasarkan pembagian berikut: seperlima diberikan kepada kaum fakir dan miskin dan semua yang disebutkan dalam ayat di atas. Empat perlima sisanya dimasukkan dalam kas muslimin digabung dengan harta zakat, kharaj, dan ‘usyur. Harta yang terkumpul dalam kas digunakan untuk kebutuhan negara dan maslahat kaum muslimin.

Pada masa pemerintahan `Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu dibentuk bagian pengurus gaji kaum muslimin. Pembagian harta/gaji di antara kaum muslimin berdasar sikap adil dan seimbang disamping gaji yang tetap untuk para gubernur dan kepala bagian yang ada di seluruh wilayah negeri Islam.

Begitu pula dengan gaji para pegawai negeri yang mereka bekerja di kantor-kantor/ departemen-departemen yang berbeda-beda sebagaimana telah kami isyaratkan di atas. Kondisi masyarakat yang seperti ini masih terus berjalan pada masa pemerintahan Daulah Umawiyyah sedangkan para kepala negara bagian dan gubernur di seluruh wilayah Islam juga menjalankannya.

Sementara sistem pembagian harta yang berjalan di masa jahiliyyah hanya berlaku untuk para pemerintah/penguasa dan yang mengikuti mereka saja. sedangkan kelompok masyarakat yang lain bergelimangan dengan kemiskinan dan kelaparan. Orang-orang kaya senantiasa kaya sedangkan orang-orang fakir terus diliputi kemiskinan karena menggunakan sistem riba yang menjijikkan. Datanglah Islam mengharamkan riba dan membolehkan sistem pinjaman berjamin, zakat, shadaqah, dan sistem pengaturan kas negara/kaum muslimin. Sehingga rakyat berada dalam kehidupan yang bahagia dan mulia di bawah sistem perekonomian Islam.

Penentuan mata uang
Kaum muslimin sebelum masa pemerintahan ‘Abdul Malik bin Marwan menggunakan dinar/mata uang Bizantium dan dirham/mata uang Persia. Penggunaan mata uang asing ini menyakitkan perasaan mereka dalam keadaan mereka sebagai umat yang kuat dan telah berhasil menundukkan kerajaan Persia dan Romawi.

Ketika ‘Abdul Malik bin Marwan memegang tampuk kekuasaan beliau tidak bisa lagi menyaksikan keadaan di atas. Oleh karena itu, beliau mengeluarkan kebijakan untuk membuat mata uang yang bernuansa Arab dan Islam. Beliau mendirikan jawatan tersendiri di Damaskus untuk mengeluarkan mata uang itu dan memerintahkan penghentian penggunaan mata uang asing yang telah digunakan di seluruh penjuru wilayah negara Islam. Sebagai gantinya beliau meluncurkan mata uang baru yang terbuat dari emas dan perak dengan diberi ornamen ayat-ayat Al Qur’an.

Amalan yang agung ini memberikan pengaruh pada masyarakat muslim dengan menambah semakin dekatnya perasaan mereka dengan asal-usul, kekuatan, dan kepribadian mereka yang tidak pernah akan tnduk kecuali kepada Allah.

Bersambung insyaallah..

Sumber: Disalin dari buku “TARIKH DAULAH UMAWIYYAH”, Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia, Penerjemah: Fathul Mujib, Muroja’ah: Ustadz Abu Muhammad ‘Abdul Muthi, Lc Hafizhahullah, Penerbit Hikmah Ahlus Sunnah, Cet.Kedua, Hal.87-88

Artikel: www.kisahislam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

=Foot Note:

[1] Kafir dzimmi adalah orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab dan yang sama dengan mereka yang tinggal di negara Islam dalam keadaan terus di atas agama mereka.

[2] dan juga mencapai haul (putaran satu tahun) untuk harta, sedangkan untuk hasil panen maka diambil setiap panen bila mencapai nishabnya –pen).

[3] lbnussabil adalah orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanannya –pen).

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia